Saham Asia merosot ketika data ekonomi mengguncang pasar, yen terjepit

Saham-saham Asia jatuh ke level terendah dua tahun pada akhir perdagangan Rabu, terseret angka perdagangan China yang mengecewakan, sementara dolar melonjak karena data AS memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve yang agresif.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun ke level terendah sejak pertengahan 2020 dan terakhir merosot 1,5 persen. Indeks Nikkei Jepang berakhir turun 0,7 persen, indeks KOSPI Korea anjlok 1,4 persen, sementara indeks CSI300 China naik tipis 0,1 persen.

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia kehilangan 1,4 persen, bahkan ketika data pada Rabu menunjukkan pertumbuhan ekonomi Australia meningkat pada kuartal kedua, menawarkan harapan bahwa aktivitas dapat mengatasi suku bunga yang lebih tinggi dan tekanan biaya hidup.

Indeks Hang Seng di Hong Kong jatuh 1,7 persen, menyeret indeks kembali ke posisinya pada Maret sebelum janji resmi dukungan ekonomi utama. Indeks Hang Seng terbebani oleh indeks teknologi utama, yang memperpanjang kerugian menjadi 2,4 persen karena peringatan peraturan baru.

Semalam, Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) memperingatkan bahwa firma akuntansi AS berisiko melanggar aturan AS jika mereka setuju untuk memimpin audit terhadap perusahaan China dan Hong Kong yang tercatat di New York yang ingin menghindari potensi larangan perdagangan.

Indeks saham Eropa berjangka terakhir turun 1,0 persen dan FTSE berjangka tergelincir 0,8 persen. S&P 500 berjangka turun 0,2 persen.

Indeks Wall Street jatuh pada Selasa (6/9/2022) dengan Nasdaq merosot untuk sesi ketujuh berturut-turut, rekor terpanjang sejak 2016.

Greenback terbang melewati 144 yen Jepang dan naik lebih dari 1,0 persen pada satu titik menjadi 144,38 yen, sementara yuan China memperpanjang penurunan, mendekati level 7 per dolar yang penting secara psikologis.

Pertumbuhan ekspor China melambat pada Agustus, karena lonjakan inflasi menekan permintaan luar negeri sementara penguncian COVID-19 melemahkan konsumsi lokal dan membatasi impor.

Penguatan dolar terjadi karena data jasa-jasa yang lebih kuat dari perkiraan semalam memperkuat kasus untuk kenaikan suku bunga, dengan pasar sekarang memperkirakan peluang 75 persen bahwa Fed menaikkan suku sebesar 75 basis poin bulan ini.

"Kabar baik untuk ekonomi riil kini telah menjadi berita buruk bagi pasar - baik untuk obligasi maupun pasar saham," kata Redmond Wong, ahli strategi pasar China di Saxo Capital Markets di Hong Kong.

"Investor yang kami ajak bicara ... telah kehilangan sedikit kepercayaan."

Pasar pendapatan tetap (fixed-income) juga melemah dan imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun menyentuh 3,365 persen di perdagangan Tokyo, level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Data semalam menunjukkan industri jasa-jasa AS meningkat pada Agustus untuk bulan kedua berturut-turut di tengah pertumbuhan pesanan dan lapangan kerja yang lebih kuat.

Yen Jepang sekarang telah kehilangan lebih dari 2,5 persen terhadap dolar selama dua sesi, membuat beberapa investor khawatir tentang prospek intervensi resmi untuk menahan penurunan.

Pejabat Jepang telah memperketat peringatan lisan mereka, dengan juru bicara pemerintah mengatakan Jepang ingin bertindak jika gerakan "cepat, sepihak" yang terlihat baru-baru ini berlanjut.

"Salah satu hal yang kami katakan kepada klien kami adalah untuk menutupi pinjaman yen mereka sekarang," kata Davis Hall, kepala pasar modal di Indosuez Wealth Management Asia.

"Jika mereka berbicara, intervensi (dolar/yen) bisa kembali turun dengan cepat."

Euro berada di atas level terendah dua dekade di 0,9893 dolar, dengan investor menunggu pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB).

Sterling tampak rapuh di 1,1479 dolar dengan para pedagang menantikan kesaksian di parlemen dari gubernur bank sentral Inggris.

Di pasar energi, harga minyak mentah tersandung pada perkiraan konsumsi yang lebih lemah. Minyak mentah AS turun 1,7 persen menjadi diperdagangkan di 85,4 dolar AS per barel dan Brent berada di 91,7 dolar AS, turun 1,3 persen.

Emas spot juga tergelincir 0,5 persen menjadi 1.693 dolar AS per ounce.

Baca juga: Saham Asia datar, investor berhati-hati tunggu aksi suku bunga

Baca juga: IHSG naik seiring penguatan bursa saham Asia