Saham Asia tergelincir, pasar lanjutkan aksi jual global

Saham-saham Asia tergelincir pada awal perdagangan Rabu, melanjutkan aksi jual global sementara dolar bertahan kuat dan kurva imbal hasil AS terbalik, karena laporan inflasi AS yang panas memupus harapan untuk puncak inflasi dan memicu taruhan bahwa suku bunga mungkin akan diangkat lebih tinggi dan lebih lama.

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan pada Selasa (13/9/2022), Indeks Harga Konsumen (IHK) utama naik 0,1 persen pada basis bulanan versus ekspektasi untuk penurunan 0,1 persen. Secara khusus, inflasi inti tanpa harga makanan dan energi yang bergejolak, naik dua kali lipat menjadi 0,6 persen.

Wall Street mengalami penurunan tertajam dalam dua tahun, mata uang safe-haven dolar mencatat lompatan terbesar sejak awal 2020, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun, yang naik bersama ekspektasi pedagang akan suku bunga dana Fed yang lebih tinggi, melonjak ke level tertinggi dalam 15 tahun.

Baca juga: Wall Street ditutup jatuh, Indeks Dow Jones anjlok 1.276,37 poin

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang merosot 1,3 persen di awal perdagangan Asia pada Rabu. Indeks ASX 200 Australia yang kaya sumber daya jatuh 2,8 persen, sementara Indeks Nikkei Jepang terpuruk 2,7 persen.

Sementara itu Indeks S&P 500 berjangka dan Nasdaq berjangka menguat 0,1 persen, setelah aksi jual besar-besaran. Dow Jones Industrial Average anjlok 3,94 persen, S&P 500 kehilangan 4,2 persen, dan Komposit Nasdaq jatuh 5,16 persen.

"Pasar telah bereaksi keras terhadap apa yang saya anggap sebagai kegagalan moderat di IHK AS. Saham dan obligasi berjatuhan," kata Kepala Investasi Mutual Limited, Scott Rundell.

"Masa depan telah stabil, jadi kita mungkin melihat dead-cat bounce (indeks mengalami ledakan pergerakan naik yang berlangsung singkat dalam tren yang sebagian besar menurun) malam ini."

Baca juga: Saham Asia perpanjang naik, pasar optimis inflasi telah capai puncak

Pasar keuangan sekarang telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga setidaknya 75 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan FOMC minggu depan, dengan probabilitas 33 persen untuk peningkatan ukuran super, persentase poin penuh ke target suku bunga dana Fed, menurut alat FedWatch CME.

"Dengan kenaikan 75 basis poin lainnya lebih dari perkiraan penuh pasar setelah laporan IHK, tidak ada alasan bagi Fed untuk tidak memberikan langkah besar lainnya," kata Kepala Ekonom AS NatWest Markets, Kevin Cummins.

"Kami sekarang memperkirakan FOMC untuk menindaklanjuti kenaikan besar 75 basis poin Juli dengan pergerakan 75 basis poin serupa pada November (naik dari seruan 25 basis poin kami sebelumnya) dan 50 basis poin lainnya pada Desember menjadi 4,25-4,50 persen."

Baca juga: Dolar menguat tajam, inflasi panas AS picu Fed naikkan bunga agresif

Di pasar mata uang, dolar AS bertahan terhadap sekeranjang mata uang utama di 109,9, setelah melonjak 1,4 persen semalam karena laporan inflasi AS yang sangat kuat.

Dolar melayang mendekati puncak 24 tahun terhadap yen Jepang yang sensitif terhadap suku bunga di 144,57 yen. Yen telah menjadi korban dari sikap moneter dovish dari bank sentral Jepang (BOJ), berbeda dengan kenaikan suku bunga di tempat lain.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun mencapai level tertinggi baru 15 tahun di 3,8040 persen, karena kesenjangan kurva dengan imbal hasil acuan sepuluh tahun melayang sekitar 34 basis poin, dibandingkan dengan 16 basis poin seminggu yang lalu.

Baca juga: Harga emas anjlok 23,2 dolar, dipicu dolar kuat pascainflasi AS tinggi

Inversi kurva imbal hasil biasanya diperlakukan sebagai peringatan resesi.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun naik menjadi 3,4448 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 3,423 persen pada Selasa (13/9/2022).

Harga minyak pulih setelah jatuh di sesi sebelumnya. Minyak mentah AS naik 0,4 persen menjadi diperdagangkan di 87,63 dolar AS per barel dan Brent diperdagangkan di 93,44 dolar AS per barel, naik 0,3 persen.

Baca juga: Harga minyak jatuh, setelah inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan
Baca juga: Dolar menguat tajam, inflasi panas AS picu Fed naikkan bunga agresif