Saham Asia tergelincir, reli dibantu kenaikan suku bunga Fed gagal

Pasar saham Asia tersandung dan dolar mendapatkan kembali pijakannya pada Kamis sore, karena investor terus mencerna dampak dari lonjakan inflasi dan prospek pengetatan kebijakan agresif dari bank-bank sentral global.

Saham berjangka di Eropa menunjukkan pembukaan yang sedikit lebih tinggi, dengan Euro Stoxx 50 berjangka pan-region dan DAX berjangka Jerman naik sekitar 0,4 persen sehari setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menjanjikan dukungan baru untuk meredam kejatuhan pasar obligasi.

FTSE berjangka turun 0,1 persen menjelang kenaikan suku bunga yang diharapkan oleh bank Sentral Inggris (BoE) yang bertujuan untuk mengatasi inflasi.

Di Asia, penurunan saham terjadi setelah Federal Reserve AS pada Rabu menyetujui kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994, mengangkat target suku bunga dana federal sebesar 75 basis poin ke kisaran antara 1,5 persen dan 1,75 persen. Pejabat Fed juga memperkirakan kenaikan stabil lebih lanjut tahun ini, menargetkan suku bunga dana federal sebesar 3,4 persen pada akhir tahun.

Sementara investor ekuitas awalnya mendukung langkah yang diperkirakan secara luas, namun meningkatnya kegelisahan selama hari perdagangan menggerogoti keuntungan.

Proyeksi Fed menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melambat ke tingkat di bawah tren 1,7 persen, dan pembuat kebijakan memperkirakan akan memangkas suku bunga pada 2024.

"Hal yang terus saya ingatkan pada diri sendiri dan orang lain adalah bahwa mereka buruk dalam memperkirakan, tidak tahu ke mana arah ekonomi," kata Rob Carnell, kepala penelitian dan kepala ekonom untuk Asia-Pasifik di ING.

"Jadi kita benar-benar tidak boleh merasa nyaman sama sekali dalam perkiraan ini bahwa pertumbuhan PDB akan menjadi 1,7 persen tahun ini dan tahun depan ... ketika ekonomi mereka sampai baru-baru ini berjalan seperti kereta api."

Data pada Jumat (10/6/2022) menunjukkan kenaikan inflasi AS yang lebih tajam dari perkiraan pada Mei, di samping survei University of Michigan yang menunjukkan ekspektasi inflasi lima tahun konsumen melonjak tajam ke level tertinggi sejak Juni 2008.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari terbaru Fed, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa survei itu "cukup menarik".

"(Ekspektasi inflasi) mulai terlihat terlalu tinggi. Itu menurut saya adalah salah satu alasan mengapa Powell ingin melakukan 75 ... Dan saya pikir mereka juga akan melakukannya lagi pada Juli," kata Joseph Capurso, kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia.

"Mereka harus menurunkan inflasi. Mereka begitu jauh di belakang kurva, itu tidak lucu."

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,46 persen pada perdagangan sore, menghapus kenaikan awal sesi perdagangan. Indeks saham ASX 200 Australia ditutup tergelincir 0,15 persen dan indeks saham unggulan China CSI300 berakhir melemah 0,66 persen.

Indeks Hang Seng Hong Kong berakhir jatuh 2,57 persen, indeks KOSPI Seoul ditutup terdongkrak 0,16 persen, serta indeks Nikkei di Tokyo memangkas kenaikan awal 2,38 persen menjadi berakhir 0,40 persen lebih tinggi.

Setelah mundur dari puncak 20 tahun setelah pertemuan Fed, dolar mendapatkan kembali pijakannya di sesi Asia.

"Itu tampak seperti kasus klasik 'beli rumor, jual fakta' karena dolar dijual dan Wall Street menguat," kata Matt Simpson, analis pasar senior di CityIndex. "(Tapi) mengingat lintasan untuk kenaikan Fed ... kami sangat meragukan posisi teratas untuk dolar AS."

Indeks dolar global, yang melacak greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, terakhir naik 0,27 persen pada 105,08, dengan dolar melonjak ke 134,34 terhadap yen. Sementara itu, euro turun tipis 0,15 persen menjadi 1,0427 dolar.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga berubah lebih rendah, mencerminkan meningkatnya penghindaran risiko, dengan imbal hasil 10-tahun turun menjadi 3,3068 persen dari penutupan 3,3950 persen pada Rabu (15/6/2022). Imbal hasil dua tahun turun menjadi 3,2525 persen dari penutupan 3,2790 persen kemarin.

Di pasar komoditas, harga minyak pulih dari penurunan tajam karena investor fokus pada pasokan yang terbatas. Minyak mentah Brent terakhir naik 0,27 persen menjadi 118,83 dolar AS per barel dan minyak mentah AS bertambah 0,49 persen menjadi 115,88 dolar AS.

Emas sedikit lebih rendah karena dolar menguat. Emas spot terakhir diperdagangkan pada 1.831,26 dolar AS per ounce, turun 0,12 persen hari ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel