Sainz Bergabung dengan Ferrari karena Tawarkan Kesetaraan

Jacobo Vega
·Bacaan 3 menit

Kedua pembalap, Sainz dan Charles Leclerc, dibekali mobil dengan spesifikasi serupa sehingga mereka harus bersaing secara sehat untuk membuktikan kapasitas.

Dalam acara produsen bir Estrella Galicia, pembalap Spanyol tersebut mengungkapkan antusiasme menjadi pilot tim Kuda Jingkrak.

“Saya tahu itu. Dalam kontrak saya tidak disebutkan tentang pembalap kedua. Saya tahu kalau pergi ke Ferrari dengan syarat yang sama dengan rekan setim dan saya di sana untuk berkompetisi serta memberi yang terbaik bagi tim masing-masing,” ujarnya.

“Di McLaren, kami harus mengutamakan tim daripada pembalap. Ketika saya turun ke lintasan, saya mencoba mengalahkan setiap orang, baik itu rekan setim saya atau tidak.”

Sainz sudah mengambil langkah pertama sebagai pembalap Ferrari dengan menyambangi markas tim, Maranello, Jumat (18/12/2020).

Dia berkenalan dengan para engineer dan situasi dalam garasi. Pria 26 tahun itu memahami apa artinya berada dalam tim bersejarah seperti Ferrari.

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari<span class="copyright">Ferrari </span>
Carlos Sainz, Scuderia FerrariFerrari

Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari<span class="copyright">Ferrari </span>
Carlos Sainz, Scuderia FerrariFerrari

Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari<span class="copyright">Ferrari </span>
Carlos Sainz, Scuderia FerrariFerrari

Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari

Carlos Sainz, Scuderia Ferrari<span class="copyright">Ferrari </span>
Carlos Sainz, Scuderia FerrariFerrari

Ferrari

Charles Leclerc, Mattia Binotto y Carlos Sainz, en Ferrari

Charles Leclerc, Mattia Binotto y Carlos Sainz, en Ferrari<span class="copyright">Ferrari </span>
Charles Leclerc, Mattia Binotto y Carlos Sainz, en FerrariFerrari

Ferrari

Musim 2020, skuad pabrikan Italia tersebut mengalami masalah pelik yang membuat para pembalapnya tertahan di level tengah ke bawah. Putra pereli Carlos Sainz itu berjanji akan membantu mereka ke depannya.

“Pada Jumat, saya mengenal pabrik dan beberapa departemen tim. Tapi saya belum bisa mengetahui secara detail kenapa hal seperti itu terjadi pada 2020. Pada Januari dan Februari, ketika saya menghabiskan banyak waktu di Italia, saya akan melihat secara detail dan mulai melakukan riset, serta mengulurkan tangan untuk membalikkan sesuatu secepatnya dan mulai bergerak ke atas.

“Saya kira di tengah tahun, Ferrari mampu mengubah tren. Mereka menutup musim lebih baik daripada saat mulai, jadi saya harap mereka terus lanjut mengubah tren dan saya membantu mereka,” ucapnya.

“Ketika Anda mengimpikan Ferrari, Anda mengimpikan kemenangan. Kata ‘Ferrari’ dan kata ‘menang’ sangat erat. Impian saya selalu menang bersama Ferrari, bukan berarti itu tidak sulit. Jalan masih panjang dan ada banyak pengembanagn yang perlu dilakukan agar dalam posisi menang. Itu tujuan terakhir dan kami akan melakukannya sekarang.”

Dari Lando Norris yang ceria dan lucu, Sainz kini harus berteman akrab dengan Leclerc yang cenderung serius menanggapi segala sesuatu. Baginya, itu tidak masalah karena sudah mengenal pembalap asal Monako.

Baca Juga:

Hari Pertama Carlos Sainz bersama Scuderia Ferrari Andreas Seidl: Sainz Bisa Tampil Kuat di Ferrari

“Dengan Charles, kapan pun saya bisa bicara dengannya di sirkuit, pada Minggu sebelum balapan. Saya mencoba menyelidiki bagaimana dia pada Sabtu, meski waktu bicara sedikit. Saya berteman baik dengan Charles sejak naik ke F1 dan kami cukup akrab,” ia mengungkapkan.

“Dia lebih serius daripada Lando, tapi itu tidak sulit. Saya juga lebi serius dan tenang dibanding Lando. Saya kira dengan Charles, kami akan punya waktu yang menyenangkan.”

Saat ini, Sainz dikontrak hingga 2022, sedangkan Leclerc diikat dua tahun lebih lama darinya. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Ferrari tengah menyiapkan kursi untuk Mick Schumacher, yang kini ‘disekolahkan’ ke Haas.

Binotto sendiri pernah mengutarakan wacana mendatangkan Schumacher untuk musim 2023.

Pembalap yang mengoleksi 372 poin dalam kariernya di F1 itu mengaku tak pernah mendengar kabar itu. Ia pun tidak peduli karena fokusnya meraih prestasi setinggi mungkin.

“Bagus kalau Binotto mengatakan bahwa tujuannya bekerja sama lebih dari dua tahun. Saya datang ke Ferrari tanpa tanggal kedaluwarsa, melakukan yang terbaik dan menciptakan siklus,” tuturnya.

“Saya belum mendengar soal itu dan tidak mencemaskan itu. Di F1, mustahil memprediksi apa yang terjadi dua tahun dan itu bukan saya. Pertanyaan ini lebih baik untuk Mattia. Lebih baik saya bicara di trek.”

Akhirnya, penghuni ranking keenam klasemen musim lalu memastikan tidak akan mengubah caranya menjadi pembalap dari tim dengan penghargaan terbanyak dalam sejarah. Dia yakin ini adalah rahasia kesuksesannya.

“Menjadi pembalap Ferrari punya keutamaan, tapi target saya tetap sama, bagi saya itu adalah kunci karena jadi bagian dari kemajuan saya. Tidak ada yang menakutkan saya karena tidak bisa sama,” Sainz menandaskan.

“Menjadi pembalap Ferrari, saya tidak perlu mengubah kepribadian dan tujuan saya akan tetap sama, untuk melanjutkan melakukan hal-hal seperti sebelumnya. Saya kira tidak ada sesuatu yang mencegah saya untuk melanjutkan menjadi diri sendiri.”