Sampah Punya Nilai Ekonomi, Begini Cara Gali Potensinya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Para pelaku dunia usaha di Indonesia ditegaskan perlu lebih aktif dalam memanfaatkan potensi ekonomi dari berbagai jenis sampah yang dihasilkan masyarakat, khususnya sisa produk yang dijual. Hal ini menjadi penting karena diperkirakan produksi sampah di Tanah Air mencapai sekitar 67,8 juta ton per tahun.

Dorongan untuk memanfaatkan potensi ekonomi dari sampah jadi salah satu fokus Pemprov DKI saat ini. Sebab, potensi tersebut dinilai maasih terbuka lebar.

"Sampah memiliki value (nilai) ekonomi jika dikelola dengan baik," kata Kepala Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Rita Ningsih, dalam webinar bertema ‘Sampahmu Rezekiku’ di Jakarta, Selasa, 8 Juni 2021.

Menurut Rita, pengelolaan sampah di DKI Jakarta untuk nilai ekonomis adalah dengan bank sampah. Bank sampah adalah sarana yang bisa digunakan masyarakat untuk membawa sampah yang sudah dipilah bernilai ekonomi.

Baca juga: Menteri Investasi Bingung Anggaran Turun saat Target Dinaikkan

Ia memaparkan, dari empat jenis sampah, ada dua jenis yang memiliki nilai ekonomi di mana sampah organik bisa dibawa ke bank sampah. Untuk yang mudah terurai bisa dijadikan menjadi kompos.

Seperti diketahui, sampah memiliki potensi ekonomis dan dapat menciptakan peluang lapangan pekerjaan baru melalui 6R yaitu Rethink (memikirkan kembali), Refuse (menolak), Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang), dan Repair (memperbaiki).

Merespons hal tersebut, perusahaan kosmetik Garnier Indonesia pun menyatakan komitmennya dalam memaksimalkan potensi ekonomi sampah tersebut. Khususnya terkait dengan kemasan produk yang dijualnya.

"Tahun 2020 kami mencanangkan green beauty campaign. Kami mulai dari kemasan dululah karena memang apa yang diterima konsumen. Seiring perkembangan bisnis, pasti semakin banyak produk dan kemasan yang dihasilkan," ungkap Manajer Produk Senior Garnier Indonesia, Diana Beauty.

Dia menjabarkan, Garnier mengurangi sampah plastik dengan cara membuang lapisan biru plastik pakai pada produk masker dan membuang plastik segel. Dengan dua cara itu, Garnier disebut telah menghemat hingga sebesar 32 ton sampah plastik pada tahun 2019.

Tahun ini lanjutnya, Garnier meluncurkan produk 100 persen kemasan daur ulang pada sejumlah produk tertentu. Inovasi itu akan terus berkembang Ke depannya, yaitu kemasan yang dapat didaur ulang dan tidak berbasis hewan.

"Kita punya komitmen yang serius dan sampai 2025, kita tidak akan menggunakan virgin plastic. Sama sekali zero virgin plastic. Di Eropa, Garnier sudah meluncurkan produk shampoo bars yang kemasannya menggunakan kertas," ujarnya.

Terkait daur ulang, Garnier memiliki aplikasi recycle atau daur ulang yaitu pelayanan penjemputan sampah untuk masyarakat di Jabodetabek. (Ant).

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel