Sakai, Potret Suku Pedalaman Melayu yang Berubah

TEMPO.CO, Pekanbaru - Penutupan Pekan Olahraga Nasional XVIII Riau 2012 yang akan berlangsung di Stadion Utama Riau, Panam, Pekanbaru, Kamis, 20 September 2012 akan mengusung pesan kearifan lokal suku asli masyarakat Melayu-Riau, seperti Sakai dan Talang Mamak.

Representasi peradaban mereka akan dikemas dalam pertunjukan bertajuk "Dalam Kasih Sayang Air".

»Akan kami tampilkan penari sekaligus penutur lisan masyarakat Sakai yang menyatu dengan pergelaran, sehingga dapat dinikmati secara umum sebagai pertunjukan seni,” kata pengarah program pergelaran budaya tersebut, Al Azhar.

Menurut Al Azhar, banyak pesan moral aktual dari budaya suku asli itu. Tari olang-olang, sebagai contoh, menunjukkan pesan bahwa seburuk-buruknya bumi, ia masih memiliki kebaikan sehingga dirindukan oleh alam kahyangan atau langit.

»Jadi, harapan untuk memperbaiki diri dari berbagai kesalahan masih terbuka lebar dan harus dimanfaatkan,” ujar budayawan yang juga Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau itu.

Suku Sakai merupakan salah satu suku asli di Riau, selain Suku Akit, Suku Talang Mamak, dan Suku Laut. Suku-suku ini merupakan komunitas asli suku pedalaman Riau yang tergolong dalam ras Veddoid, dengan ciri-ciri kulit berwarna cokelat kehitaman dan rambut keriting berombak. Tinggi tubuh laki-lakinya sekitar 155 sentimeter dan perempuan 145 sentimeter.

Suku Sakai diyakini sebagai keturunan Pagaruyung, Minangkabau, yang melakukan migrasi ke tepi Sungai Gasib, di hulu Sungai Rokan, sejak berabad-abad silam. »Mereka merupakan identifikasi perpindahan manusia dari Asia ke Nusantara pada 3.000 tahun sebelum Masehi,” kata budayawan Riau, Taufik Ikram Jamil.

Populasi Suku Sakai tersebar mulai Riau hingga Jambi. Namun, yang paling banyak terdapat di Kabupaten Bengkalis. Kementerian Sosial mencatat, jumlah orang Sakai di Bengkalis sebanyak 4.995 jiwa.

Suku Sakai hidup di hutan belantara. Di sanalah mereka mencari nafkah dari hasil berburu, menangkap ikan, dan hasil hutan. Suku ini masih melestarikan berbagai upacara adat, seperti upacara kematian, kelahiran, dan pernikahan. Mereka juga memiliki ritual khusus untuk berbagai peristiwa penting dalam hidup mereka, seperti untuk menanam padi, menyiang, sorang sirih, dan tolak bala. Untuk berkomunikasi, mereka menggunakan bahasa Melayu bercampur Minangkabau dan Mandailing.

Sebagian orang Sakai menganut animisme, yang mempercayai keberadaan »antu” atau makhluk gaib yang hidup layaknya manusia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak penduduk Sakai yang memeluk agama Islam. Meski begitu, peralihan kepercayaan itu tak memupus kebiasaan mereka mempraktekkan ajaran nenek moyang mereka yang masih diselimuti unsur animisme, dinamisne, magis, dan makhluk halus.

Interaksi dengan manusia luar membuat pekerjaan mereka kini menjadi beragam, seperti guru, pegawai negeri, dan pedagang. Keinginan untuk berubah yang dipadu dengan program beasiswa dari pemerintah setempat membuat beberapa anak-anak suku Sakai menempuh pendidikan, bahkan hingga perguruan tinggi.

Salah seorang anak asli suku Sakai, Muhammad Candra, mewakili Provinsi Riau sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus lalu.

ALI ANWAR

 

Berita Lainnya:

Dari Hulu ke Hilir, Festival Kopi Indonesia

Hotel Giat Gandeng Agen Wisata

Berburu Hantu di 3 Kota

Menunggu Sawahlunto Menjadi Kota Warisan Dunia

Keunggulan Braga Festival Tahun Ini

Jawa Timur Gelar Pesta Rakyat Sebulan Penuh

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.