Salah Satu Tanda Perempuan Dewasa adalah Mampu Berdamai dengan Keterbatasan

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Dulu saat masih kecil kita membayangkan saat dewasa nanti ingin menjadi ini dan itu. Saat dewasa nanti kita akan memiliki ini dan itu. Kelak saat sudah dewasa akan menjalani kehidupan yang seperti ini dan itu. Lalu waktu pun berlalu, dan inilah kita sekarang.

Kita sudah berada di periode dewasa yang dulu kita bayangkan. Masa depan yang dulu kita impikan kini sedang kita jalani. Bayangan yang dulu kita miliki di benak soal menjadi orang dewasa kini mewujud dalam realita yang sedang kita alami.

Benarkah kita sudah benar-benar dewasa?

“Sebagai orang dewasa, beranikah kita mengaku kepada diri sendiri bahwa kita juga sama-sama berpandangan belum dewasa? Beranikah kita mengakui bahwa pemikiran dan perilaku kita berasal dari kepercayaan bahwa dunia berputar di sekeliling kita? Rupanya tidak. Namun buktinya banyak. Buka selubung yang menutupi konflik rasial, etnis, agama, nasional, dan budaya di masyarakat, maka terlihatlah bahwa ego manusia mendalangi semuanya,” tulis Neil DeGrase Tyson dalam Astrofisika untuk Orang Sibuk.

Seringkali kita merasa dunia berputar di sekeliling kita. Seolah-olah segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita semuanya dan sepenuhnya ada dalam kendali kita. Karena sudah merasa dewasa dan mampu melakukan banyak hal, kita menganggap semua keinginan ego kita harus selalu terpenuhi. Padahal nyatanya seperti yang ditulis Tyson, “… Manusia bukan sebagai penguasa ruang dan waktu melainkan anggota rantai akbar makhluk jagat raya… .”

Kita Pada Dasarnya Hanya Manusia yang Punya Banyak Keterbatasan.

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/baoyan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/baoyan

Semakin bertambah usia, pada momen-momen tertentu aku merasa makin peka dengan kekurangan dan keterbatasan yang aku punya. Makin menyadari bahwa manusia lahir dengan takdir berbeda-beda. Realita yang terjadi bisa jauh dari harapan dan rencana yang pernah dirancang. Tidak semua hal dalam hidup ini ada dalam kendali kita. Selalu ada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang mengatur banyak hal yang melampaui kemampuan kita.

Filsuf stoik bernama Seneca mengungkapkan seperti yang dikutip dalam buku Filosofi Teras, “Kita memiliki kebiasaan membesar-besarkan kesedihan. Kita tercabik di antara hal-hal masa kini dan hal-hal yang baru akan terjadi. Pikirkan apakah sudah ada bukti yang pasti mengenai kesusahan masa depan. Karena seringkali kita lebih disusahkan kekhawatiran kita sendiri.”

Pada malam-malam kita tak bisa tidur dan teringat akan keterbatasan atau kekurangan yang kita punya, kita punya kecenderungan membesar-besarkan rasa sedih yang kita rasa. Sibuk menjalin rangkaian-rangkaian masa kini dan masa yang akan datang. Kita membuat diri kita susah sendiri. Melelahkan, ya.

Mengizinkan diri untuk bersedih secukupnya saja. Saat menyadari ada kekurangan atau keterbatasan dalam diri, tak perlu berlarut-larut meratapinya. Tumbuhkan kembali harapan untuk membuat perbaikan yang lebih bermakna dalam hidup. Ketika satu jalan menghalangi kita untuk lanjut, maka saatnya untuk mengambil jalan baru atau belokan baru untuk melanjutkan perjalanan.

Keterbatasan paling kentara yang dimiliki manusia adalah ketidakmampuan mencegah pertambahan usia. Usia akan terus bertambah sekeras apa pun usaha kita untuk mencegahnya. Sebab waktu juga akan terus bergulir ke depan. Muncul keriput di wajah, rambut beruban, daya penglihatan yang makin menurun, kondisi tubuh yang tidak sebugar dulu, tubuh yang makin mudah capek, perut yang makin mudah membuncit, metabolisme yang menurun seiring bertambahnya usia, hingga penyakit-penyakit baru yang menyerang tubuh menjadi pengingat kita bahwa pertambahan usia akan memberi perubahan pada kondisi kita. Namun, bukan berarti kita pasrah membiarkan segalanya memburuk. Justru karena keterbatasan yang ada kita akan terpacu untuk melakukan usaha terbaik dalam hidup kita.

#ChangeMaker