Saksi Ungkap Kejahatan Bengis Militer Australia di Afghanistan

Ezra Sihite, ABC Indonesia
·Bacaan 4 menit

Seorang saksi dalam penyelidikan dugaan kejahatan perang yang dilakukan pasukan khusus SAS Angkatan Bersenjata Australia (ADF) membenarkan sebuah laporan terbaru yang diumumkan Kamis kemarin.

Penyelidikan kejahatan perang menemukan bahwa 39 warga Afghanistan tampaknya dibunuh tanda alasan yang sah oleh tentara Australia Tenaga medis Dusty Miller mengaku menyaksikan seorang warga sipil yang cedera dibawa untuk dibunuh. Miller menyebut adanya budaya "dog-eat-dog" atau persaingan untuk tampil lebih kejam di tubuh pasukan khusus SAS.

Laporan penyelidikan yang dilakukan Inspektur Jenderal ADF memuat rincian tentang dugaan pembunuhan warga sipil Afghanistan dan tahanan yang dilakukan tentara Australia.

Saksi bernama Dusty Miller bertugas sebagai tenaga medis di SAS telah dimintai keterangan atas apa yang dia saksikan selama bertugas di Afghanistan.

"Semuanya benar. Memang terjadi. Memang faktual. Begitu yang terjadi di sana. Begitu yang saya saksikan beberapa kali," katanya kepada ABC.

Penyelidikan Inspektur Jenderal ADF yang telah berlangsung lama ini menemukan "informasi yang dapat dipercaya" jika 39 warga Afghanistan dibunuh dalam insiden yang melibatkan tentara SAS, selain ada perlakuan kejam terhadap dua orang lainnya.

Laporan Irjen ADF merekomendasikan agar 19 tentara diselidiki lebih lanjut oleh polisi, dari 25 tentara yang berpotensi terlibat dalam insiden tersebut.

Anda bisa membaca laporan selengkapnya dari penyelidikan dalam dokumen ini.

Seorang warga dibawa pergi saat dalam perawatan

Miller merupakan salah satu dari prajurit yang berbicara terbuka mengenai dugaan pembunuhan tanpa alasan sah yang mereka saksikan di Afghanistan.

Medic Dusty Miller
Medic Dusty Miller

Tenaga medis Dusty Miller mengungkapkan apa yang disaksikannya di Afghanistan.

Supplied

"Sudah sekitar delapan tahun mengetahui sesuatu. Mendengarkan Panglima Angkatan Bersenjata secara terbuka mengkonfirmasi tuduhan itu, benar-benar merupakan pemulihan," katanya.

Petugas medis pasukan khusus ini sebelumnya telah berbicara secara terbuka tentang insiden traumatis yang melibatkan warga sipil Afghanistan bernama Haji Sardar Khan.

Dalam penyerangan di desa Sarkhume pada Maret 2012, Miller merawat luka-luka yang dialami Haji Sardar setelah ditembak di bagian kakinya.

Miller mengatakan melihat sendiri Haji Sardar yang masih terluka dibawa pergi oleh seorang tentara senior SAS.

Haji Sardar kemudian ditemukan tewas setelah diduga dipukuli oleh tentara tersebut.

Penyelidikan awal ADF menemukan bahwa Haji Sardar memiliki granat ketika dia ditembak, tapi hal ini telah dibantah oleh keluarganya dan penyelidikan Komnas HAM Afghanistan.

ABC mewawancarai anak Haji Sardar, Hazratullah, yang mengatakan bahwa dia menemukan mayat ayahnya.

"Ada bekas sepatu lars di jantungnya. Anda bisa melihat bekas sepatu lars di sekujur tubuhnya. Di lehernya juga," katanya kepada ABC.

A dead man with someone holding a phone close to him.
A dead man with someone holding a phone close to him.

Keluarga merekam jasad Haji Sardar Khan yang terbunuh dalam serangan yang dilakukan pasukan khusus Australia di Afghanistan.

Supplied

Laporan Inspektur Jenderal juga menemukan bahwa beberapa anggota pasukan khusus melakukan "pelemparan", termasuk senjata seperti granat dan pistol untuk dipasang di badan korban demi "menyembunyikan pembunuhan sengaja tanpa alasan yang sah."

Your browser does not support the audio element. A shameful day for Australia's special forces ( PM )

Miller mengatakan tidak tepat bila ia merinci insiden yang disaksikannya di Afghanistan dalam wawancaranya dengan ABC kemarin. Namun ia menegaskan penanaman senjata ke korban terjadi selama penyerangan.

"Senapan serbu AK digunakan secara teratur dan juga granat tangan. Granat tangan tua yang saya lihat ditanam di tubuh korban dalam banyak kesempatan," ujarnya.

Dia mengatakan tentara yang bertanggung jawab atas dugaan pembunuhan warga sipil dan tahanan harus dipenjara.

"Mereka melakukan tindakan yang salah," katanya.

"Dan saya sangat percaya mereka melakukannya dengan anggapan tidak akan pernah bertanggung jawab atas kejahatan tersebut."

"Saya kira mereka semua mengira tak tersentuh hukum, di atas hukum."

A man standing in the desert with a village on the horizon.
A man standing in the desert with a village on the horizon.

Warga desa Sarkhume, Abdul Latif, menunjukkan lokasi pendaratan helikopter tentara Australia saat melakukan serangan ke desa yang terletak 18 km dari Tarin Kot.

ABC News: Bilal Sarwary

"Mengakhiri karir militer"

Laporan penyelidikan memeriksa masalah tradisi mendalam di tubuh SAS, termasuk "budaya jagoan" di antara beberapa perwira.

Pic Teaser: Afghanistan iview stories Secrets of War

Secrets of War
Secrets of War

Laporan ini mengatakan bahwa tanggung jawab juga harus dipikul oleh mereka yang, "dalam kesetiaan yang disalahpahami kepada Resimen mereka, atau rekan mereka, belum siap untuk melarang tindakan kriminal atau, bahkan hingga hari ini, menolak menerima meski ada bukti yang tak terbantahkan, atau berusaha memberi pembenara dan mitigasi yang tidak jelas dan tidak meyakinkan".

Miller mengatakan mayoritas dari mereka yang bekerja dengannya adalah "orang terhormat", tapi ia mengakui bahwa ada masalah tradisi, "saling memakan" sebagai wujud persaingan paling kejam.

"Kasusnya seperti meminum Kool-Aid. Semua orang tahu apa yang terjadi. Itu kejadian sehari-hari. Anda menganggapnya normal," katanya.

"Anda harus mengikuti apa yang terjadi, karena alternatifnya adalah bunuh diri profesional dan Anda akan dikucilkan."

PIC TEASER: Mark Willacy - reckoning to begin on Afghan conduct The reckoning for alleged crimes is about to begin

Time for reckoning is now
Time for reckoning is now

Laporan penyelidikan juga menyebutkan para komandan di tingkat pasukan, skuadron dan Satgas Operasi Khusus harus memikul tanggung jawab, namun komandan patroli memaafkan perilaku tersebut.

Miller mengatakan para komandan di tingkat skuadron pasti sudah tahu apa yang terjadi.

"Saya sangat sulit untuk percaya bahwa tingkat Komandan Skuadron tidak tahu apa yang terjadi, mengingat mereka harus berdiskusi dengan [komandan patroli] usai melakukan setiap misi," katanya.

"Saya merasa hampir tidak mungkin bila mereka tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Tidak mungkin."

Dia menyebutkan trauma bagi para saksi dugaan kejahatan perang di Afghanistan benar-benar menghancurkannya.

"Hal ini telah mengakhiri karier militer saya, padahal merupakan karir militer yang bagus," katanya.

"Beberapa teman dekat saya di resimen juga sangat terpengaruh dengan hal tersebut."

Ia mengatakan pengalaman menyaksikan dugaan pembunuhan tanpa alasan yang sah ini telah menghancurkan banyak anggota pasukan lainnya.

"Kita telah melampaui batas yang sangat buruk. Kita melampauinya selama beberapa tahun. Kita harus membayarnya sekarang."

Artikel ini diterbitkan dari laporan ABC News.