Sampah Juga Bertebaran di Angkasa

Yunisa Herawati, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 1 menit

VIVA – Potongan puing yang yang ditinggalkan oleh manusia di orbit rendah Bumi, telah menjadi sampah yang setara pulau plastik melayang di luar angkasa, kata seorang ahli.

Ekaterini Kavvada menggambarkan sampah luar angkasa bukan lagi ancaman teoritis, tetapi sudah menjadi kenyataan yang berisiko menyebabkan kerusakan pada satelit Eropa dan satelit lainnya yang aktif.

"Puing-puing ruang angkasa yang mengorbit telah menjadi pulau plastik yang melayang yang menimbulkan ancaman yang membayangi keselamatan dan keamanan semua lalu lintas dan ruang angkasa," ujarnya.

Model ilmiah memperkirakan ada lebih dari 128 juta keping puing luar angkasa yang ukurannya lebih besar dari 1 mm, dan 34.000 keping lainnya lebih besar dari 10 cm, dikutip dari laman Metro, Minggu, 17 Januari 2021.

Fragmen sekecil 1 cm berpotensi menghancurkan satelit karena kecepatan perjalanannya. Satelit buatan umumnya digunakan dalam komunikasi, seperti televisi satelit dan panggilan telepon, serta navigasi, yang mencakup Global Positioning System (GPS).

Jenis pesawat luar angkasa ini juga berperan dalam prakiraan cuaca, melacak badai, polusi, dan astronomi. Kavvada memaparkan, sejak Januari 2019, ada lebih dari 5.000 satelit di luar angkasa dan hampir 2.000 yang masih aktif.

"Mudah-mudahan satelit-satelit dapat melakukan deorbit dan sebagian besar terbakar di atmosfer ketika masa manfaatnya selesai," lanjutnya.

Ia memperingatkan masih ada 3.000 satelit tidak aktif yang melayang di luar angkasa, dengan data terbaru menunjukkan ada lebih dari 500 pecah atau adanya ledakan benda-benda luar angkasa yang mengakibatkan fragmentasi.