Saksi Akui CCTV di Kompleks Polri Duren Tiga Tersambar Petir, tapi DVR Tak Terganggu

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) memperlihatkan recorder DVR CCTV di pos security kompleks perumahan Polri, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan. DVR CCTV itu dihilangkan oleh terdakwa mantan Karopaminal Divpropam Polri Brigjen Hendra Kurniawan atas perintah Ferdy Sambo.

DVR CCTV itu ditampilkan dalam sidang lanjutan perkara dugaan obstruction of justice pembunuhan Brigadir J dengan terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (27/10). Agenda sidang mendengarkan kesaksian anggota tim Dirtipidsiber Polri Kompol Aditya Cahya.

"Dari tiga DVR itu yang mana dari DVR pos security Duren Tiga. Kita lakukan wawancara dari Pak Marzuki, dan memeriksa dusnya kita cocok serial numbernya," ujar Aditya saat sidang.

Terlihat DVR CCTV yang diperlihatkan JPU atas perintah majelis hakim sebanyak tiga. Namun hanya satu DVR yang tersimpan di pos Security untuk menyimpan rekaman CCTV yang mengarah ke rumah dinas Ferdy Sambo.

DVR yang diperlihatkan bermerek G-LENZ dengan Model GFDS-87508M yang memiliki serial number 977042771322 berwarna hitam lengkap bersama dusnya berwarna hitam dan masih terbungkus plastik.

Ketika ditampilkan JPU, Aditya mengatakan, DVR itulah yang tidak ada file rekaman di dalamnya atau tidak dikenali sebagai file system (unllocated space) hingga membuat tidak berfungsinya elektronik saat diperiksa Puslabfor Polri.

"Itu kita bisa identifikasi bahwa ini benar DVR yang ada di komplek yang sudah ada di Puslabfor. Sepengetahuan kami ini (DVR lainnya) dus DVR yang baru ini," jelas Aditya.

Setelah menjabarkan perihal DVR di pos satpam yang diambil sebagai barang bukti di persidangan, JPU mempertanyakan dari hasil penelusuran Aditya bersama tim Dirtipidsiber Polri. Aditya mengaku mendapatkan konfirmasi atas DVR itu tersambar petir.

"Karena kena petir terus rekamannya hilang, kan sudah ada opini di masyarakat bahwa penanganan kasus pembunuhan Brigadir J ini tidak benar, karena itu kami lakukan penyidikan," ujar dia.

"Ternyata memang benar pak tersambar petir tapi itu kameranya (CCTV) bukan DVR-nya, DVR-nya tidak terganggu," imbuh Aditya.

Penelusuran informasi soal DVR yang tersambar petir itu pun diamini Aditya, berasal dari keterangan yang disampaikan mantan Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto saat jumpa pers terhadap kasus baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E.

Sidang Hari Ini

Diketahui dalam sidang hari ini, JPU menghadirkan tujuh saksi yang hadir yakni, Aditya Cahya (Anggota Polri); Ipda Tomser Kristianata (Anggota Polri); M Munafri Bahtiar (Anggota Polri); Arie Cahya Nugraha alias Acay (Anggota Polri).

Sedangkan saksi lainnya yaitu Abdul Zapar (Security Komplek Duren Tiga); Marzuki (Security Komplek Duren Tiga); Supriyadi (buruh harian lepas pekerja CCRV).

"pemeriksaan saksi kita lakukan secara terpisah," ujar Hakim Ketua Ahmad Suhel.

Dalam sidang hari ini, Aditya Cahya yang diperiksa sebagai saksi pertama untuk memberikan keterangan guna membuktikan dakwaan obstruction of justice kasus pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat.

Dimana kedua terdakwa didakwa karena diduga terlibat dalam menutupi dan menjalankan rencana skenario palsu baku tembak yang ditengarai dengan adanya pelecehan seksual yang telah dirancang Ferdy Sambo.

"Dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan tindak apapun yang berakibat terganggunya sistem elektronik dan atau mengakibatkan sistem elektronik menjadi tidak bekerja sebagaimana mestinya," demikian dakwaan JPU.

Atas tindakan itu, Hendra dan Agus didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 dan/atau Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 221 ayat (1) ke 2 dan 233 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dan/atau Pasal 56 KUHP. [gil]