Satelit Telkom-3 Jatuh ke Bumi, Ini Penjelasan LAPAN

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Satelit Telkom-3 milik Telkom jatuh ke Bumi. Ini merupakan kali pertama benda jatuh antariksa berukuran besar milik Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengaku telah berkoordinasi dengan PT Telkom Indonesia, Tbk, Telkomsat, dan Roscosmos Rusia. Demikian menurut keterangan resmi LAPAN, Sabtu (6/2/2021).

Ikuti cerita dalam foto ini https://story.merdeka.com/2303605/volume-5

Dr. Rhorom Priyatikanto, peneliti LAPAN, menyebut sejak 30 Januari 2021, satelit itu telah mencapai ketinggian <200 km dan diperkirakan akan mengalami reentry pada 5 Februari 2021 antara pukul 14:30 WIB hingga 18:30 WIB.

Terdapat ketidakpastian dalam prediksi waktu jatuh karena objek jatuh secara tak terkendali sehingga orientasi satelit serta hambatan udara yang dialaminya dapat bervariasi.

"Besarnya hambatan atau pengereman menentukan waktu jatuhnya satelit," ucap Rhorom.

Lokasi Jatuh Masih Misteri

Rhorom menuturkan lokasi jatuh Satelit Telkom-3 belum dapat diprediksi dengan akurat.

Berdasarkan parameter orbit terbaru dengan epoch tanggal 4 Februari 2021 pukul 22:56 WIB, serta berdasarkan jendela waktu reentry yang disebutkan sebelumnya, perkiraan lokasi jatuh Satelit Telkom 3 adalah di sepanjang lintasan yang digambarkan pada peta di bawah ini.

Satelit Telkom-3 (COSPAR-ID 2012-044A, NORAD-ID 38744) merupakan satelit buatan ISS Reshetnev, Rusia berdasarkan pesanan PT Telkom Indonesia, Tbk.

Satelit tersebut diluncurkan pada tanggal 6 Agustus 2012 dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan, tetapi masalah teknis menyebabkannya gagal mencapai orbit.

Risiko Korban Jiwa

Jatuhnya Satelit Telkom-3 yang memiliki orbit dengan inklinasi 49,9° diperkirakan memiliki resiko korban jiwa yang amat rendah, yakni sekitar 1:140000.

Pertimbangan utama perkiraan resiko tersebut adalah distribusi populasi manusia di muka Bumi tahun 2021 serta inklinasi orbit Satelit Telkom-3.

Nilai resiko tersebut jauh di bawah ambang yang mengkhawatirkan, misalnya Amerika Serikat menggunakan ambang 1:10000.

Meski demikian, LAPAN terus melakukan pengecekan terhadap status objek serta bekoordinasi dengan PT Telkom Indonesia Tbk. dan Telkomsat terkait hal ini.

(Isk/Ysl)