Saptari Hoedaja, Sosok yang Ubah BUMI Jadi Produsen Batu Bara Terbesar di RI

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Berita duka datang dari manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Presiden Direktur PT Bumi Resources Tbk, Saptari Hoedaja tutup usia pada Minggu, 4 Juli 2021 pukul 08.41 WIB. Ia meninggal dunia pada usia 62 tahun di RS MMC.

Direktur PT Bumi Resources Tbk, Dileep Srivastava mengatakan sulit untuk menyampaikan sosok Saptari Hoedaja dan apa yang dilakukan bagi perusahaan.

"Seorang yang ikonik, berempati, berpengetahuan, visioner, berorientasi pada hasil, seorang mentor sejati, dan sangat mudah didekati dan memiliki semangat hidup,” kata Dileep lewat pesan singkat yang diterima Liputan6.com, Minggu (4/7/2021).

Dileep menceritakan, sosok Ari telah mengubah PT Bumi Resources Tbk dari perusahaan hotel yang mengubah BUMI menjadi perusahaan energi kemudian raksasa batu bara Indonesia.

Kemudian diversifikasi ke logam yang memperoleh aset berkualitas, terintegrasi ke listrik, hilir ke gasifikasi, mendirikan perusahaan operasi pertambangan, memprioritaskan standar tertinggi ESG. Tak hanya itu, sosok Ari juga terlibat untuk mendorong nilai yang tumbuh dan kesiapan untuk hadapi tantangan masa depan.

"Orang yang dihormati, berorientasi pada solusi, mentor sejati, dipimpin oleh contoh dengan semangat yang tak tertandingi untuk mewujudkan visi masa depan perusahaan,” kata dia.

Dileep menuturkan, saat ini momen yang sangat menyedihkan bagi Bumi Resources dan grup Bakrie. "Kita kehilangan sebuah permata yang sangat berharga. Ketidakhadiran Pak Ari dan perpisahannya yang menyedihkan dari pagi ini telah dan akan selalu kita rasakan. Dia memelihara BUMI seperti kita sekarang ini. Hari ini,” ujar dia.

Profil Saptari Hoedaja

Mengutip laman Bumi Resources, Saptari Hoedaja lulus dari ITB jurusan Teknik Mesin pada 1983. Ia lahir di Jakarta pada 30 Mei 1959.

Pria yang akrab disapa Ari Hudaya ini juga menjabat sebagai Presiden Direktur Perseroan sejak 2001. Almarhum Ari Hudaya juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Kaltim Prima Coal, Presiden Komisaris PT Energi Mega Persada Tbk sejak 2007, dan Presiden Komisaris PT Bumi Resources Minerals Tbk sejak 2009.

Sebelumnya ia menjabat sebagai Chief Executive Officer Bumi Plc (2011-2012), dan Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk (2008-2010).

Mengutip laman KPC.co.id, Saptari pernah meraih menghargaan Top Leader on CSR Commitment 2020. Penghargaan tersebut didapatkan dari Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), Indonesian CSR Society dan Majalah Top Business, Agustus 2020.

Selain meraih Top Leader on CSR Commitment 2020, induk KPC PT Bumi Resources Tbk juga meraih empat bintang untuk perusahaan dalam TOP CSR Award 2020.

PT Bumi Resources Tbk melakukan penawaran umum perdana saham di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada 1990. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 31 Agustus 1998, diputuskan untuk mengubah bisnis utama Perseroan dari bidang perhotelan dan pariwisata menjadi bidang minyak, gas alam dan pertambangan.

Pada 2000, perseroan akuisisi saham Gallo Oil (Jersey) Ltd sebesar 97,5 persen. Berdasarkan SK Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor C-21041 HT.01.04-TH 2000 pada 20 September, nama perseroan berubah dari PT Bumi Modern Tbk menjadi PT Bumi Resources Tbk.

Pada satu tahun berikutnya, tepatnya pada November 2001, perseroan akuisisi 80 persen saham PT Arutmin Indonesia (AI) produsen batu bara terbesar keempat di Indonesia.Pada Oktober 2003, perseroan membeli 100 persen saham PT Kaltim Prima Coal (KPC), produsen batu bara terbesar di Indonesia setelah akuisisi Sangatta Holdings Ltd (SHL) dan Kalimantan Coal Ltd (KCL). Pada 2004, perseroan akuisisi 19,99 persen saham Arutmin sehingga meningkatkan kepemilikannya menjadi 99,99 persen.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel