Sasar milenial Jakarta, Satset Gerilya bahas PLTS terapung

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan kegiatan Saatnya Anak Muda Tahu Energi Terbarukan (Satset) Gerilya Series membahas PLTS (panel listrik tenaga surya) terapung dengan menyasar milenial di Jakarta.

Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Ketenagalistrikan Sripeni Inten Cahyani dalam keterangannya di Jakarta, Minggu mengatakan Kementerian ESDM terus mendorong berbagai pengembangan teknologi dan inovasi sektor ESDM dengan melibatkan generasi milenial.

Menurut dia, pentingnya keterlibatan anak muda tak lepas dalam upaya menjawab tantangan pencapaian target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) dan net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat, yang salah satunya dilakukan melalui Program Kampus Merdeka Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya) yang sudah berjalan selama dua semester.

"Saya pikir ini saatnya kita dorong program seperti ini untuk menjadi kurikulum wajib di perguruan tinggi," ungkapnya saat membuka kegiatan Satset Gerilya Series yang merupakan kolaborasi Kementerian ESDM dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) di Jakarta, Sabtu (18/6/2022).

Lebih jauh, Inten menyinggung potensi energi lokal sebagai basis ketahanan energi di masa mendatang.

"Kita ini diberi energi surya gratis. Apalagi data Global Horizontal Irradiation dari World Bank Group ada wilayah yang berwarna kuning kemerah-merahan. Artinya iradiasi Mataharinya tinggi, namun produksi pemanfaatannya menjadi tenaga listrik masih belum optimal. Ini peluang kita," jelasnya.

Pemanfaatan tenaga surya, sambungnya, sangat terbuka lebar mengingat masih rendahnya konsumsi listrik RI yang 1.039 kWh per kapita pada 2019. Angka ini jauh di bawah Vietnam (2.690 kWh), Thailand (2.636 kWh), dan Malaysia (5.097 kWh). "Dilihat dari sini, dengan jumlah penduduk dan market yang besar, kita ada peluang konsumsi listriknya ditingkatkan. Tapi ingat, kita jangan jadi penonton, harus jadi tuan rumah. Ini dimulai dari (kontribusi) anak muda," tegasnya.

Inten membandingkan pada 2019, Vietnam telah memproduksi listrik surya 5,9 TWh, sementara Indonesia kurang dari 0,01 TWh. Pemanfaatan hidro Vietnam yang juga tinggi, yaitu 67,4 TWh dibanding Indonesia hanya 16,5 TWh. "Ini tugas bersama. Tidak bisa menggantungkan Kementerian ESDM saja, termasuk institusi terkait lainnya dengan tetap mempertimbangkan supply dan demand," jelasnya.

Kondisi tersebut merupakan gambaran generasi milenial turut serta terlibat dalam meningkatkan pemanfaatan sektor EBT secara modern. Pemahaman akademis juga dibutuhkan untuk memperkuat implementasi pembangunan PLTS di lapangan. "Tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk turut membangun, tapi bisa dilakukan dengan hal-hal kecil. Pahami dengan ilmu yang besar dan ikutilah gerakan-gerakan secara rasional membangun EBT," ungkap Inten.

Ia mengatakan program Gerilya berbasis enviromental, social and governance (ESG) dan berbalut edukasi ini merupakan salah satu cara yang mampu memberikan dampak positif bagi perubahan sektor ESDM yang lebih baik. "Dengan mengikuti Gerilya, menurut saya adalah satu step, Anda telah memberikan kontribusi," pesan Inten.


Garap PLTS terapung

Pemanfaatan surya harus dikombinasikan dengan sumber energi lain, seperti hidro. Menurut Inten, kondisi ini diharapkan dapat menopang intermitensi dari tenaga surya. "Hidro ini bisa dimanfaatkan untuk mengimbangi intermitensi dari tenaga surya," katanya.

Pada kesempatan sama, Direktur Bendungan dan Danau Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR Airlangga Mardjono membeberkan potensi sumber daya air di Indonesia sebesar 2,78 triliun m3 per tahun yang mana dapat dimanfaatkan 691,31 miliar m3 per tahun. "Air yang termanfaatkan baru 222,59 miliar m3 per tahun. Kita punya potensi air yang belum dimanfaatkan, yaitu 468 miliar m3 per tahun," ungkapnya.

Untuk kapasitas listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Indonesia sebesar 8,17 persen dari keseluruhan jenis pembangkit di Indonesia. "Total sudah ada 5.879 MW listrik yang dibangkitkan dari semua PLTA di Indonesia," jelasnya.

Konsep pengembangan EBT bersasis hibrid, sambung Airlangga, yaitu PLTS dan PLTA juga tergantung dari jumlah bendungan. Saat ini, Indonesia memiliki 244 bendungan. "Potensi PLTA yang masih dikembangkan yaitu, 398,41 MW yang mana pemanfaatan area ruang dan genangan waduk diizinkan melalui regulasi Peraturan Menteri PUPR No 6/2020," terangnya.

Dalam acara yang dihadiri langsung lebih dari 100 milenial Jakarta tersebut mengundang pembicara yakni Dimas Kaharudin, Direktur Operasi PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energy (PMSE) dan Daniel Sutanto dari PT Sembcorp Energy Indonesia.

Baca juga: Kementerian ESDM: Potensi PLTS Atap yang dapat dikembangkan 32,5 GW
Baca juga: WIKA dan Utomo SolaRUV kerja sama kembangkan PLTS terapung
Baca juga: PLTS terapung di Cirata berpotensi kurangi emisi karbon 214 ribu ton

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel