Samba berjaga jarak sosial hidupkan kembali kebahagiaan yang sirna di Brasil

·Bacaan 3 menit

Rio de Janeiro (AFP) - Beberapa hal menyebutkan Rio de Janeiro bagaikan sesi jam legendaris "roda de samba" di mana para musisi duduk dalam lingkaran sambil mendengarkan musik paling dicintai di Brasil dan kerumunan orang yang bersuka ria sambil menenggak bir yang mengelilingi mereka.

Namun pandemi virus corona memaksa para penampil yang menjaga tradisi ini tetap hidup untuk beradaptasi.

"Kami tidak lagi duduk melingkar. Kami bermain di panggung di depan penonton," kata Moacyr Luz (62), pendiri Samba do Trabalhador (Samba Pekerja) yang menggelar roda de samba (lingkaran samba) Senin malam selama 15 tahun sampai kemudian pandemi datang menerjang.

Luz, raksasa musik Brasil yang siap meraih Grammy Latin tahun ini, mengatakan bermain samba tanpa penonton adalah bagaikan pesepakbola yang mencetak gol tanpa merayakan gol.

"Rasanya tidak alami. Tapi paling tidak samba tetap mengalir. Kita hidup dalam masa transformasi, jadi semua orang harus beradaptasi," kata penyanyi berjanggut abu-abu itu kepada AFP.

Luz dan bandnya baru saja absen selama tujuh bulan yang selam itu pertunjukan mereka hanya digelar online. Bulan ini, mereka mulai bermain lagi -dengan menerapkan aturan jaga jarak sosial- di Renascenca yang merupakan sebuah klub terkenal di sebelah utara Rio.

Bunyi petikan gitar-gitar mini "cavaquinho", drum "cuica", dan tamborin tetap menggairahkan kerumunan.

Tetapi kumpulan orang di sekeliling band itu yang di masa lalu bisa mencapai 1.500 orang, telah memberi jalan untuk meja-meja plastik yang dipisahkan rapi dengan sekelompok kecil tamu-tamunya.

Tiket dibatasi maksimal sekitar 300 per pertunjukan dan terjual cepat secara online.

Tamu-tamu diperiksa suhu mereka di pintu dan harus memakai masker wajah saat tidak menduduki mejanya.

"Dulu orang berkerumun mengelilingi musisi. Sekarang, Anda kehilangan kontak, panasnya roda de samba, perasaan bahwa Anda tepat berada di sana bermain bersama mereka," kata Dalia Melo (42) di sebuah konser baru-baru ini bersama dengan suaminya.

"Tetapi yang penting itu sudah kembali."

Rio, surga pantai tropis nan indah dan pesta sepanjang malam, dilanda pandemi yang telah merenggut banyak nyawa di Brasil melebihi negara mana pun kecuali Amerika Serikat, dengan jumlah korban tewas sudah hampir 160.000.

Otoritas setempat menerapkan lockdown kepada kota berpenduduk tujuh juta orang itu pada Maret. Sejak Juni mereka telah mengizinkan pembukaan kembali secara bertahap.

Musik live adalah salah satu aktivitas terakhir yang boleh dilanjutkan, tanpa tarian dan separuh kapasitas penonton.

Tetapi pembatasan-pembatasan itu tidak menghalangi penonton dalam menyanyikan lagu-lagu Luz.

Untuk "cariocas" sejati, sebutan penduduk Rio, dampaknya bersifat terapeutik.

"Samba adalah bagian dari budaya Brasil. Ini berkaitan dengan begitu banyak hal baik: Ini adalah kesatuan masyarakat, ini kelanjutan dari tradisi. Ini membawa kebahagiaan tak terkira," kata penggemar Cristina Barreto.

"Berada di sini penting untuk kesehatan mental. Ini memberi makan jiwa dan memberi Anda kekuatan untuk terus menghadapi semua ini."

Pandemi telah menghantam keras Luz.

Teman lama dan kolaboratornya, Aldir Blanc, salah seorang penulis lirik terbaik Brasil, meninggal dunia karena Covid-19 pada Mei dalam usia 73 tahun.

"Saya sudah belajar dari kehilangan. Kami kehilangan penonton, peluncuran rekaman, tur. Saya kehilangan mitra penulis lagu utama saya, Aldir Blanc, yang menulis lebih dari 100 lagu bersama saya," kata Luz.

Ia ingin aktivitas di kota itu dilanjutkan kembali agar musisi bisa berkarya.

Dia mengakui bahwa untuk sementara ini pasti melibatkan aturan jaga jarak sosial, tetapi memimpikan kembali ke keadaan normal sebelum pandemi.

"Saya sudah tidak sabar untuk bisa lagi memeluk orang, tidak takut menunjukkan kasih sayang," kata dia.

Krisis tidak menghancurkan semangat kreatifnya: Belakangan ini dia sudah menulis lebih dari 30 lagu, termasuk beberapa lagu tentang pandemi.

"Begitu hijau, begitu luasnya laut/ Tapi aku tak bisa menyentuhnya," demikian lirik sebuah lagunya.

"Begitu banyak meja, begitu banyak bar / Tapi aku tak bisa duduk/ Begitu banyak mulut, begitu besarnya cinta/ Tapi aku tak bisa mencium itu semua."

Tapi kemudian lagu itu berubah menjadi lagu harapan, dengan lirik: "Aku yakini ini semua bakal berlalu."


mel/jhb/bfm