Sandiaga Uno: Desa Wisata Jadi Lokomotif Kebangkitan Ekonomi Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan keberadaan desa wisata mampu mendorong kebangkitan sektor pariwisata dan perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19. Desa wisata merupakan pembangunan pariwisata skala mikro.

"Selain pembangunan pariwisata prioritas, ada pembangunan yang skalanya mikro sekali yaitu desa wisata. Ini ternyata di seluruh Indonesia semangat sekali mengembangkannya. Saya yakin ini menjadi bagian dari lokomotif kebangkitan ekonomi Indonesia," katanya, Jakarta, Kamis (15/7/2021).

Dia menjelaskan, situasi pandemi membuat masyarakat banyak kehilangan pekerjaan. Hal tersebut menyebabkan sebagian masyarakat kembali ke desa, datang untuk mencari daya tarik dan keunikan lain yang tidak dimiliki desa-desa yang lainnya.

Desa wisata sendiri berhasil menarik para wisatawan untuk berkunjung, bahkan tidak sedikit juga yang menginap di homestay rumah-rumah warga dengan suasana pedesaannya yang terbilang masih sangat kental akan warisan trandisional.

"Desa wisata juga dinilai sebagai destinasi yang mampu mengakomodasi penerapan protokol kesehatan, sebab tidak menimbulkan kerumunan seperti di lokasi wisata populer," kata Sandiaga Uno.

Kemenparekraf mencatat jumlah desa wisata kini mencapai 1.352 lokasi. Jumlah tersebut terus bertambah seiring waktu. Desa wisata ini hadir membuka peluang usaha, peluang ekonomi dan membuka lapangan kerja di tengah-tengah masyarakat yang selama ini terdampak oleh pandemi.

"Jadi kita ciptakan peluang usaha masyarakat, ujung-ujungnya kita tingkatkan kesejahteraan masyarakat di masing-masing desa wisata," tandas Sandiaga Uno.

Anggun P. Situmorang

Merdeka.com

Sandiaga Uno Bakal Gandeng BKPM demi Genjot Investasi Pariwisata

Sandiaga Uno membahas tentang dana hibah pariwisata dan bantuan insentif pemerintah secara daring, Senin (24/5/2021) (Liputan6.com/Komarudin)
Sandiaga Uno membahas tentang dana hibah pariwisata dan bantuan insentif pemerintah secara daring, Senin (24/5/2021) (Liputan6.com/Komarudin)

Realisasi investasi pariwisata menunjukkan tren naik pada akhir 2020, setelah sempat merosot pada kuartal II. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno menuturkan, realisasi investasi pariwisata pada 2020 mencapai USD 2,15 miliar, atau Rp 30,99 triliun.

Rinciannya, penanaman modal asing (PMA) sekitar USD 615,27 juta atau Rp 8,85 triliun. Asal negaranya yakni Singapura USD 380,35 juta atau Rp 5,48 triliun, Honkong USD 45,94 juta atau Rp 0,66 triliun, dan Australia USD 45,94 juta atau Rp 0,66 triliun.

Dari jenis usahanya, paling banyak adalah di bidang akomodasi mencapai USD 380,57 juta atau Rp 5,48 triliun. Kemudian kawasan pariwisata dan penyediaan makanan minuman masing-masing USD 86,17 juta atau Rp 1,74 triliun.

Adapun daerah tujuan paling banyak Bali senilai USD 194,24 juta atau Rp 2,80 triliun. Kepulauan Riau, USD 111,89 juta atau Rp 1,61 triliun, dan DKI Jakarta USD 88,06 juta atau Rp 1,27 triliun.

“Saya baru saja saksikan penandatanganan kerja sama antara Paramount Parks and Resort. Paramount adalah perusahaan besar di bidang ekonomi kreatif yang akan tanamkan investasi di Kabupaten Jembrana, Bali,” kata Sandiaga Uno dalam Investor Daily Summit 2021, Kamis (15/7/2021).

Sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat sebesar USD 1,54 miliar atau Rp 22,12 triliun. Rinciannya, paling banyak untuk akomodasi sebesar Rp 9,17 triliun, kawasan pariwisata Rp 8,76 triliun, serta penyediaan makanan dan minuman sebesar Rp 1,03 triliun. Dengan daerah tujuan investasi paling besar di DKI Jakarta sebesar Rp 4,83 triliun. Disusul Banten Rp 3,21 triliun, dan Jawa Barat sebesar Rp 3,06 triliun.

"Kita terharu, bahwa di tengah pandemi kegiatan investasi masih terus dilaksanakan," kata Sandiaga.

Saat ini, kontribusi investasi pariwisata terhadap realisasi investasi nasional masih rendah. Yakni hanya 3,74 persen di 2020. Untuk itu, Kemenparekraf akan tandatangani MoU dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk percepatan realisasi investasi pariwisata.

"Kami akan tandatangani MoU dengan Bahlil Lahadalia (Kepala BKPM) karena kita ingin ada percepatan. Saat yang terbaik untuk melakukan investasi adalah saat ada ‘VUCA’. Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Oleh karena itu kita ingin dorong investasi sebagai bagian strategi untuk bangkit saat sulit," pungkas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel