Saham Teknologi dan Properti Lesu di Bursa Asia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar saham di bursa Asia melemah pada Selasa (5/10/2021) sebagai respons aksi jual di bursa Amerika Serikat (AS). Bahkan saham teknologi dan properti merosot. Ditambah sentimen gagal bayar dua perusahaan pengembang China.

Mengutip laman CNBC, indeks Nikkei turun 2,19 persen menjadi 27.822,12. Indeks Topix melemah 1,33 persen ke posisi 1.947,75. Pada awal sesi perdagangan saham, indeks Nikkei sempat turun lebih dari tiga persen.

Indeks Korea Selatan Kospi tergelincir 1,89 persen ke posisi 2.962,17. Indeks Hang Seng menguat sekitar 0,5 persen. Indeks Australia susut 0,41 persen ke posisi 7.248,40. Bank sentral Australia memutuskan pertahankan suku bunga acuan. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tergelincir 0,28 persen.

Saham Fast Retailing (FRCOF) tergelincir 6,6 persen. Saham Z Holdings milik Yahoo Jepang merosot 5,8 persen. Di Hong Kong, saham properti dan teknologi menjadi sektor saham yang berkinerja terburuk. Berbanding terbalik dengan saham energi yang melonjak 0,3 persen. Kenaikan ini mengimbangi kerugian di sektor lainnya. Demikian dilansir dari CNN, Selasa pekan ini.

Kinerja buruk indeks Hang Seng Tech menyebabkan penurunan saham sebesar 0,2 persen. Di samping itu, saham Alibaba turun 1,6 persen ke level terendah sejak tercatat di Hong Kong dua tahun lalu.

Saham teknologi juga merosot tajam di Hong Kong bersamaan dengan perdagangan saham Evergrande yang disetop di bursa. Tindakan ini sebagai bentuk kekhawatiran penularan krisis utang berpotensi menyebar ke seluruh sektor properti China.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Selain Evergrande, Dua Perusahaan China Gagal Bayar

Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)
Seorang pria berdiri didepan indikator saham elektronik sebuah perusahaan sekuritas di Tokyo (29/8). Ketegangan politik yang terjadi karena Korut meluncurkan rudalnya mempengaruhi pasar saham Asia. (AP Photo/Shizuo Kambayashi)

Sementara itu, pengembang real estate China lainnya, Fantasia Holdings membuat pernyataan pada Senin malam, 4 Oktober 2021. Isinya Fantasia Holdings akan melewatkan pembayaran obligasi yang jatuh tempo. Saham diberhentikan dari perdagangan pada Selasa (5/10/2021), demikian mengutip laman CNN.

Country Garden Holdings, pengembang terbesar kedua di China berdasarkan penjualan ternyata susut sebesar 2,6 persen. Disusul penurunan pada unit manajemen propertinya, Country Garden Services yang jatuh 2,8 persen secara terpisah.

Harga saham yang turun dampak dari pengumuman Fantasis Holdings yang umumkan telah gagal akukan pembayaran kembali utang perusahaan. Lebih parahnya sangat mungkin Fantasia benar-benar gagal bayar.

Kekhawatiran seputar krisis utang Evergrande menyebabkan lemahnya saham Hong Kong pada Senin, 4 Oktober 2021. Raksasa properti China kemudian ditangguhkna dari perdagangaan seraya menunggu pengumuman transaksi besar perusahaan. Beberapa minggu terakhir, Evergrande telah lewatkan setidaknya dua pembayaran bunga obligasi.

Wall Street Tertekan

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)
(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Pada Senin malam, 4 Oktober 2021 pasar AS ditutup melemah tajam. Lantaran para investor “meraba” inflasi dan memperhatikan debt celling (batas utang tertinggi).

Saham teknologi paling menderita akibat tekanan saham kali ini. Nasdaq Composite (COMP) turun paling banyak di antara indeks utama dengan penuruan 2,1 persen.

Saham Facebook (FB) kehilangan hampir 5 persen imbas pemadaman di seluruh platformnya selama 6 jam. Layanan Facebook kembali normal pada Selasa pagi, 5 Oktober 2021.

Reporter: Ayesha Puri

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel