Saham IPO Teknologi di Bursa Asia Tertekan pada 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa penawaran umum perdana initial public offering (IPO) perusahaan Asia-Pasifik pada 2021 berbalik arah dari penguatan sejak debut menjadi tertekan.

Posisi teratas ditempati perusahaan video singkat China dan saingan TikTok yaitu Kuaishou yang meroket lebih dari dua kali lipat dari harga perdananya pada Februari. Menurut Morningstar, kenaikan itu merupakan satu-satunya daftar Asia dari lima IPO terbesar secara global berdasarkan ukuran kesepakatan sepanjang 2021.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 29 Desember 2021, di Hong Kong, saham justru anjlok 77 persen dari tempat pertama kali perusahaan melakukan penawaran perdana. Demikian dilansir dari CNBC, ditulis Minggu (2/1/2022).

Saham China lain yang ikut anjlok adalah JD Logistics yang berhasil mengumpulkan sekurangnya USD 3 miliar atau setara Rp 42,7 triliun (asumsi kurs Rp 14.248 per dolar AS). Saham JD Logistics turun 36 persen di bawah harga IPO-nya pada, 29 Desember 2021.

Saham yang merosot ini juga terpengaruh sejumlah masalah termasuk tindakan keras pemerintah Beijing terhadap sektor teknologi China. Yang mana menyebabkan perusahaan konglomerat seperti Alibaba dan Meituan menerima denda bernominal besar.

Selain itu, imbal hasil Treasury AS kian meningkat usai the Federal Reserve AS (The Fed) atau bank sentral AS memberi sinyal segera menormalkan kembali kebijakan moneter.

Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menghindari saham teknologi. Lantaran saham-saham akan menjadi korban paling buruk akibat kenaikan suku bunga. Hal itu mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk mendanai pertumbuhan dan membuat arus kas masa depan menjadi kurang berharga.

Varian COVID-19 omicron menyebar cepat pun ikut membebani sentimen investor dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan investor jadi kurang berselera menanamkan modalnya. Dengan pertanyaan yang tersisa mengenai potensi dampak ekonomi jenis baru.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Merambat secara Global

Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Seorang pria melihat layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Kinerja buruk perusahaan pasca penawaran umum perdana tidak hanya terjadi di kawasan Asia-Pasifik saja. James Thorne dan Jordan rubio dari Pitchbook menyoroti debut pasar blockbuster 2021 di tempat lain yang juga melemah usai go public.

Salah satunya adalah perusahaan ride-hailing China Didi Global. Awal bulan ini, Didi mengumumkan rencana delisting (penghapusan saham) dari New York Stock Exchange, belum genap enam bulan setelah IPO. Perusahaan juga mengungkapkan upaya melantai di bursa Hong Kong di tengah tekanan politik dari Beijing.

Entitas yang terdaftar di negara Paman Sam juga kehilangan nilai yang cukup signifikan. Tepatnya Robinhood dan Coupang yang menjadi IPO terbesar di AS.

“Kinerja yang lesu menyebabkan pendinginan di pasar IPO sehingga mengakibatkan beberapa emiten baru menunda atau mengurangi rencana IPO. Apabila semua terlaksana, 2021 dapat menjadi titik tertinggi pasar IPO yang mungkin tidak dapat tertandingi untuk tahun-tahun mendatang,” tutur Thorne dan Rubio.

Bukan Indikasi Ancaman Besar

Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)
Orang-orang berjalan melewati layar monitor yang menunjukkan indeks bursa saham Nikkei 225 Jepang dan lainnya di sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo, Senin (10/2/2020). Pasar saham Asia turun pada Senin setelah China melaporkan kenaikan dalam kasus wabah virus corona. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Profesor Keuangan di New York University Stern School of Business Aswath Damodaran mengatakan, saham yang merosot pasca-IPO karena beberapa investor membeli “delusi pasar besar.”

Investor semacam itu tidak melakukan persiapan yang matang. Seperti memeriksa model bisnis perusahaan-perusahaan tempatnya memasukkan modal. Selain itu meneliti laporan keuangan perusahaan untuk memastikan kondisi riil perusahaan.

"Ini adalah tanda yang sedikit meresahkan, tetapi dengan sendirinya saya tidak berpikir itu (tren kemerosotan pasca IPO) adalah tanda bahaya. Saya pikir itu lebih sebagai tanda dari jenis perusahaan yang investor lihat go public, banyak dengan pendapatan kecil, kerugian besar dan banyak potensi,” tambah Damodaran.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel