Sampah bernilai ekonomis itu ada di Jakarta Utara

Pemerintah Kota Jakarta Utara memacu kreasi warga lokal untuk mengelola sampah residu berupa galon bekas minuman ukuran 15 liter menjadi pot tanaman, pengki dan barang-barang lain bernilai ekonomis di wilayah setempat.

Dengan mengedepankan kreativitas dan pemanfaatan sampah residu, pemerintah setempat mempercayai itu dapat menghasilkan produk yang berkualitas dari warga dengan bimbingan Tim Kreatif Bank Sampah di wilayah masing-masing dan mendukung terciptanya penghijauan lingkungan.

Seperti Tim kreatif Bank Sampah Berkah (BSB) di Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara yang menyulap galon air mineral ukuran 15 liter yang sudah tidak terpakai menjadi pot tanaman yang laku dijual dengan harga bervariasi dari Rp15 ribu hingga Rp30 ribu.

Jika ada yang berminat untuk membeli banyak, Lurah Tugu Selatan Sukarmin memastikan bahwa warganya yang menjadi perajin daur ulang dapat memberikan harga spesial.

Hingga Selasa ini, sudah terjual hingga 212 pot daur ulang dari galon bekas minuman tersebut di wilayah Tugu Selatan.

Wali kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim juga salah satu pejabat daerah yang sudah membeli dan menggunakan pot tersebut di rumah.

Baca juga: DKI ajak pengusaha terjun dalam bidang pengolahan sampah

Ide awal pembuatan pot tanaman dari galon bekas minuman sudah dimulai sejak dua bulan lalu. Sedangkan bahan baku yang digunakan untuk pembuatan pot tanaman tergolong mudah didapatkan seperti galon air mineral bekas, kawat, kaos, celana dan seprei.

Petugas penanganan prasarana dan sarana umum mengolah pupuk kompos dari sampah organik pedagang sayuran Pasar Kebayoran Lama di tempat pengolahan sampah terpadu Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (4/11/2021). . ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
Petugas penanganan prasarana dan sarana umum mengolah pupuk kompos dari sampah organik pedagang sayuran Pasar Kebayoran Lama di tempat pengolahan sampah terpadu Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis (4/11/2021). . ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)


Kemudian dicampur dengan semen dan pasir yang selanjutnya dibentuk menyerupai batang potong. Setelah itu dicat dan dikeringkan.

Dalam waktu satu hari, para perajin bisa menghasilkan hingga sepuluh pot dengan beragam kreasi bentuknya.

Daur ulang
Berbagai inovasi itu akan terus ditingkatkan oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara dalam upaya mengolah barang-barang bekas menjadi produk daur ulang yang bernilai tinggi sebagai salah satu strategi untuk pengurangan sampah ke TPST Bantar Gebang dan perputaran ekonomi.

Salah satunya melalui pelatihan cara pembuatan pot daur ulang sampah galon bekas bagi anggota Karang Taruna, kader PKK, Dasawisma, dan lainnya serta bagaimana cara melakukan pemasaran daring.

Saat ini, pemasaran produk-produk kreatif itu juga sudah melalui program JakPreneur dan Bazar Online JakPreneur Jakarta Utara (BORJU).

Baca juga: DPRD minta DKI segera bangun pengolahan sampah 3R di seluruh wilayah

Gerakan pilah dan kelola sampah juga dimanfaatkan Kelurahan Sunter Jaya di Tanjung Priok, Jakarta Utara untuk mendukung program-program keberlanjutan lingkungan di wilayah setempat.

Lurah Sunter Jaya Eka Persilian Yeluma mengatakan sampah hasil pilah dari Bank Sampah Kantor Kelurahan setempat diolah menjadi barang-barang bermanfaat seperti sapu lidi dan pengki.

Sapu lidi yang biasanya berbahan dari daun kelapa dibuat dari bekas galon air mineral sekali pakai.

Sampah anorganik itu disebut memiliki nilai jual kecil sehingga lebih baik dikreasikan menjadi barang bermanfaat.

Sedangkan pengki dikreasikan dari bekas jeriken yang dibelah menjadi dua bagian.

Sapu dan pengki hasil kreasi itu sudah digunakan saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Jalan Danau Sunter setiap Minggu.

Ke depan, kreasi sampah anorganik akan terus ditingkatkan, sebagai tindak lanjut dari Instruksi Gubernur (Ingub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 107 Tahun 2019 Tentang Pengurangan dan Pemilahan Sampah di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Baca juga: Pemprov DKI dukung pengolahan sampah organik agar Jakarta lebih bersih

Harapannya peningkatan itu dapat menularkan semangat kepada setiap rumah tangga khususnya di Kelurahan Sunter Jaya.

Mudah-mudahan bisa menjadi contoh kepada masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah baik anorganik maupun organik.

Saat ini, kegiatan pilah dan angkut sampah terjadwal telah dilaksanakan pada 79 rukun wilayah (RW) di wilayah Tanjung Priok.

Persentase pencapaian rumah memilah sampah sendiri di wilayah Kecamatan Tanjung Priok sebesar 16,4 persen dengan jumlah rumah memilah sampah sebanyak 8.429 unit.

Kepedulian warga
Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim menitipkan pesan kepada warganya agar menjaga kepedulian terhadap dampak pencemaran lingkungan sebab itu adalah tanggung jawab bersama.

Ia mengungkapkan kepedulian warga itu dapat berwujud tindakan membatasi penggunaan kendaraan bermotor, tidak membuang sampah sembarangan, gencar melakukan aksi tanam pohon, dan hal lainnya.

Ali mengatakan dengan menjaga lingkungan, warga telah berpartisipasi dalam menjaga kesehatan bersama.

Baca juga: Jakarta Utara mampu kurangi sampah non-ekonomis 40 ton

"Niatkan untuk kesehatan bersama," kata Ali.

Ali juga mengajak warga menyedekahkan barang tak lagi bermanfaat yang tersimpan di gudang rumah.

Barang tersebut bisa saja menjadi bermanfaat di tangan warga lainnya, baik dari sisi ekonomi maupun barang itu sendiri yang kembali dimanfaatkan.

Warga menimbang sampah di Bank Sampah Durian 3 RT 3 RW 8, Kebagusan, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Pemprov DKI Jakarta menargetkan sebanyak 1.369 Rukun Warga (RW) di Ibu Kota mampu mengelola sampah secara mandiri dengan cara mengurangi, memilah, dan mengolah sampah dari sumbernya mulai akhir Oktober 2021. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Warga menimbang sampah di Bank Sampah Durian 3 RT 3 RW 8, Kebagusan, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Pemprov DKI Jakarta menargetkan sebanyak 1.369 Rukun Warga (RW) di Ibu Kota mampu mengelola sampah secara mandiri dengan cara mengurangi, memilah, dan mengolah sampah dari sumbernya mulai akhir Oktober 2021. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.


Lebih ideal lagi kalau setiap rumah dapat memilah sampah atau setidaknya berupaya mengurangi sampah sehingga meminimalisir limbah akhir (residu) yang dihasilkan.

Kalau terpaksa harus ada residu, maka pilah sampah dengan bijak. Karena sampah ternyata punya nilai ekonomisnya yang bisa disalurkan ke Bank Sampah atau bisa disedekahkan

"Coba bongkar gudangnya dan berikanlah barang yang tidak lagi dimanfaatkan itu kepada masyarakat yang membutuhkan, mudah mudahan bisa jadi sedekah," kata Ali.

Dia menyambut baik adanya penguatan kolaborasi dalam pengelolaan sampah dan berharap dengan penguatan kolaborasi akan berdampak pada pengurangan sampah residu yang akan dibuang ke TPST Bantar Gebang hingga 90 persen.

Baca juga: Pengolahan sampah Jakarta jadi energi diresmikan

Dinas Lingkungan Hidup DKI mencatat volume sampah yang dihasilkan Jakarta mencapai 7.424 ton per hari dan dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

Sampah dari Jakarta itu didominasi sisa makanan (53 persen), plastik (sembilan persen), residu (delapan persen), kertas (tujuh persen) dan lain-lainnya.

Sedangkan daya tampung TPST Bantar Gebang menyisakan sekitar 10 juta ton dari total kapasitas 49 juta ton.

Menuntaskan permasalahan sampah ini tidak dapat dilakukan hanya dari unsur pemerintah saja.

Tentu, dibutuhkan upaya bersama masyarakat, dimulai dari gerakan pilah dan angkut sampah rumah tangga.

Kita sepakat bahwa sampah rumah tangga bisa didaur ulang, seperti menjadi kompos.

Hal itu nantinya juga akan mampu mengurangi volume sampah yang dihasilkan secara keseluruhan di Jakarta.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel