Sandiaga sebut Biennale Jogja untuk tampilkan budaya Indonesia

·Bacaan 2 menit

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan pameran “Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 Indonesia with Oceania” bertujuan untuk berkontribusi dalam wacana seni rupa dunia dengan menampilkan sejarah dan budaya Indonesia.

Penyelenggaraan itu juga ditujukan untuk memperlihatkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara di ekuator (khatulistiwa) aktif berperan dalam perkembangan dinamis budaya global.

“Pameran ini merupakan langkah yang baik untuk menjalin kerja sama dengan berbagai negara khatulistiwa. Kemenparekraf sendiri akan mendukung setiap pelaksanaan event yang memberikan ruang bagi perkembangan seni dan budaya, karena dapat memperkaya daya tarik wisata dan menggerakkan perekonomian daerah,” katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis.

Sandi mengatakan Kemenparekraf mendukung pergelaran pameran tersebut untuk meningkatkan semangat berkreasi pelaku ekonomi kreatif, khususnya di bidang seni rupa di tengah pandemi COVID-19,

Ia mengharapkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Yogyakarta dapat dapat terus berkembang dan bangkit dari pandemi COVID-19.

Karena itu, dikatakan, implementasi dari tiga pilar utama Kemenparekraf yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi harus dilakukan.

Juga, disertai pendekatan 3G yang terdiri dari gerak cepat (gercep), gerak bersama (geber), dan garap semua potensi (gaspol) untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 merupakan bagian keenam dari seri ekuator yang sudah dimulai sejak 2011 oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY). Pameran ini dilangsungkan pada 6 Oktober - 14 November 2021 secara hybrid.

Tema yang diangkat pada seri kali ini adalah ‘Roots <> Routes’ yang akan memperlihatkan hubungan nusantara Indonesia dengan negara-negara di Oseania sebagai rekanan untuk menafsir persoalan yang sama melalui karya seni dan budaya kontemporer lokal.

Salah satu program pameran yang disuguhkan dalam acara ini ialah Pameran Utama di Jogja National Museum dengan menampilkan karya dari lebih 30 seniman Indonesia dan mancanegara.

Selain pameran utama, terdapat juga Pameran Arsip di Taman Budaya Yogyakarta yang menampilkan arsip-arsip dalam format yang berbeda, berubah menjadi pertunjukan, instalasi, dan bentuk lainnya.

Biennale Jogja kali ini juga menggelar beberapa program publik yang menghadirkan narasumber kompeten di bidang seni rupa kontemporer dalam dan luar negeri. Beberapa program publik tersebut bertajuk Forum Diskusi Publik dan Sesi Viral yang dikemas secara online.

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika mengungkapkan bahwa Biennale Jogja kali ini menjadi istimewa karena menandai satu dekade Biennale Jogja seri khatulistiwa yang dimulai sejak 2011.

Karena itu itu, diselenggarakan pula pameran arsip yang menampilkan kembali serpihan artefak dan catatan tentang bagaimana Yayasan Biennale Yogyakarta tumbuh dan berkembang dalam ekosistem seni di Yogyakarta dan di kawasan Global Selatan.

“Biennale Jogja tahun ini menjadi penutup dari rangkaian seri Ekuator. Tentu akan ada kejutan-kejutan lainnya dari Yayasan Biennale Yogyakarta,” kata Alia.

Baca juga: Menparekraf tertarik bangun pola perjalanan wisata Borobudur-Liyangan

Baca juga: Menparekraf sambut baik pagelaran busana di Candi Prambanan

Baca juga: Inovasi teknologi dan kolaborasi kunci bangkitkan pariwisata

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel