Sama-sama dari AS, Vaksin Mana Lebih Baik Pfizer atau Moderna?

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Senin 16 November, perusahaan Amerika, Moderna Inc mengumumkan hasil uji coba klinis tahap akhir calon vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan. Dari hasil uji coba terhadap 30 ribu relawan diketahui bahwa vaksin yang dikembangkan Moderna Inc memiliki tingkat efektivitas mencapai 94,5 persen.

Dengan demikian, diketahui bahwa Moderna Inc, menjadi perusahaan Amerika Serikat kedua setelah Pfizer yang melaporkan hasil yang jauh melebihi harapan. Hal ini juga berarti bahwa di tahun depan, pemerintah AS dapat memiliki akses ke lebih dari satu miliar dosis hanya dari dua pembuat vaksin, lebih dari yang dibutuhkan untuk 330 juta penduduk negara itu.

Dilansir dari laman Asiaone, baik Pfizer maupun Moderna Inc keduanya sama-sama mengembangkan vaksin COVID-19 menggunakan teknologi baru yang dikenal sebagai messenger RNA atau mRNA, untuk menghasilkan respons imun pada orang yang divaksinasi.

Pendekatan vaksin mRNA menggunakan materi genetik yang disebut mRNA untuk mengelabui sel agar menghasilkan bit protein yang terlihat seperti potongan virus. Sistem kekebalan kemudian belajar untuk mengenali dan menyerang bagian-bagian itu dan, secara teori, akan bereaksi cepat terhadap infeksi yang sebenarnya.

Namun, dari kedua perusahaan tersebut diketahui bahwa, vaksin yang dikembangkan oleh Moderna lebih unggul dibanding Pfizer dalam hal penyimpanannya. Vaksin Moderna diketahui tidak membutuhkan penyimpanan yang sangat dingin seperti milik Pfizer, sehingga lebih mudah untuk didistribusikan.

Moderna mengungkapkan vaksin yang dikembangkannya dapat stabil pada suhu lemari es standar 2 hingga 8 derajat celcius selama 30 hari dan dapat disimpan hingga 6 bulan pada suhu minus 20 derajat celcius.

Sedangkan vaksin Pfizer harus dikirim dan disimpan pada suhu minus 70 derajat celcius, sejenis suhu musim dingin di Antartika. Pada suhu lemari es standar, dapat disimpan hingga lima hari.

Dari sisi efek samping, diketahui vaksin yang dikembangkan Moderna Inc memiliki efek samping ringan sampai sedang. Namun, sebagian besar sukarelawan mengalami rasa sakit dan nyeri yang lebih parah setelah mengambil dosis kedua.

Termasuk sekitar 10 persen relawan yang mengalami kelelahan cukup parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Sementara 9 persen lainnya mengalami nyeri tubuh yang parah. Sebagian besar keluhan ini tidak berlangsung lama, kata perusahaan itu.

Sedangkan, efek samping yang dirasakan beberapa dari 43.500 relawan vaksin Pfizer merasakan sakit kepala dan nyeri otot usai menerima vaksin. Salah satu relawan vaksin Glenn Deshields, 44, dari Austin, Texas, Anerika menyebut merasa mabuk berat usai mendapat suntikan vaksin tersebut, tetapi gejala tersebut segera sembuh.

Relawan lainnya, Carrie, 45 tahun dari Missouri, mengatakan dia mengalami sakit kepala, demam dan nyeri tubuh, setelah suntikan pertamanya pada bulan September lalu.

"Efek sampingnya yang dibandingkan dengan efek dari suntikan flu lebih buruk setelah mendapatkan dosis kedua bulan lalu," katanya seperti dikutip dari laman the sun.

Di sisi lain, data Moderna memberikan validasi lebih lanjut dari platform mRNA yang menjanjikan tetapi sebelumnya belum terbukti, yang mengubah tubuh manusia menjadi pabrik vaksin dengan membujuk sel untuk membuat protein virus tertentu yang dilihat oleh sistem kekebalan sebagai ancaman dan meningkatkan tanggapannya.

Moderna berharap memiliki cukup data keamanan yang diperlukan untuk otorisasi AS pada minggu depan atau lebih dan perusahaan mengharapkan untuk mengajukan otorisasi penggunaan darurat dalam beberapa minggu mendatang.

Untuk diketahui, AS memiliki jumlah kasus dan kematian COVID-19 tertinggi di dunia dengan lebih dari 11 juta infeksi dan hampir 250.000 kematian.