Saham Perusahaan Raksasa Teknologi Lesu, Wall Street Merosot

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street merosot pada perdagangan saham, Selasa, 18 Mei 2021 seiring saham teknologi berbalik arah melemah. Sementara itu, data perumahan turun pada April 2021 sehingga menambah sentimen di wall street.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks saham Dow Jones melemah 267,13 poin atau 0,8 persen ke posisi 34.060,66. Indeks saham S&P 500 susut 0,9 persen menjadi 4.127,83.

Indeks saham Nasdaq tergelincir 0,6 persen ke posisi 13.303,64. Saham Apple, Amazon dan Facebook dan Alphabet susut lebih dari satu persen dalam satu hari.

Data perumahan anjlok 9,5 persen menjadi 1,569 juta unit pada April 2021. Ekonom memperkirakan tingkat data perumahan menjadi 1,7 juta pada April 2021.

Investor juga mencerna laporan kinerja keuangan dari perusahaan ritel raksasa. Saham Walmart naik lebih dari dua persen. Macy’s melaporkan pertumbuhan laba. Akan tetapi, saham Macy’s turun 0,4 persen.

Home Depot melaporkan kinerja laba per saham USD 3,86, angka ini lebih tinggi dari perkiraan analis USD 3,08. Penjualan bersih melonjak 32,7 persen, melebihi yang diharapkan. Namun, saham Home Depot turun satu persen.

Investor Khawatir Lonjakan Inflasi

Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)
Ekspresi pialang Michael Gallucci saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street jatuh ke zona bearish setelah indeks Dow Jones turun 20,3% dari level tertingginya bulan lalu. (AP Photo/Richard Drew)

Saham-saham yang berkaitan dengna pertumbuhan ekonomi tetap di bawah tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Hal ini seiring investor khawatir mengenai lonjakan inflasi akan mengakar atau mereda seperti yang diharapkan the Federal Reserve.

Inflasi di atas target the Federal Reserve dua persen untuk periode selanjutnya dapat mendorong bank sentral memperketat kebijkan moneter dan mengurangi saham yang mengungguli pasar saat suku bunga rendah.

"Pertumbuhan mungkin mencapai puncaknya, tetapi ini belum menjadi pemecah pasar yang bullish. Data tidak dapat bertahan pada level puncak selamanya, dan penarik dari stimulus fiskal kemungkinan mereda.

"Hal ini dapat mempersulit lingkungan bagi investor, sejarah menunjukkan ketika ekonomi mulai melambat, imbal hasil cenderung melambat,” ujar Ekonom New York Life Investments, Lauren Goodwin, dikutip dari CNBC, Rabu (19/5/2021).

Investor menyalahkan kecemasan itu atas kinerja indeks S&P 500 yang suram pada pekan lalu sehingga membuat indeks pasar turun empat persen di tengah kekhawatiran inflasi yang meningkat.

Indeks saham acuan pun akhirnya menguat, dan mengakhir pekan lalu turun 1,4 persen. Tiga indeks saham acuan utama mencatat minggu terburuk sejak 26 Februari 2021.

Di sisi lain, risalah the Federal Reserve akan dapat memberikan petunjuk mengenai pemikiran pembuat kebijakan mengenai inflasi.

Di tempat lain, musim laporan laba kuartal pertama ditutup dengan lebih dari 90 perusahaan S&P 500 telah melaporkan hasil kinerja. Sejauh ini, 86 persen perusahaan S&P 500 telah melaporkan earning per share (EPS) yang positif yang akan menandai persentase hasil laba positif yang tertinggi sejak 2008.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini