Saran Warren Buffett untuk Hadapi Dampak Inflasi Tinggi

Merdeka.com - Merdeka.com - Inflasi berdampak buruk bagi suatu negara. Banyak harga komoditas hingga bahan pangan yang naik tajam. Sayangnya, tidak ada yang dapat dilakukan seorang individu untuk menghindari inflasi.

Meski demikian, CEO Berkshire Hathaway dan investor legendaris Warren Buffett mengatakan, seseorang dapat membuat langkah-langkah tertentu untuk melindungi dari dampaknya.

Berbicara pada pertemuan pemegang saham tahunan Berkshire Hathaway 2022, Buffett mengulangi nasihatnya yang telah lama dipegangnya bahwa salah satu perlindungan terkuat terhadap inflasi adalah mempertajam keterampilan Anda dan bekerja untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda.

"Hal terbaik yang dapat Anda lakukan adalah menjadi sangat baik dalam sesuatu," kata Buffett dilansir CNBC Make It.

Dia menjelaskan, keterampilan, tidak seperti mata uang, tahan terhadap inflasi. Jika Anda memiliki keterampilan yang diminati, itu akan tetap diminati tidak peduli berapa nilai dolarnya.

"Kemampuan apa pun yang Anda miliki tidak dapat diambil dari Anda. Investasi terbaik sejauh ini adalah apa pun yang mengembangkan diri Anda sendiri, dan tidak dikenakan pajak sama sekali," imbuhnya.

Ini saran yang mirip dengan apa yang dibagikan Buffett pada tahun 2009 di akhir Resesi Hebat, ketika pria berusia 78 tahun itu mengatakan hal terbaik untuk dilakukan adalah berinvestasi pada diri sendiri.

Pada saat itu, Buffett juga mengatakan hal terbaik berikutnya yang dapat dilakukan seseorang adalah berinvestasi dalam bisnis yang luar biasa, yang membuat produk yang diminati terlepas dari perubahan harga yang terus meningkat.

Contohnya seperti Coca Cola. Orang akan tetap menginginkan soda favoritnya beberapa dekade dari sekarang, dengan inflasi tidak berperan dalam keputusan mereka. "Tidak ada bedanya apa yang terjadi pada tingkat harga. Karena orang akan tetap membayar untuk produk yang mereka sukai," jelasnya.

Antisipasi Revisi Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Global

pertumbuhan ekonomi dan inflasi global rev1
pertumbuhan ekonomi dan inflasi global rev1.jpg

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menilai, revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi global oleh Dana Moneter Internasional (IMF) perlu diantisipasi pemerintah untuk mengelola ekonomi di triwulan II, khususnya keseluruhan tahun 2022.

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dari 4,4 persen menjadi 3,6 persen, dengan inflasi yang diperkirakan meningkat dari 3,9 persen menjadi 5,7 persen.

"Konflik Rusia dan Ukraina yang menyebabkan harga komoditas pangan dan energi meningkat, mengakibatkan IMF memproyeksikan ke bawah pertumbuhan ekonomi global," ujar Margo Yuwono dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Antara, Senin (9/5).

Konflik Rusia dan Ukraina mendorong harga komoditas di pasar global melonjak, seperti minyak sawit (CPO) hingga nikel pada kuartal I-2022. Harga CPO tercatat melonjak 18,44 persen jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) dan 52,74 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy).

Kemudian batubara meningkat 40,24 persen (qtq) dan 153,32 persen (yoy), minyak mentah 23,43 persen (qtq) dan 62,94 persen (yoy), timah 11,54 persen (qtq) dan 72,28 persen (yoy), serta tembaga 2,91 persen (qtq) dan 17,79 persen (yoy).

"Terlihat perkembangan harga komoditas yang sangat cepat di tingkat global saat ini. Peningkatan harga pun memberikan windfall bagi ekspor Indonesia," imbuhnya.

Selama kuartal I-2022, ekspor tumbuh agresif menjadi USD66,14 miliar. Demikian pula dengan impor yang mencapai USD56,82 miliar, sehingga neraca perdagangan tercatat surplus USD9,33 miliar. [azz]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel