Saham Asia sebagian besar menguat, tetapi ekuitas China jatuh

·Bacaan 3 menit

Saham-saham Asia sebagian besar menguat pada perdagangan Kamis pagi, didukung penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS semalam, tetapi saham China daratan dan Hong Kong jatuh tertekan kekhawatiran tentang ekonomi China.

Penurunan 0,78 untuk Hong Kong (HSI) dan penurunan 0,36 persen untuk saham unggulan di China daratan (CSI300) menarik indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang 0,22 persen lebih rendah.

Indeks acuan saham di Australia dan Korea menguat, sedangkan Nikkei Jepang (N225) terangkat 0,81 persen. Sementara itu, indeks Nasdaq berjangka naik 0,6 persen dan indeks S&P500 berjangka naik 0,4 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun terakhir di 2,8455 persen, sedikit lebih tinggi di perdagangan pagi Asia, tetapi masih memar setelah jatuh semalam dari setinggi 2,981 persen di awal perdagangan pada Rabu (20/4/2022).

"Saya pikir kami masih menuju 3,0 persen untuk obligasi pemerintah 10 tahun, saya pikir itu sedikit profit taking," kata Rob Carnell, kepala penelitian untuk Asia Pasifik di ING.

Carnell mengatakan penurunan imbal hasil obligasi mungkin telah memberikan beberapa dukungan untuk ekuitas semalam, dengan S&P500 secara luas datar hari ini meskipun ada gambaran yang lebih buruk untuk sektor teknologi.

Dia menambahkan bahwa "ekuitas berjangka terlihat positif, dengan pasar Asia juga menunjukkan beberapa tanda selera risiko positif untuk jangka pendek."

Nasdaq yang berbasis teknologi jatuh 1,22 persen, terseret oleh Netflix yang terjun 35,1 persen setelah melaporkan penurunan mengejutkan dalam pelanggannya. Saham unggulan Dow menguat 0,71 persen.

China kembali menjadi fokus bagi investor, setelah mengejutkan pasar pada Rabu (20/4/2022) dengan mempertahankan suku bunga acuan pinjaman tidak berubah, meskipun pemerintah sering berjanji untuk mendukung ekonomi yang melambat yang terpukul wabah COVID-19 terburuk dalam dua tahun.

Namun, bank sentral China menetapkan kurs tengah untuk yuan pada level terlemah sejak November pada Rabu (20/4/2022), menjelang pengumuman suku bunga pinjaman. Bank sentral juga membuat yuan lebih rendah pada Kamis.

Penetapan yuan mencerminkan pengakuan bahwa segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik di China, dan mereka membutuhkan sedikit lebih banyak dukungan, tetapi mereka telah menunda melakukan itu dengan suku bunga. Mereka tidak ingin mendorong yuan jauh lebih lemah daripada yang mereka inginkan, tetapi mereka telah memutuskan untuk mengambil kembali beberapa kekuatan baru-baru ini," kata Carnell.

Imbal hasil yang lebih rendah mengirim dolar lebih rendah, dengan indeks dolar jatuh 0,65 persen pada Rabu (20/4/2022) karena euro dan sterling yang melemah berhasil sedikit pulih.

Indeks dolar terakhir berada di 100,44, turun dari puncak hampir dua tahun pada hari sebelumnya di 101,03.

Namun demikian, dolar naik 0,38 persen terhadap yen menjadi 128,3 pada awal perdagangan Kamis, karena pemulihan yen pada Rabu (20/4/2022) - kenaikan sesi pertama terhadap dolar dalam hampir dua minggu - terbukti berumur pendek.

Yen telah dirugikan oleh bank sentral Jepang yang mempertahankan imbal hasil tetap rendah sementara suku bunga naik di Amerika Serikat.

Sanjaya Panth, wakil direktur IMF Departemen Asia dan Pasifik mengatakan kepada Reuters pada Rabu (20/4/2022) malam bahwa tidak perlu bagi Jepang untuk mengubah arah.

"Penurunan yen baru-baru ini didorong oleh fundamental dan tidak akan menjadi alasan bagi Jepang untuk mengubah kebijakan ekonominya, termasuk suku bunga ultra-rendah bank sentral," kata Panth.

Minyak naik lagi di awal perdagangan pada Kamis setelah beberapa hari yang beragam dengan minyak mentah berjangka Brent naik 0,67 persen menjadi 107,48 dolar AS per barel, dan minyak mentah AS naik 0,54 persen.

Analis di ANZ mengatakan investor menimbang potensi gangguan pasokan terhadap prospek permintaan.

"Penurunan tingkat pertumbuhan global IMF karena krisis Ukraina mengaburkan prospek permintaan minyak... Di sisi lain, tekanan meningkat pada Eropa untuk menjatuhkan sanksi pada minyak Rusia."


Baca juga: Saham Asia goyah karena penguncian China, yen terus merosot vs dolar
Baca juga: Saham Hong Kong ditutup tergelincir, terseret sektor teknologi
Baca juga: Saham Asia sebagian besar negatif, dolar naik jelang data inflasi AS

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel