Saksi Ungkap ‘Kesaktian’ Matheus Joko Tangani Proyek Kemensos

Raden Jihad Akbar, Edwin Firdaus
·Bacaan 2 menit

VIVA – Direktur PT Hamonangan Sude, Rajif Bachtiar Amin menguak ihwal ‘kesaktian’ terdakwa Harry Van Sidabukke terkait kasus suap bansos. Selain Harry, Matheus Joko disebut-sebut juga punya kesaktian yang sebanding.

Rajif menuturkan bahwa anak buahnya sempat mengeluh kesulitan untuk mendapat tanda tangan dari Matheus Joko Santoso (MJS). Saat itu MJS menjabat sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) pengadaan bantuan sosial di Kementerian Sosial (Kemensos).

Namun, tanda tangan itu akan dengan mudahnya didapatkan saat terdakwa Harry Van Sidabukke yang memintanya.

Baca juga: 14 Penerbangan di Bandara El Tari Kupang Terdampak Badai di NTT

"Pernah tidak stafnya saksi bernama Siska mengeluh tidak pernah mendapat tanda tangan Pak Joko, kecuali Harry yang meminta?" tanya terdakwa Harry kepada saksi Rajif saat menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin, 5 April 2021.

Rajif mengakui, tanda tangan surat penunjukan penyedia barang dan jasa (SPPBJ) itu sangat sulit didapatkan. Tetapi jika Harry Van yang meminta tanda tangan ke Matheus Joko Santoso, tidak lah sulit.

"Pernah, saya lupa pastinya. Kayaknya lebih dari satu kali," kata Rajif.

Rajif kembali menegaskan, tanda tangan surat pengadaan bansos di Kemensos sangat mudah didapatkan. Jika Harry yang memintanya langsung ke Matheus Joko Santoso.

"Jadi betul harus saya ya yang mintakan?" Tanya Harry.

"Iya betul," jawab Rajif.

Pada perkaranya, Direktur Utama PT Tigapilar Argo Utama Ardian Iskandar Maddanatja dan konsultan hukum Harry Van Sidabukke didakwa menyuap mantan Menteri (Mensos) Juliari Peter Batubara dengan total Rp3,2 miliar.

Suap itu diduga untuk memuluskan penunjukan perusahaan penyedia Bansos di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) tahun anggaran 2020.

Harry diduga memberikan suap senilai Rp1,28 miliar kepada Juliari. Sedangkan Ardian diduga memberi suap sebesar Rp1,95 miliar.

Pemberian suap dari dua terdakwa yakni Harry Van Sidabuke dan Ardian Iskandar Maddanatja dilakukan secara bertahap. Uang suap itu diduga mengalir ke dua PPK bansos Kemensos untuk periode Oktober-Desember 2020, Adi Wahyono dan Matheus Joko Santoso. Uang diberikan untuk pengadaan Bansos periode berbeda.

Harry diduga memberi uang untuk memuluskan mendapatkan paket pengadaan Bansos sebanyak sebanyak 1.519.256 paket. Pengadaan paket itu dilakukan melalui PT Pertani dan melalui PT Mandala Hamonangan Sude.

Sedangkan Ardian diduga memberikan uang itu agar mendapatkan penunjukan pengadaan paket Bansos melalui PT Tigapilar Agro Utama. Paket Bansos tersebut untuk tahap 9, tahap 10, tahap komunitas dan tahap 12 sebanyak 115 ribu paket.