Saham Asia melonjak, ditopang harapan pembukaan kembali China

Saham-saham Asia melonjak pada perdagangan Jumat dan membukukan kenaikan mingguan pertama dalam sebulan, karena harapan baru bahwa China akan melonggarkan langkah-langkah ketat COVID mendorong reli pada aset-aset berisiko.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang terangkat 2,07 persen hari ini, dengan indeks saham unggulan China CSI 300 ditutup melonjak 3,27 persen dan Indeks Hang Seng Hong Kong melambung 5,30 persen. Indeks Hong Kong ditetapkan untuk kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari satu dekade.

Indeks S&P/ASX 200 Australi ditutup menguat 0,50 persen, Indeks KOSPI Korea Selatan terangkat 0,83 persen, namun Indeks Nikkei Jepang berakhir merosot 1,68 persen.

Saham berjangka Eropa mengindikasikan saham akan naik, dengan Eurostoxx 50 berjangka naik 0,67 persen, DAX Jerman berjangka naik 0,45 persen dan FTSE berjangka naik 0,63 persen.

Pasar terutama didorong oleh meningkatnya harapan bahwa China akan melonggarkan kebijakan nol-COVID dan rebound teknis, kata Ahli Strategi Sekuritas China Everbright Securities, Kenny Ng, di Hong Kong. Ia menambahkan bahwa rebound lebih mungkin merupakan jangka pendek karena fundamental tidak berubah.

Juga mengangkat sentimen adalah laporan dari Bloomberg yang mengatakan inspeksi awal AS atas laporan audit di perusahaan-perusahaan China yang tercatat di AS selesai lebih awal, meningkatkan harapan bahwa pejabat AS puas. Masalah audit telah menjadi salah satu dari sejumlah perkembangan yang telah meregangkan hubungan keuangan China-AS.

Baca juga: Saham China dibuka beragam, Indeks Shanghai turun tipis 0,03 persen

Saham Hong Kong dan China telah bergerak tajam sepanjang minggu ini. Desas-desus berdasarkan catatan yang belum diverifikasi yang beredar di media sosial pada Selasa (1/11/2022) bahwa China merencanakan pembukaan kembali dari pembatasan ketat COVID pada Maret. Seorang juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan pada saat itu dia tidak mengetahui situasinya.

Pembatasan anti-virus telah sangat membebani ekonomi China, memperburuk perlambatan global. Meskipun spekulasi berkembang, sebagian besar analis melihat tidak ada pelonggaran signifikan dalam langkah-langkah penahanan COVID setidaknya selama musim dingin atau lebih lama.

Saham global telah terguncang sejak komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell pada Rabu (2/11/2022) bahwa "sangat prematur" untuk berpikir tentang menghentikan kenaikan suku bunga, menutup harapan investor untuk perubahan arah jangka pendek.

"Sensitivitas The Fed untuk memperbaiki kondisi keuangan tampaknya cukup tinggi dan kami pikir kemungkinan akan tetap demikian sementara inflasi terlalu tinggi untuk disukai," kata analis Citi, mencatat bahwa itu bukan pengaturan yang baik untuk aset-aset berisiko.

Baca juga: Saham Asia jatuh, The Fed isyaratkan bunga lebih tinggi lebih lama

Investor akan mengawasi laporan penggajian AS pada Jumat di mana kejutan kenaikan apa pun kemungkinan akan memperkuat pandangan hawkish Fed. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan data penggajian nonpertanian telah meningkat sebesar 200.000 pekerjaan pada Oktober.

Di pasar mata uang, sterling naik 0,38 persen pada 1,1207 dolar, setelah meluncur 2,0 persen semalam ketika bank sentral Inggris menaikkan suku bunga paling besar sejak 1989, tetapi memperingatkan resesi panjang membayangi.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang, turun 0,292 persen, setelah melonjak 0,8 persen semalam dan menyentuh level tertinggi sekitar dua minggu di 113,15.

Di komoditas, harga minyak menutup kerugian awal. Minyak mentah AS baru-baru ini naik 2,28 persen menjadi diperdagangkan di 90,18 dolar AS per barel dan Brent berada di 96,62 dolar AS per barel, naik 2,06 persen.

Harga emas kembali menguat pada Jumat karena sedikit kemunduran dalam dolar membantu mengurangi beberapa tekanan. Emas di pasar spot naik 1,1 persen menjadi di perdagangkan di 1.646,89 dolar AS per ounce.

Baca juga: Harga minyak di Asia turun, pasar khawatir pengurangan permintaan