Sang Istri Ungkap Kejanggalan Penyebab Tewasnya Pendaki di Gunung Dempo

Liputan6.com, Palembang - Misteri hilangnya dua pendaki asal Provinsi Jambi di Gunung Dempo Pagar Alam Sumatera Selatan (Sumsel), JUM (26) dan FIK (19) yang ditemukan meninggal dunia pada bulan November 2019, akhirnya diungkap oleh istri Jum, Suci Anandita.

Melalui akun Instagramnya @sucianindita, perempuan ini mengungkapkan kejanggalan hilangnya suami dan adik kandungnya. Unggahan dua hari lalu ini menceritakan kronologi hilangnya suami dan adik kandungnya.

Awalnya, Suci tidak ingin memublikasi apa yang membuat mereka curiga, karena akan ada beberapa pihak yang merasa terpojokkan. Namun, akhirnya Suci memberanikan diri membuka ke media sosial (medsos).

Suci bercerita pada tanggal 14 Okober 2019 adik dan suaminya berangkat dari Muara Bungo Jambi sekitar pukul 11.00 WIB. Sebelumnya, mereka mampir ke rumah temannya di kawasan Kapahiyang Jambi.

"Tanggal 15 Oktober 2019, suami dan adik saya melanjutkan perjalanan ke Pagar Alam Sumsel. Sekitar pukul 15.00 WIB, suami saya mengirim pesan di aplikasi WhatsApp, jika mereka sudah sampai di Pagar Alam dan sedang beristirahat,” tulisnya, Jumat (17/1/2020).

Sehabis magrib, suami Suci meneleponnya dan mengatakan jika mereka akan memulai pendakian. Ternyata itu adalah telepon terakhir dari suaminya yang diterima Suci.

Selama tiga hari, Suci menunggu kabar dari suami dan adiknya, tetapi nihil. Biasanya suami dan adiknya selalu mengabarinya dua hari setelah pendakian.

"Aku tetap berusaha berpikir positif, mungkin mereka belum sempat ngecas hp. Aku berusaha cari kontak kawannya yang di Kapahiyang buat nyari info" ungkapnya.

Teman suaminya di Kapahiyang Jambi memastikan jika JUM dan FIK mendaki Gunung Dempo melewati jalur Tugu Rimau. Pada waktu bersamaan, Suci juga berusaha mencari kontak orang pos pendakian Gunung Dempo.

Suci semakin sulit mendapatkan informasi, apalagi JUM dan FIK mendaki lewat Jalur Tugu Rimau tanpa ada pos penjagaan. Sehingga pendaki yang naik di jalur tersebut tidak terpantau.

Penjaga pos di Tugu Rimau Gunung Dempo Pagar Alam juga, tidak bisa memastikan apakah suami dan adiknya memang melakukan pendakian atau sudah turun.

"Orang pos cuma bisa nanya-nanya sama pendaki yang turun dan beberapa pedagang di sekitar jalur pendakian via Tugu Rimau. Tidak ada satu pun yang lihat mereka, jadi orang pos juga tidak ada yang berani ambil kesimpulan, mereka benar-benar mendaki Gunung Dempo," katanya.

Pada tanggal 20 Oktober 2019 malam, Suci sekeluarga dihubungi kembali oleh penjaga pos Gunung Dempo Pagar Alam, jika ada pendaki yang sempat bertemu Jum dan Fik di jalur pendakian. Bahkan, mereka sempat mendaki bareng dan mendirikan tenda berdekatan.

Suci mulai menemukan sedikit titik terang. Akhirnya, mereka sekeluarga berangkat ke Pagar Alam, untuk membuat laporan di Polres Pagar Alam agar Tim SAR bisa turun untuk melakukan pencarian.

Saat itu kondisi Suci sedang hamil 7 bulan. Awalnya dia ingin ikut berangkat ke Pagar Alam namun dilarang ibunya. Di tanggal 21 Oktober 2019, ibu Suci bersama tiga pendaki berangkat ke Pagar Alam.

Tanggal 22 Oktober 2019 pagi, ibu Suci, para pendaki ditemani petugas pos Gunung Dempo, akhirnya pergi ke Polres Pagar Alam untuk membuat laporan kehilagan. Pada malam harinya, Tim SAR dibantu tim Wanadri dan relawan langsung bergerak naik untuk pencarian suami dan adik Suci.

