Salah Kaprah Seputar Cukai Rokok, Dinaikkan Demi Peningkatan Penerimaan

Merdeka.com - Merdeka.com - Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan, bahwa cukai adalah alat untuk pengendali. Ketika pemerintah menaikkan cukai seharusnya bukan dengan harapan adanya kenaikan pendapatan.

Menurut Piter masih banyak orang salah kaprah apabila cukai dinaikkan maka pendapatan negara juga akan naik. Hal ini langsung ditepis olehnya, apabila pemerintah menaikan tarif cukai rokok maka pendapatan negara pun akan turun sebab tidak akan ada konsumsi.

"Maksud dari tujuan penggunaan kenaikan cukai rokok itu adalah untuk mengendalikan konsumsi agar konsumsinya berkurang. Kita ambil ekstrem gila-gilaan misalnya cukai naikkan 100 persen apa yang diharapkan penerimaan juga akan naik 100 persen atau malah penerimaan turun mencapai Rp 0," ujar Piter Abdullah, dalam webinar, Jumat (29/7).

Dirinya menilai pemerintah sejak awal memang tidak memiliki tujuan untuk menaikan cukai rokok dan tidak ingin menurunkan konsumsi rokok. "Memang pemerintah tidak ada satupun tujuannya untuk mengurangi penerimaan cukai," tegasnya.

"Karena kita tahu saat ini industry kita sangat bergantung pada industri rokok, di dalam kontribusi terhadap ekonomi ataupun terhadap kontribusi di dalam penyerapan kerja," tambahnya.

Dampak Kenaikan Cukai, Kinerja Produsen Rokok Menurun di Kuartal I-2022

cukai kinerja produsen rokok menurun di kuartal i 2022
cukai kinerja produsen rokok menurun di kuartal i 2022.jpg

Kinerja keuangan perusahaan rokok di beberapa golongan mengalami penurunan di kuartal I-2022 akibat beban cukai yang melonjak. Salah satunya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatatkan penurunan laba bersih 38,5 persen (yoy) menjadi Rp 1,07 triliun sepanjang kuartal I-2022.

Dikutip dari laporan keuangan perusahaan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), biaya cukai, PPN, dan Pajak Rokok Gudang Garam pada kuartal I 2022 tercatat Rp 25,06 triliun atau naik 6,45 persen dibandingkan kuartal I 2021 sebesar Rp23,54 triliun. Adapun biaya cukai dan pajak merupakan beban terbesar dari biaya pokok penjualan (COGS) perusahaan.

Hal serupa juga dialami PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP). Laba bersih HMSP di kuartal I 2022 tergerus 25,95 persen (yoy) menjadi Rp 1,91 triliun. Tergerusnya laba bersih ini tak lepas dari beban cukai dan pajak rokok yang melonjak 26,96 persen (yoy) menjadi Rp 17,94 triliun, dari Rp 14,13 triliun pada kuartal I 2021.

Founder & CEO Finvesol Consulting Fendi Susiyanto mengatakan, kemerosotan profitabilitas emiten rokok kelas premium dipengaruhi sentimen negatif kenaikan tarif cukai hasil tembakau.

"Anjloknya laba GGRM dan HMSP dipengaruhi beban biaya operasional akibat kenaikan tarif cukai rata-rata 12 persen," kata Fendi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (19/5).

Tergerusnya laba bersih emiten rokok Golongan 1 juga dipengaruhi peralihan konsumsi rokok dari produk rokok premium ke produk rokok yang lebih murah yang berada di Golongan 2 dan 3 akibat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Pabrikan golongan 2 dan 3 dalam posisi diuntungkan dengan selisih tarif sebesar 40 persen lebih rendah dari tarif cukai rokok yang dibayar pabrikan Golongan 1.

Dengan begitu, produsen rokok golongan 2 dan 3 mampu mempertahankan margin profitabilitasnya tanpa harus menaikkan harga jual secara signifikan. [bim]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel