Saham Asia merosot, saat "lockdown" di China picu kekhawatiran global

Saham-saham Asia merosot dan dolar mencapai tertinggi dua dekade pada Senin sore, karena saham berjangka AS memperpanjang penurunan mereka di tengah kekhawatiran suku bunga, sementara penguncian yang diperketat di Shanghai memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global dan resesi.

"Serangkaian kenaikan suku bunga dan komunikasi hawkish datang dengan latar belakang anjloknya aktivitas China dan Eropa, rencana baru untuk larangan energi Rusia dan tekanan sisi pasokan yang berkelanjutan," analis Barclays memperingatkan.

"Ini menciptakan prospek suram dari inflasi yang berkelanjutan memaksa bank-bank sentral menaikkan suku bunga meskipun pertumbuhan melambat tajam."

Data perdagangan China untuk April tidak seburuk yang ditakuti, dengan ekspor naik 3,9 persen tahun ini dan impor datar. Namun, tidak ada penghentian dalam kebijakan nol-COVID China dengan Shanghai memperketat penguncian COVID di seluruh kota dengan 25 juta penduduk.

Spekulasi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin mungkin menyatakan perang terhadap Ukraina untuk memanggil pasukan cadangan selama pidatonya di perayaan "Hari Kemenangan" juga menekan sentimen pasar. Putin sejauh ini mencirikan tindakan Rusia di Ukraina sebagai "operasi militer khusus", bukan perang.

Indeks berjangka S&P 500 memimpin dengan penurunan 1,1 persen, sementara Nasdaq berjangka turun 1,0 persen. Imbal hasil obligasi 10-tahun AS naik tipis ke puncak baru di 3,15 persen.

Baca juga: Wall Street perpanjang kerugian, pasar khawatir Fed akan lebih agresif

EUROSTOXX 50 berjangka turun 1,5 persen dan FTSE berjangka melemah 0,7 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang jatuh 1,3 persen, dan Nikkei Jepang tergelincir 2,4 persen. Saham unggulan atau blue chips China turun 0,8 persen, sementara yuan menyentuh level terendah 18-bulan lainnya untuk diperdagangkan pada 6,7049 per dolar.

Investor juga tegang menjelang laporan harga konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu (11/5/2022) dimana hanya sedikit penurunan inflasi yang diperkirakan, dan tentu saja tidak ada yang mencegah Federal Reserve (Fed) dari kenaikan setidaknya 50 basis poin pada Juni.

Inflasi inti sebenarnya terlihat naik 0,4 persen pada April, meningkat dari 0,3 persen bulan sebelumnya, bahkan ketika laju tahunan sedikit menurun karena efek dasar.

"Di kuartal pertama, perubahan bulanan tahunan dalam IHK inti adalah 5,6 persen," catat analis di ANZ. "Itu terlalu tinggi untuk The Fed dan kami pikir FOMC tidak akan santai tentang inflasi sampai angka inti moderat menjadi sekitar 0,2 persen secara berkelanjutan.

Baca juga: BPS: Minyak goreng picu inflasi April capai 0,95 persen

"The Fed bukan satu-satunya bank sentral yang menghadapi tekanan inflasi. Makin bertambah, panduan dari ECB menjadi jauh lebih hawkish."

Dana The Fed berjangka memperkirakan suku bunga mencapai 1,75-2,0 persen pada Juli, dari saat ini 0,75-1,0 persen, dan naik hingga sekitar 3,0 persen pada akhir tahun.

Buku harian ini penuh dengan pembicara The Fed minggu ini, yang akan memberi mereka banyak kesempatan untuk mempertahankan paduan suara hawkish. Prospek suku bunga agresif mendorong dolar AS mencapai level tertinggi 20 tahun terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya menjadi 104,080.

"Selera risiko rapuh dan spread imbal hasil terus menunjukkan kenaikan lebih lanjut pada Indeks Dolar," kata Ahli Strategi Senior Valas Westpac, Sean Callow.

"Kami melihat permintaan berkelanjutan untuk dolar/yen pada penurunan, dengan 104 sudah dijajaki dan masih berpotensi untuk bergerak menuju 107 multi-minggu."

Baca juga: Dolar dekati tertinggi 20 tahun di tengah aksi jual pasar global

Euro tertahan di 1,0510 dolar dan hanya sedikit di atas posisi terendah baru-baru ini di 1,0481 dolar, sementara dolar sangat memegang kendali terhadap yen Jepang di 131,07.

Harga minyak naik turun setelah negara-negara Kelompok Tujuh (G7) berkomitmen pada Minggu (8/5/2022) untuk melarang atau menghapus impor minyak Rusia dari waktu ke waktu.

Setelah penurunan awal, Brent terakhir dikutip 12 sen lebih tinggi pada 112,51 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 4 sen menjadi 109,81 dolar AS per barel.

Emas stabil di 1.872 dolar AS per ounce, setelah berjuang untuk mendapatkan daya tarik sebagai tempat lindung nilai.

Baca juga: Harga emas naik 7,1 dolar, ditopang "greenback" melemah
Baca juga: Harga minyak naik 1,5 persen di tengah kekhawatiran pasokan yang ketat

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel