Saham Prancis berakhir negatif, indeks CAC 40 merosot 0,83 persen

Saham-saham Prancis berakhir di wilayah negatif pada perdagangan Senin waktu setempat (29/8/2022), membukukan kerugian untuk hari ketiga berturut-turut, dengan indeks acuan CAC 40 di Bursa Efek Paris merosot 0,83 persen atau 51,98 poin menjadi menetap di 6.222.28 poin.

Indeks CAC 40 tergelincir 1,68 persen atau 107,30 poin menjadi 6.274,26 poin Jumat (26/8/2022), setelah terkikis 0,08 persen atau 5,20 poin menjadi 6.381,56 poin pada Kamis (25/8/2022), dan menguat 0,39 persen atau 24,74 poin menjadi 6.386,76 poin pada Rabu (24/8/2022).

Dari 40 saham perusahaan besar pilihan yang menjadi komponen indeks CAC 40, sebanyak 10 saham berhasil membukukan keuntungan, sementara 29 saham mengalami kerugian dan satu saham diperdagangkan tidak berubah.

Engie SA, sebuah perusahaan layanan rangkaian lengkap listrik, gas dan energi terkait serta layanan lingkungan di seluruh dunia menderita kerugian terbesar (top loser) di antara saham-saham unggulan atau blue chips, dengan harga sahamnya anjlok 4,33 persen.

Diikuti oleh saham perusahaan penyedia layanan manajemen hubungan pelanggan Prancis Teleperformance SE jatuh 2,73 persen serta perusahaan teknologi yang menyediakan layanan aplikasi perangkat lunak yang dirancang untuk mendukung perusahaan klien Dassault Systemes SE melemah 2,38 persen.

Sementara itu, ArcelorMittal SA, sebuah perusahaan manufaktur baja multinasional Prancis terangkat 2,87 persen, menjadi pencetak keuntungan terbesar (top gainer) dari saham-saham unggulan.

Disusul oleh saham perusahaan industri otomotif yang mendesain, memproduksi, memasarkan dan memperbaiki mobil penumpang dan kendaraan komersial ringan Renault SA meningkat 2,12 persen, serta perusahaan operator telekomunikasi untuk pelanggan perumahan, profesional, dan bisnis besar Prancis Orange SA menguat 1,74 persen.

Baca juga: IHSG turun tipis dipengaruhi komentar The Fed dan pemberian bansos
Baca juga: Rupiah awal pekan melemah tertekan pesan "hawkish" The Fed
Baca juga: Saham Asia jatuh, dolar dan imbal hasil obligasi naik tajam