Pada hari Rabu (23/10/2019), tim pencarian menemukan baju, celana, sepatu dua unit bantal dan pakaian dalam yang kotor di daerah pelataran, pencarian pun tetap berlanjut. Hingga tanggal 25 Oktober 2019, seorang pendaki berinisial MG mendatangi pos relawan.

MG bercerita bahwa dia bertemu dengan Jum dan Fik di jalur shelter 2 pada tanggal 15 Oktober 2019 dini hari.

"Berangkat bersama menuju ke pelataran, serta menginap di pelataran dengan jarak tenda yang sedikit berjarak. Mereka bertemu dengan seorang peziarah yang mengaku bertapa di atas gunung di sekitar pelataran," ucapnya.

Peziarah itu mengaku sudah berada selama 13 hari di pelataran Gunung Dempo Pagar Alam dan bertahan hidup dengan meminta makanan ke pendaki yang datang. Pada malam harinya, mereka sempat mengobrol, peziarah itu juga menginap di pelataran tersebut.

Lalu, peziarah itu mengatakan jika dia tidak suka dengan suami Suci. Dia sempat bicara jika saat dia masih muda, peziarah itu akan menghabisi orang yang menggunakan kalung. Kalimat itu ditujukan ke Jum.

"Karena ia tidak menyukai orang yang menggunakan kalung, tapi bicaranya pakai bahasa daerah. Keesokan harinya pendaki MG sempat menghampiri tenda adik dan suami aku, tetapi tidak menemukan adik dan suami aku," ucapnya.

MG hanya melihat dua gelas kopi yang masih hangat di depan tenda. Dia juga tidak melihat peziarah yang menginap di pelataran itu, lalu MG turun gunung.

Pencarian Jum dan Fik pun terus berjalan. Kesaksian dari MG diakuinya menjadi salah satu bukti jika Jum dan Fik, melakukan pendakian di Gunung Dempo Pagar Alam. Tim SAR, relawan dan para pendaki terus melakukan pencarian.

Akhirnya salah satu relawan menemukan baju kaus Jum di dekat tenda peziarah, dengan lokasi yang berbeda. Pencarian diperluas ke seluruh kawasan Gunung Dempo Pagar Alam, tetapi sempat tertunda karena cuaca yang buruk.

Pada tanggal 29 Oktober 2019, tim pencarian menemukan tracking pole, korek kriket, dan botol minum di puncak gunung. Pada hari itu, tim juga menemukan kalung Jum, ditemukan tidak jauh dari penemuan tracking pole.

Pada tanggal 1 November 2019 tepatnya 10 hari pencarian, tim Wanadri meneropong daerah di sekitar kawah, dan melihat ada kantong berwarna biru di dekat kawah Gunung Dempo.

Pada hari itu, seluruh tim dan keluarga melakukan briefing besar-besaran tentang pencarian selama 10 hari. Mereka menarik kesimpulan dari berbagai tim yang terjung langsung dalam pencarian.

 

Jasad Pendaki Ditemukan

Pelataran Gunung Dempo Pagar Alam yang diceritakan istri pendaki asal Jambi yang meninggal dunia di kawah gunung (Liputan6.com / Nefri Inge)

Keesokan harinya, tim pencarian keseluruhan dikerahkan untuk naik ke puncak di sekitar kawah dan penelusuran daerah pelataran, serta daerah timur Gunung Dempo yang belum ditelusuri.

Saat tim Wanadri dan relawan mencoba berjalan lebih turun ke kawah, mereka meneropong kantong plastik biru yang terlihat sebelumnya, ternyata pakaian yang digunakan Fik.

"Seluruh tim dikerahkan menuju lokasi. Keesokan harinya, 4 orang tim relawan turun menuju ke lokasi adik dan suami aku. Mereka melakukan pengangkatan (jenasah) suami aku terlebih dahulu dan (jenasah) adik aku dievakuasi keesokan harinya," katanya.

Jasad suami Suci dipulangkan ke rumah duka pada tanggal 3 November 2019, sedangkan jenasah Fik dipulangkan tanggal 5 November 2019. Kedua pendaki ini dimakamkan di kampung halamannya.

