Sama Halnya dengan Menikah, Bercerai juga Menempuh Hidup Baru

Syahdan Nurdin, voxpopid
·Bacaan 3 menit

VIVA – Ucapan “Selamat menempuh hidup baru” sering kali hanya ditujukan kepada mereka yang tengah berbahagia menyatukan janji dalam ikatan pernikahan. Sebaliknya, tak ada ucapan serupa bagi mereka yang pada akhirnya memutus ikatan pernikahan alias bercerai.

Yang ada malah tatapan rasa prihatin hingga sinis dan cemoohan dari tetangga, teman, bahkan keluarga. Padahal, orang yang bercerai juga berhak bahagia karena sudah berani menempuh jalan untuk memasuki babak baru kehidupan setelah resmi berpisah.

Namun, selama ini banyak orangtua yang tidak terima kalau anaknya bercerai. Alih-alih mendukung keputusan anak, orangtua kadang malah sibuk memarahi agar si anak bertahan, seburuk apapun kehidupan dalam rumah tangga.

Orangtua merasa takut dan malu kalau nanti dianggap oleh masyarakat sebagai orangtua yang tak mampu ‘mendidik’ anak. Itulah mengapa si anak sering kali diminta untuk sabar… sabar… sabar… entah sampai kapan.

Tak sedikit perempuan remuk redam secara fisik terlebih psikis karena berusaha bertahan hanya karena tidak mau membuat orangtuanya kecewa. Padahal, rumah tangganya bagai neraka.

Bicara tentang pernikahan, suka atau tidak, mesti sepaket dengan perceraian. Keduanya saling berkaitan. Seperti halnya siang dan malam, awal dan akhir.

Memang betul, kalau dilihat dari sisi agama, tidak ada yang menyukai perceraian. Katolik, misalnya, jelas sekali hukumnya: “…apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Tetapi, dalam kehidupan yang fana ini, kita tentu hanya bisa berencana, bukan? Maunya sih bisa langgeng, tapi kalau di tengah jalan semisal suami ternyata abusif, bagaimana? Selayaknya pernikahan, perceraian juga merupakan pilihan. Pernikahan dan perceraian adalah sama-sama gerbang menuju kehidupan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

Jadi, ucapan “Selamat menempuh hidup baru” juga berhak diterima oleh mereka yang bercerai, apapun alasan mereka memutus ikatan pernikahan.

Memang sih, tidak ada orang yang menikah lantas punya cita-cita bakal mengakhiri pernikahan mereka di kemudian hari. Tapi, perceraian kadang tak bisa dihindari. Ada banyak alasan, semisal visinya tidak cocok. Kemudian terjadi perdebatan, bertengkar, komunikasi terhambat, dan berubah menjadi hubungan yang toksik. Lalu, ada juga yang terlibat skandal perselingkuhan atau KDRT.

Jika pada akhirnya perceraian menjadi satu-satunya jalan untuk keluar dari pernikahan yang abusif bin toksik, kenapa tidak?

Apalagi, kalau sudah punya anak. Pertumbuhan mental anak bisa terganggu, karena tumbuh di tengah keluarga dengan orangtua yang menjalani toxic relationship. Bahkan, dalam kasus KDRT, si anak malah jadi sasaran tindakan abusif. Sudah mentalnya dirisak, badannya dirusak.

Lantas, ada yang bilang, “Jangan bercerai, kasihan nanti anak.”

Hhmmm…

Terus ada lagi alasan yang konyol, hanya karena gengsi atau malu kalau sampai bercerai. Makanya mati-matian bertahan dalam hubungan yang sudah rapuh. Hadeh, masa sih mau merusak diri sendiri hanya demi gengsi atau apa, malu? Kita lho yang menjalani hidup, mereka cuma bisa bergosip saja. Mereka senang, kita menderita.

Jangan salah, banyak orang justru bisa menjalani hubungan yang sehat setelah bercerai. Mereka merasa jalinan komunikasi, termasuk soal anak, menjadi jauh lebih baik ketimbang masih terikat pernikahan. Kalau sudah begitu, orang-orang yang suka bergibah bisa apa?

Mereka yang bercerai justru harus mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya, bukan malah diledek, dirisak, atau diperlakukan seperti orang buangan yang dianggap gagal mempertahankan biduk rumah tangga. Perceraian bukanlah akhir dari kehidupan, malah bisa menjadi awal dari kehidupan yang baru.

Di beberapa negara di Eropa, mereka yang memutuskan untuk bercerai, tak hanya mendapatkan kue seperti kue pengantin, tapi juga mendapatkan sambutan hangat semacam pesta perayaan karena kembali menjadi lajang.

Itu tentu bukan sesuatu yang buruk sebagai dukungan moral. Apalagi, bagi mereka yang mengakhiri pernikahan karena pasangannya abusif atau selingkuh. Mereka yang sebelumnya dikhianati sepanjang pernikahan dan merajut harapan palsu akhirnya bisa berbahagia.

Namun, bukan berarti kebiasaan memberi kue kepada orang yang bercerai perlu diterapkan di sini. Setidaknya ada perubahan pola pikir saja sudah bagus. Bahwa perceraian juga bagian dari hidup normal, sama halnya dengan pernikahan. Begitu juga dengan melajang.

Lalu, tidak lagi selalu menyalahkan perempuan jika terjadi perceraian. Tidak lagi melanggengkan stigma negatif terhadap janda. Tidak menganggap janda sebagai objek belaka.

Mereka yang bercerai pun berhak dihormati. Bukan malah diejek dan menjadi bahan pergunjingan.

Bisa nggak?