Saran Ahli untuk Memperbaiki Obesitas pada Anak

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Para ahli di negara maju menasihati keluarga untuk menghindari menyalahkan diri sendiri bila anak mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sebaiknya, menyempatkan diri untuk memuji anak-anak atas perilaku yang sehat dan keputusan yang baik.

Anda mungkin bingung menjelaskan ke dokter ketika berat badan anak meningkat terlalu cepat, terutama saat pandemi seperti saat ini.

Namun di sisi lain ada masalah dari stigma gemuk, bahwa beberapa orang menganggap ketika dokter mengungkit masalah berat badan, hal ini sama dengan merenggut kepolosan dan kebahagiaan anak yang merasa nyaman-nyaman saja dengan tubuhnya.

Sayangnya, pandemi telah menimbulkan kekhawatiran tentang kenaikan berat badan anak-anak dan mungkin diperburuk oleh ketidakaktifan anak seperti tidak pergi ke sekolah, yang biasanya memiliki program aktivitas dan olahraga dan menandai beberapa waktu untuk larangan makan. Kesulitan ekonomi dan terbatasnya belanja bahan makanan bahkan mungkin membatasi kemampuan beberapa keluarga untuk membuat pilihan makanan sehat.

Seorang profesor pediatri dan direktur Duke Center for Childhood Obesity Research, Dr. Eliana Perrin, menyarankan agar orang tua harus memberanikan diri memuji diiri sendiri.

“Keluarga mengalami masa sulit, anak-anak mengalami masa sulit, peningkatan kerawanan pangan, orang kehilangan pekerjaan, anak-anak mungkin kehilangan makanan sekolah (yang sehat yang biasanya sudah diatur oleh ahli gizi sekolah)," katanya, seperti dikutip Nytimes.

Seorang dokter anak, Dr. Sandy Hassink, yang mengabdikan karirnya untuk merawat anak-anak dengan obesitas dan sekarang bekerja dengan American Academy of Pediatrics di Institute for Healthy Childhood Weight, mengatakan, “Bahkan pada masa sebelum COVID-19, saya memperhatikan sebagai seorang dokter bahwa nutrisi dan aktivitas cenderung hilang pada saat stres."

Ada beberapa faktor yang memang menyulitkan keluarga untuk mempertahankan gaya hidup sehat selama pandemi, dari peningkatan waktu duduk dan waktu layar hingga peningkatan ngemil dan tidur yang tidak teratur yang terkadang terjadi saat berada di rumah. Keluarga mungkin memiliki akses yang lebih sedikit ke makanan segar dan kemudian, tentunya stres makan, kata Dr. Hassink.

Saran untuk keluarga

Anak-anak obesitas semuda usia delapan tahun sudah perlihatkan masalah pada jantungnya. (Foto: student.societyforscience.org)
Anak-anak obesitas semuda usia delapan tahun sudah perlihatkan masalah pada jantungnya. (Foto: student.societyforscience.org)

Dr. Perrin dan rekan-rekannya di Duke pediatrics mengumpulkan serangkaian saran untuk keluarga, tetapi sebelum mereka membahas perubahan pola makan secara spesifik, peningkatan aktivitas, waktu layar dan tidur, mereka memulai dengan kategori yang mereka sebut "Bertahan Hidup." Menasihati keluarga untuk memperhatikan “pikiran, hati, tubuh, jiwa,” untuk menghindari menyalahkan diri sendiri, meluangkan waktu untuk memuji anak-anak atas perilaku yang sehat dan keputusan yang baik.

“Lupakan apa yang 'perlu' dilakukan untuk tujuan aktivitas fisik dan tujuan makan yang 'sempurna'. Lakukan yang terbaik untuk makan di rumah dan usahakan untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari,” tulis Dr. Perrin. Saran khusus seputar makanan termasuk melibatkan anak-anak dalam memasak, melihat panduan gizi untuk merencanakan makanan sehat dengan anggaran terbatas. Untuk aktivitas fisik, carilah cara untuk bergerak, meski sedikit, setiap hari.

"Seperti biasa, cobalah untuk fokus pada perilaku, bukan berat badan. Yang penting adalah memastikan keluarga makan sebaik yang mereka bisa, biji-bijian, protein, buah-buahan dan sayuran, air minum, daripada banyak makanan cepat saji atau minuman yang dimaniskan dengan gula, dan memastikan mereka tetap aktif," tulis Dr. Perrin.

Ada banyak masalah yang harus ditangani dalam hal pemerataan kesehatan, tetapi untuk obesitas pada masa kanak-kanak adalah masalah kesehatan serius juga, karena terkait dengan beberapa kondisi mendasar yang membuat orang berisiko COVID-19 lebih tinggi terkena penyakit parah.

Kesenjangan ini memerlukan perbaikan sistemik yang kompleks, mulai dari akses ke makanan sehat, tempat aman untuk aktivitas luar ruangan, hingga layanan kesehatan mental yang lebih baik, hingga dukungan lain yang dapat mengurangi stres pada keluarga. Namun yang terjadi saat ini, orang tua dan anak-anak sering kali disalahkan dan dicela.

“Obesitas itu sendiri sebagai penyakit menghadirkan risiko infeksi COVID yang lebih parah,” kata Dr. Hassink.

Dr. Michelle White, asisten profesor pediatri di Duke, adalah peneliti layanan kesehatan yang mempelajari apa yang mungkin melindungi keluarga dengan risiko tinggi obesitas, melihat faktor lingkungan dan keluarga, termasuk cara lingkungan dapat berkontribusi terhadap solusi risiko obesitas. Dr. White mengatakan bahwa penting untuk tidak melihat kenaikan berat badan pandemi hanya sebagai produk dari pola makan dan perilaku olahraga. “Konteks sosial dan konteks fisik keluarga sangat penting dalam hal risiko kenaikan berat badan,” katanya. Selain itu beberapa orang mengalami hambatan untuk berolahraga karena ketakutan terpapar COVID dan juga rawan pangan serta tingkat stres yang tinggi.

“Begitu banyak orang yang tidak mencapai tujuan mereka karena mereka memiliki kebutuhan kesehatan mental yang tidak terpenuhi,” kata Dr. Messito, menunjuk pada kebutuhan akan lebih banyak sumber daya kesehatan mental untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Penambahan berat badan karena pandemi adalah masalah bagi orang dewasa maupun anak-anak, kata Dr. Taveras. “Kami lebih sering di rumah, memiliki lebih banyak akses ke tempat tidur kami, lemari es kami, layar kami, kami mengalami stres dan ketidakpastian yang ekstrem, dan makanan serta istirahat adalah hal-hal yang digunakan orang untuk kenyamanan. Dan sangat berat untuk menangani semua ini sekaligus.

“Mungkin kita harus membantu orang memilih satu hal yang mereka pikir dapat mereka ubah untuk membuatnya lebih sehat, menyusun strategi tentang bagaimana mereka dapat membuat kemajuan dalam satu hal,” kata Dr. Hassink

Orang tua mungkin mencoba untuk menyimpan makanan yang lebih sehat di rumah, sehingga menghilangkan kebiasaan anak untuk jajan yang tidak sehat.

Aatu mungkin mulai dengan mengatur waktu untuk makan makanan tertentu. Mungkin juga membuuat kesepakatan dengan anak untuk berdiri dan berjalan-jalan di sekitar rumah selama lima menit jeda diantara waktu layar.

“Ambillah satu hal pada satu waktu yang mungkin ingin Anda ubah, dapatkan bantuan dari dokter anak Anda tentang sumber daya apa yang mungkin tersedia di komunitas Anda untuk makanan dan aktivitas fisik, dan jangan menyalahkan diri sendiri,” kata Dr. Hassink. “Ambil satu langkah kecil dan kemudian doronglah untuk mengambil langkah berikutnya.”

Infografis Obesitas

Arya Permana, salah satu contoh kasus obesitas yang mengkhawatirkan (liputan6.com/Tri yasni)
Arya Permana, salah satu contoh kasus obesitas yang mengkhawatirkan (liputan6.com/Tri yasni)

Simak Video Berikut Ini: