Sambut Hari Pneumonia Dunia, Kenali Lagi Penyakit Pembunuh Balita yang Dilupakan

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Hari Pneumonia Dunia setiap tanggal 12 November 2020 tahun ini diperingati di masa pandemi. Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru-paru yang membuat paru-paru dipenuhi dengan cairan dan sel radang.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius dan tidak jarang menyebabkan kematian. Pada tahun 2017, Indonesia ada di peringkat 7 dunia sebagai negara dengan beban pneumonia tertinggi menurut data WHO.

Di mana sebanyak 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut atau 17 persen dari seluruh kematian balita. Sementara tahun 2019 terdapat 467.383 kasus pneumonia pada balita.

Faktor-faktor penyebab pneumonia berkaitan dengan belum terpenuhinya ASI eksklusif yang hanya 45 persen, berat badan lahir rendah 10,2 persen, dan belum imunisasi lengkap 42,1 persen, serta polusi udara di ruang tertutup dan kepadatan yang tinggi pada rumah tangga.

Selain itu faktor yang sering terjadi adalah pneumonia sering terlambat disadari karena gejala awal yang sulit dibedakan dengan penyakit pernapasan lain yang ringan seperti pilek dan selesma (common cold). Sebab itu, banyak anak yang mengidap pneumonia tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya dan berdampak fatal pada kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.

Tanda-Tanda Anak Mengidap Pneumonia

ilustrasi anak batuk/copyright Shutterstock
ilustrasi anak batuk/copyright Shutterstock

Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr.dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) memberikan tanda-tanda anak mengidap pneumonia. Menurutnya gejala awal pneumonia menyerupai selesma (common cold) seperti batuk, pilek, dan demam yang disertai lemas dan lesu berkepanjangan.

Gejala pneumonia biasanya bertahan relatif lebih lama daripada gejala pilek dan batuk karena selesma. Gejala selanjutnya adalah kesulitan bernapas yang ditandai dengan frekuensi napas lebih cepat, napas cuping hidung, tarikan dindin dada dan perut, serta bibir dan kuku yang membiru karena kekurangan oksigen dalam darah.

"Kesulitan bernapas pada bayi dengan mudah diketahui saat beraktivitas atau makan. Bayi yang mengalami kesulitan bernapas akan memprioritaskan mekanisme tubuhnya untuk bernapas sehingga ia akan makan lebih sekiti, gelisah, rewel, atau terlihat tidak nyaman," ujar Dokter Nastiti.

Jika ragu atas gelaja-gejala yang dialami anak, segera konsultasi ke dokter. Pencegahan dan perlindungan orangtua harus ditingkatkan lagi, bukan hanya terhindar dari wabah pandemi tapi penyakit mematikan lain yang masih mengancam balita seperti pneumonia.

"Nah kalau di masa pandemi ini, cara membedakan Covid-19 dan pneumonia memang sulit jika tidak diuji secara klinis. Pemeriksaan swab jadi solusinya," tambah Dokter Nastiti.

Kampanye STOP Pneumonia Save the Children

Ilustrasi Hasil Scan Penyakit Penderita Paru-Paru Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Hasil Scan Penyakit Penderita Paru-Paru Credit: pexels.com/pixabay

Menyambut Hari Pneumonia Dunia (HPD), 12 November nanti Save the Childern juga menyiapkan serangkaian acara menarik untuk kembali menyadarkan dan mengingatkan tentang pneumonia pada anak yang jadi "the forgotten killer". Sebelumnya, di tahun 2019 Save the Children meluncurkan kampanye STOP Pneumonia di HPD di tingkat nasional maupun wilayah pendampingan untuk mengedukasi tentang pneumonia pada balita.

“Kami bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan dukungan Pfizer melalui kampanye STOP Pneumonia mengajak masyarakat untuk menjadikan momen HPD yang kita peringati di tengah pandemi tahun ini, sebagai kesempatan untuk semakin meningkatkan pemahaman mengenai pneumonia dan mencegah lebih banyak kematian akibat penyakit mematikan ini.” ujar CEO Save the Children Indonesia, Selina Sumbung.

“Pfizer memiliki komitmen untuk berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih sehat. Salah satu wujud komitmen ini kami lakukan dengan mendukung upaya-upaya yang dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya orang tua, terhadap penyakit pneumonia. Kami bangga dapat mendukung seluruh rangkaian acara kampanye Stop Pneumonia dalam peringatan Hari Pneumonia Dunia untuk mendorong pemahaman masyarakat tentang upaya pencegahan pneumonia,” tutup Public Affairs Director Pfizer Indonesia Bambang Chriswanto.

Simak Video Berikut

#ChangeMaker