Saham Asia menguat karena kekhawatiran inflasi tinggi mulai memudar

·Bacaan 3 menit

Saham-saham Asia menguat pada perdagangan Jumat pagi, karena kejutan dari data inflasi AS yang sangat kuat mulai surut dengan investor sekarang memperkirakan bahwa kenaikan harga-harga terburuk bisa segera berakhir.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,7 persen mencapai level tertinggi dalam dua minggu, sementara Nikkei Jepang naik 1,1 persen dibantu oleh laporan laba perusahaan yang cerah.

Saham berjangka AS naik sekitar 0,3 persen setelah sesi beragam pada Kamis (11/10/2021) ketika S&P 500 berakhir 0,06 persen lebih tinggi sementara Nasdaq yang sarat teknologi naik 0,52 persen.

Harga saham dunia mencatat penurunan terbesar mereka dalam lebih dari sebulan pada Rabu (10/11/2021) menyusul data inflasi AS yang mengejutkan sangat panas.

Indeks harga konsumen (IHK) AS melonjak 6,2 persen tahun ke tahun pada Oktober, kenaikan terkuat sejak November 1990.

“Inflasi jelas merupakan risiko yang harus diperhatikan. Tetapi harga saham akan menghadapi kehancuran besar hanya jika Federal Reserve ternyata benar-benar salah dalam penilaiannya dan dipaksa untuk menaikkan suku bunga dengan cepat. Itu bukan tempat kita sekarang,” kata Norihiro Fujito, kepala strategi investasi di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

Sementara data inflasi menunjukkan bahwa gelombang lonjakan harga saat ini karena kendala pasokan kronis di seluruh dunia dapat memiliki daya tahan lebih dari yang diperkirakan banyak orang, banyak investor masih berpikir tekanan inflasi pada akhirnya akan mereda, bukannya menguat.

"Jika kita melewati musim belanja liburan akhir tahun, ketika permintaan akan memuncak, mungkin inflasi bisa mereda," kata Hirokazu Kabeya, kepala strategi global di Daiwa Securities.

"Penjualan liburan AS diperkirakan naik 8,5 persen hingga 10 persen tahun ini, dengan beberapa konsumen dikatakan mulai membeli lebih awal dari biasanya karena kekhawatiran tentang gangguan pasokan. Jika itu masalahnya, kita bisa melihat angka penjualan ritel yang cukup kuat minggu depan, yang akan positif untuk saham,” tambahnya.

Penjualan ritel AS untuk Oktober dijadwalkan akan dirilis Selasa depan (16/11/2021).

Imbal hasil obligasi pemerintah menguat, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik 1,9 basis poin menjadi 1,572 persen pada Jumat setelah libur pasar pada Kamis (11/10/2021).

Pasar uang telah memperkirakan dua kali kenaikan suku bunga tahun depan.

Di pasar mata uang, dolar bertahan kuat setelah lonjakan data inflasi AS pada Rabu (10/11/2021) memicu ekspektasi the Fed akan memperketat kebijakan moneter lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Indeks dolar terhadap enam mata uang lainnya naik ke level tertinggi 16 bulan di 95,264 karena euro tergelincir ke 1,1449 dolar, mendekati level terendah sejak Juli tahun lalu.

Yen melemah menjadi 114,26 per dolar, mendekati level terendah empat tahun bulan lalu, sementara mata uang komoditas seperti dolar Australia dan dolar Kanada juga melemah.

Dolar Australia mencapai level terendah lima minggu di 0,7286 dolar AS sementara dolar Kanada merosot ke 1,2588 dolar Kanada per dolar, terendah yang terakhir terlihat pada awal Oktober.

"Sangat menarik jika semakin banyak investor yang menjual mata uang komoditas dengan ekspektasi bahwa pengetatan the Fed akan menurunkan harga-harga komoditas," kata Makoto Noji, kepala strategi valas di SMBC Nikko Securities.

Harga minyak sedikit turun karena pasar bergulat dengan dolar AS yang lebih kuat bersama dengan kekhawatiran atas peningkatan inflasi AS, dan setelah OPEC memangkas perkiraan permintaan minyak 2021 karena harga yang tinggi.

Minyak mentah berjangka Brent turun 0,36 persen menjadi diperdagangkan di 82,56 dolar AS per barel, sementara minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,33 persen menjadi diperdagangkan di 81,32 dolar AS per barel.

Harga emas bertahan di dekat level tertinggi lima bulan Rabu (10/11/2021) karena investor mencari lindung nilai terhadap inflasi. Mereka terakhir berdiri di 1.862,00 dolar AS per ounce, dekat tertinggi Rabu (10/11/2021) di 1.868,50 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham Asia merosot, dolar bersinar saat kekhawatiran inflasi meningkat
Baca juga: Valuasi saham Asia turun mendekati level terendah 1,5 tahun
Baca juga: IHSG ditutup menguat signifikan, di tengah koreksi bursa saham Asia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel