Saham Asia melemah setelah IMF dan Bank Dunia isyaratkan risiko resesi

Pasar saham Asia melemah pada awal perdagangan Jumat, karena investor bersiap untuk kenaikan suku bunga AS minggu depan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi global menyusul peringatan dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang merosot 0,3 persen pada Jumat pagi, setelah saham-saham AS mengakhiri sesi sebelumnya dengan kerugian ringan. Indeks MSCI jatuh 4,1 persen sejauh bulan ini.

Saham Australia, indeks ASX 200 turun 0,94 persen, sementara indeks saham Nikkei Jepang tergelincir 1,2 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong menyusut 1,1 persen dan indeks saham unggulan China CSI300 melemah 0,86 persen.

Sesi yang lebih lemah mengikuti penurunan luas di pasar ekuitas utama AS. Dow Jones Industrial Average turun 173,27 poin atau 0,56 persen menjadi 30.961,82 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 44,66 poin atau 1,13 persen menjadi 3.901,35 poin dan Komposit Nasdaq turun 167,32 poin atau 1,43 persen menjadi 11.552,36 poin

Prospek ekonomi global tetap suram dan beberapa negara diperkirakan akan tergelincir ke dalam resesi pada 2023, tetapi terlalu dini untuk mengatakan apakah akan ada resesi global yang meluas, kata IMF pada Kamis (15/9/2022).

IMF pada Juli merevisi turun pertumbuhan global menjadi 3,2 persen pada 2022 dan 2,9 persen pada 2023. Lembaga keuangan ini akan merilis prospek baru bulan depan.

Sebagai perbandingan, Bank Dunia mengatakan dunia bisa menuju resesi global pada 2023 karena bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi yang terus-menerus.

Tiga ekonomi terbesar dunia - Amerika Serikat, China, dan zona euro - telah melambat tajam, dan bahkan "pukulan moderat terhadap ekonomi global selama tahun depan dapat menyebabkan resesi", katanya.

Indermit Gill, kepala ekonom Bank Dunia, mengatakan pada Kamis (15/9/2022) bahwa dia khawatir tentang "stagflasi umum," periode pertumbuhan rendah dan inflasi tinggi, dalam ekonomi global, mencatat bank telah memangkas kembali perkiraan untuk sebagian besar negara.

Di perdagangan Asia, imbal hasil acuan pada obligasi pemerintah AS 10-tahun berada di 3,4509 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 3,459 persen pada Kamis (15/9/2022).

Imbal hasil dua tahun, yang naik bersama ekspektasi pedagang terhadap suku bunga dana Fed yang lebih tinggi, menyentuh 3,871 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 3,873 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun mencapai tertinggi baru 15 tahun setelah data penjualan ritel AS dan klaim pengangguran beragam, yang menurut para analis memperkuat kasus kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif.

Pasar saat ini sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin minggu depan, kata para ekonom.

"Ekuitas dan pasar sensitif risiko lainnya kesulitan karena menjadi jelas bahwa tekanan inflasi AS tertanam dengan baik dan risiko terhadap suku bunga dana fed berada di sisi atas," kata ekonom ANZ pada Jumat.

Dolar turun 0,4 persen terhadap yen menjadi 142,95. Euro naik 0,1 persen pada 1,0006 dolar, setelah kehilangan 0,51 persen dalam sebulan, sementara indeks dolar yang melacak greenback terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama lainnya naik pada 109,59.

Minyak mentah AS menguat 0,14 persen menjadi diperdagangkan di 85,22 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent menguat menjadi diperdagangkan di 90,98 dolar AS per barel. Sementara itu, emas sedikit lebih rendah dengan emas spot diperdagangkan pada 1.662,49 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham Asia lanjutkan penurunan global, petunjuk intervensi angkat yen

Baca juga: Saham Asia perpanjang naik, pasar optimis inflasi telah capai puncak