Karena dibutuhkan waktu yang lama dari Pagar Alam menuju daerah asal Suci, keluarga yang berada di lokasi kejadian, langsung bergegas pulang untuk mengikuti prosesi pemakaman.

Kepulangan keluarga dua pendaki yang terburu-buru, sehingga bukti pembayaran dari rumah sakit setempat belum bisa mereka dapatkan. Namun, dari bukti yang mereka dapatkan dari proses pencarian, ada kejanggalan yang aneh.

Kejanggalan itu ada dari banyaknya barang yang hilang dan beberapa bekas luka yang mencurigakan. Keluarga pun menindaklanjuti kasus ini dan mencari bukti lainnya. Kami menceritakan semua proses pencarian kepada keluarga yang bertugas di Polres Muara Bungo tempat kami tinggal,” katanya.

Keluarga Suci yang anggota polisi itu juga merasakan banyak kejanggalan terhadap kasus ini. Dia akhirnya berinisiatif untuk melacak ponsel adiknya. Dalam proses pelacakan, teman Fik memberitahu jika dia sempat mendapat pesan dari Fik pada tanggal 9 November 2019. Padahal pada tanggal itu, jasad suami dan adik Suci sudah dimakamkan.

Keesokan harinya, ponsel adiknya terlacak di sekitar Kabupaten Lahat Sumsel. Ibu Suci langsung berangkat ke Pagar Alam, untuk membuat laporan kehilangan barang-barang Jum dan Fik yang dibawa mendaki Gunung Dempo.

 

Ponsel Korban Terlacak

JUM (tengah) dan FIK (kiri), pendaki asal Jambi yang ditemukan meninggal dunia di kawah Gunung Dempo Pagar Alam Sumsel (Dok. Instagram @sucianandita / Nefri Inge)

"Dari hasil lacakan hp adikku, ada nomor yang mengaktifkan hp adik aku. Nomor itu terdaftar dengan nomor KK dari keluarga inisial RL. Mama mengirim data tersebut ke pihak polisi daerah Pagar Alam," tulisnya.

Pihak kepolisian Pagar Alam meminta ibu Suci pulang dulu ke rumah sembari menunggu kelanjutan informasi. Aparat kepolisian berjanji akan menindaklanjuti dengan memanggil RL untuk dimintai keterangan dan kesaksian.

Dari kesaksian itu, RL mengaku jika HP itu dia beli dan dibawa anaknya ke Kota J. Tapi pada hari yang sama, kerabat Suci yang bertugas di Polres Muara Bungo melacak kembali ponsel tesebut.

Kerabat Suci mendapatkan jika ponsel itu masih berada di daerah yang sama, namun posisinya berpindah dari tempat asal. Dalam beberapa hari, Suci sekeluarga mendapatkan kabar dari Polres Pagar Alam, jika disimpulkan ponsel yang dibeli RL bukan punya adik Suci.

"Nomor yang terdaftar di hp adik aku yang terlacak itu sudah aktif 2 tahun lalu. Sampai dimana pihak polisi Pagar Alam tetap melakukan pengembangan kaus terakhir dari kalian. 71 hari setelah kalian pulang dalam dekapan tuhan, kepergian kalian menjadi teka-teki bagi kami, teka-teki tanpa petunjuk, teka-teki tanpa alur,” ujarnya.

Saat Suci sekeluarga mencari cara untuk menemukan jawaban, orang-orang yang dianggap sangat menolong dan datang mengulurkan tangan untuk menebak teka-teki ini, langsung mundur tanpa alasan apa pun.

Suci merasa orang-orang yang awalnya menolongnya menutup mata dan telinga, agar semua ini seakan telah selesai dan sampai ke jalan buntu.

"Apakah sesulit itu prosedur untuk mengungkap teka-teki ini? Kehilangan dua sosok pemimpin tanpa ada kepastian yang kami dapatkan. Sudah ada jelas nyatanya kejanggalan yang ada dalam teka-teki ini,” ucapnya.

"Kepada siapa lagi kami mengadu dan meminta pertolongan. Kami hanya rakyat yang meminta keadilan dan kepastian hak kami,” dia menandaskan.

 

Simak video pilihan berikut ini: