Sambut geliat pertumbuhan, Festival Properti Indonesia kembali digelar

Faisal Yunianto

Festival Properti Indonesia kembali digelar pada 6-10 November mendatang untuk menyambut geliat pertumbuhan sektor properti yang mulai terjadi selepas Pemilu 2019.

Country Manager Rumah123.com Maria Herawati Manik selaku penyelenggara acara mengatakan tren properti mulai menggeliat berdasarkan data penjualan rata-rata di situs Rumah123.com.

"Penjualan rata-rata properti di situs Rumah123 dari kuartal kedua hingga kuartal ketiga tahun ini mengalami kenaikan hingga 33 persen," katanya di Jakarta, Rabu.

Maria menyebut tren kenaikan kemungkinan terjadi selepas Pemilu dan presiden terpilih telah dilantik pada Oktober lalu yang berdampak pada kondisi sektor industri yang mulai bergairah.

"Makanya saat ini adalah saat yang tepat untuk membeli properti," katanya.

Baca juga: Pengembang Gading Serpong lihat iklim properti kembali bergairah

GM Marketing Rumah123.com Fanny Meilana menjelaskan Festival Properti Indonesia 2019 menggandeng 26 pengembang dan menawarkan 39 proyek properti mulai dari rumah, apartemen, hotel, hingga properti luar negeri. Selain dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, ditawarkan pula proyek properti di Johor Bahru, Malaysia dan lokasi ibu kota baru, Balikpapan.

Fanny menambahkan, pihaknya menargetkan peningkatan transaksi penjualan lebih tinggi 30 persen dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

"Target kami 30 persen lebih banhak dari festival sebelumnya, karena jumlah peserta dan karakter pengunjung juga berbeda," imbuhnya.

Baca juga: Konsultan: Peningkatan pasar properti Jakarta diprediksi gradual

Berbagai properti yang ditawarkan dalam pameran yang digelar di Mal Kota Kasablanka Jakarta itu mulai dari Rp290 juta hingga Rp3 miliar per unit.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Bantuan Rumah Umum Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kethut Djadi Hervinianto mengapresiasi gelaran pameran properti itu.

Pameran properti juga diharapkan dapat memberikan edukasi serta membuka peluang masyarakat untuk bisa mendapatkan hunian sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka sekaligus mendorong pertumbuhan pengembang andal.

"Pemerintah masih menghadapi persoalan klasik tingginya backlog hunian yang masih mencapai 11,6 juta unit sehingga ajang ini bisa membantu pemerintah atasi masalah ini," ujarnya.

Baca juga: Konsultan: Tingkat serapan apartemen bakal terdampak perang dagang