Sandi Ungkap Kisah Mirisnya Jadi Petugas Damkar Depok

Syahrul Ansyari, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA - Pegawai Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Depok, Sandi, kembali memenuhi panggilan tim penyidik Kejaksaan Negeri Depok, Jumat, 16 April 2021. Kali ini, ia pun membawa sejumlah bukti tambahan terkait dugaan korupsi pada dinas tersebut.

“Saya memenuhi panggilan dari kejaksaan, itu ada panggilan mereka mengenai sesuatu pemotongan intensif yang kami terima, bersangkutan dana COVID-19,” katanya.

Selain mengeluhkan soal adanya praktik korupsi ditempatnya bertugas, Sandi juga sempat membeberkan minimnya perhatian pejabat terkait untuk penyediaan alat kelengkapan kerja.

Seperti, alat penangkap ular. Sandi dan sejumlah temannya terpaksa membuat dengan cara swadaya. Alat tersebut mereka buat sejak teror ular kobra yang sempat membuat resah warga Depok, pada 2019 lalu.

“Sampai di salah satu tempat, itu dibelikan oleh komandan regunya pakai duit pribadi. Itu di salah satu pos juga di kota Depok, itu dia (alat) dari komandan regunya dimodalin.”

Baca juga: Bongkar Dugaan Korupsi Damkar Depok, Sandi: Saya Tidak Kuat

Tak hanya itu, Sandi dan teman-teman tenaga honorer lainnya juga bahkan sempat mengumpulkan uang untuk membeli alat pemotong besi. Itu terjadi ketika ada warga yang jarinya tersangkut cincin.

“Ya itu misalnya alat pembelah cincin, itu urunan. Ya kan kita beli di online sekitar Rp 200 ribuan.”

Namun Sandi menegaskan, ia melakukan itu secara ikhlas demi pengabdian pada tugas dan negara.

“Ya untuk pelayanan masyarakat.”

Di sisi lain, Sandi tak menampik apa yang dilakukannya karena tekanan dilapangan.

“Kan seperti kata saya kemarin, yang dikomplain masyarakat itu bukan pejabat. Yang dikomplain masyarakat itu kita anggota lapangan yang merasakan komplain masyarakat, terus desakan masyarakat. Laporan yang menerima kan anggota di lapangan. Pejabat hanya tahu, duduk, laporan, seperti itu,” katanya.

Ia menyebut, ketika bertugas seringkali mendapat keluhan dari masyrakat terkait pelayanan. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena memang alat yang terbatas.

“Kadang gitu, mereka (masyarakat) kayak membandingkan. Saya lihat di tivi di wilayah lain bisa, mas, kok disini nggak bisa, kan sama-sama pemadam. Kami kan juga, ya sebagai jiwa pemadam juga, waduh gimana ya, takut gitu, ngejaga nama baik kita juga, seragam kita juga.”

Untuk diketahui, kasus dugaan korupsi pada Damkar Depok dibongkar oleh Sandi, pegawai honorer di tempat tersebut. Adapun salah satu keluhan Sandi adalah soal insentif honor penanggulangan COVID-19.

Ia mengaku, diminta untuk tandatangan dengan nominal sekitar Rp1,7 juta. Namun yang diterima hanya sekitar Rp850 ribu. Kasusnya kini ditangani Kejaksaan Negeri Depok dan Polres Metro Depok.