Saham Jepang jatuh ke terendah 1 bulan di tengah kekhawatiran pasokan

·Bacaan 2 menit

Saham-saham Jepang jatuh ke posisi terendah satu bulan pada akhir perdagangan Jumat, di tengah meningkatnya kekhawatiran berbagai gangguan rantai pasokan di seluruh dunia dapat membuat inflasi meningkat untuk periode yang lebih lama.

Selain itu, yang juga membebani sentimen investor adalah penundaan pemungutan suara pada rancangan undang-undang pengeluaran utama pemerintah Biden, karena para pemimpin Demokrat berupaya keras untuk mengumpulkan dukungan yang cukup.

Indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) anjlok 2,31 persen atau 681,59 poin menjadi ditutup di 28.771,07 poin. Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas merosot 2,16 persen atau 43,85 poin menjadi berakhir di 1.986,31 poin.

Kedua indeks menandai penurunan terbesar mereka dalam tiga bulan mencapai level terendah sejak awal September.

“Kekhawatiran bahwa RUU infrastruktur AS mungkin tidak disahkan Kongres tampaknya menjadi penyebab utama hari ini. Tapi itu tidak seperti penjualan panik,” kata Takeo Kamai, kepala layanan pelaksana di CLSA.

Nikkei bertahan di atas titik dukungan utama di sekitar 28.600-28.650, di mana rata-rata pergerakan 50-hari, 100-hari dan 200-hari bertemu. Untuk minggu ini, Nikkei kehilangan 4,89 persen, kerugian terbesar sejak pasar jatuh setelah wabah virus corona pada awal 2020.

“Investor mulai khawatir inflasi tidak bersifat sementara mengingat berbagai kendala pasokan. Itu berarti skenario ekonomi mereka membutuhkan tinjauan besar,” kata seorang ahli strategi di broker Jepang yang menolak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Tekanan harga-harga meningkat secara global karena kekurangan staf, kurangnya kapal, melonjaknya harga gas di Eropa dan kekurangan listrik di China.

Saham Nitori anjlok 6,0 persen setelah operator jaringan toko furnitur itu gagal mencapai perkiraan garis atas pasar dalam hasil kuartalannya. Sumitomo Chemical juga merosot 5,3 persen setelah estimasi laba untuk kuartal yang berakhir September jauh dari ekspektasi pasar.

Produsen wafer silikon Sumco kehilangan 4,4 persen setelah meluncurkan rencana menjual 128 miliar yen (1,14 miliar dolar AS) saham baru untuk mendanai peningkatan produksi wafer silikon.

Saham-saham yang ditambahkan ke indeks Nikkei 225 pada Kamis (30/9/2021) turun tajam sebagai reaksi terhadap kenaikan sebelum pencantuman dalam indeks.

Saham Nintendo merosot 8,7 persen, terbesar sejak awal 2019, sementara Murata Manufacturing terpangkas 5,7 persen dan Keyence, perusahaan terbesar kedua di Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 3,0 persen.

Melawan tren, Toshiba terangkat 3,1 persen setelah aktivis hedge fund AS Elliott Management mengatakan memiliki saham "signifikan" di konglomerat industri Jepang itu.

Rakuten naik 3,2 persen setelah perusahaan e-commerce itu mengatakan sedang bersiap untuk mencatatkan unit perbankan daringnya. Gree melambung 16,2 persen mencapai batas tertinggi setelah perusahaan game itu mengumumkan pembelian kembali saham besar-besaran.

Pasar tidak menunjukkan reaksi terhadap data sentimen bisnis bank sentral Jepang.

Baca juga: Saham Jepang merosot ke terendah 1 bulan tertekan kekhawatiran pasokan
Baca juga: Saham Jepang rugi 4 hari beruntun, Nikkei ditutup merosot 0,31 persen
Baca juga: Saham Jepang berakhir turun tajam, indeks Nikkei anjlok 2,12 persen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel