Sambut Ramadan, pengikut Bonokeling jalan kaki puluhan kilometer

MERDEKA.COM. Ratusan pengikut Bonokeling yang berasal dari wilayah Banyumas dan Cilacap, berjalan kaki puluhan kilometer menyambut bulan Ramadan. Mereka berjalan kaki menuju makam Bonokeling di Desa Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas.

Salah satu pengikut Bonokeling, Warga (45) mengatakan kegiatan ini sebagai bagian menjaga tradisi yang sudah turun temurun dilakukan oleh leluhurnya. Dia sendiri berjalan kaki sekitar 30 kilometer dari Desa Tambakreja, Cilacap Selatan Jawa Tengah. "Kami memulai perjalanan sekitar pukul setengah empat pagi," katanya, Kamis (4/7).

Ia berjalan kaki bersama 250 warga Desa Tambakreja lainnya. Selain dari Desa Tambakreja, juga bergabung ratusan pengikut lainnya dari Desa Adiraja, Kalikudi Kecamatan Adipala dan beberapa desa di pesisir Cilacap. Dalam perjalan itu, mereka membawa pikulan berisi hasil bumi yang akan dimasak bersama untuk acara selamatan yang digelar di area pemakaman Bonokeling.

"Ada yang bawa beras, sayuran, kelapa, hasil ternak dan berbagai bumbu dapur. Semuanya dimasukkan ke dalam brokoh yang ditaruh di pikulan," ujarnya.

Juru bicara adat Desa Pekuncen, Jatilawang, Sumitro mengatakan tradisi ini sudah dijalankan turun temurun dari generasi terdahulu yang menjadi pengikut Bonokeling. "Ritual ini dilakukan setiap hari Jumat terakhir di Bulan Sadran. Selain selamatan, juga ada bersih kubur makam Bonokeling yang setiap tahunnya diikuti ribuan pengikutnya," jelasnya.

Ritual yang biasa disebut `unggahan` tersebut dilakukan di Bale Agung, kompleks makam Bonokeling. Sesampainya di kompleks makam Bonokeling, para pengikut Bonokeling yang termasuk dalam aliran Kejawen ini akan menggelar acara "muji". "Muji ini seperti semacam zikir untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa," jelas Sumitro.

Lebih jauh, Sumitro menjelaskan, tradisi "unggahan" ini awalnya digelar setiap menjelang musim tanam pada bulan Ruwah. Namun setelah masuknya ajaran agama Islam, kegiatan ini lebih dikenal sebagai "sadranan" karena digelar setiap menjelang bulan Pasa atau Ramadan di kompleks makam Bonokeling.

Bonokeling di kalangan pengikutnya adalah sosok tokoh yang berasal dari Kadipaten Pasir Luhur yang berada di bawah Kerajaan Padjajaran atau Galuh-Kawali. Namun, tidak semua orang tahu asal muasal Bonokeling.

Sumber: Merdeka.com
Waktu berbuka puasa. Pengingat berbuka selama Ramadan untuk Jakarta.
POLL

Oleh-oleh apa yang Anda bawa saat mudik untuk sanak saudara?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat