Satgas Emergency Response Harus Diisi Ahli Siber

Merdeka.com - Merdeka.com - Pakar Keamanan Siber dari Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja
mengatakan pembentukan satgas Emergency Response diharapkan mampu diisi oleh orang-orang yang kompeten di bidang siber. Jika tidak, maka satgas ini tidak akan efektif.

"Maraknya kebocoran data adalah kulminasi dari ketidakkompetenan orang-orang yang selama ini ditugaskan untuk mengurusi masalahnya, nah kalau sekarang dibentuk satgas yang berisikan orang-orang yang sama bagaimana? Ini ibaratnya kejeblos lubang hitam dalam sekali, berkali-kali tanpa mau belajar dari kesalahan," ujar Ardi kepada Merdeka.com melalu pesan singkat, Selasa (13/9).

Menurutnya, dunia manajemen keamanan siber adalah dunia yang berbeda dari dunia kerja lainnya. Penyelesaian masalah-masalah siber tidak bisa dengan mengedepankan proses birokrasi. Hal ini karena berhadapan dengan perlombaan waktu, nasib, nyawa orang, dan kelangsungan hidup dunia usaha.

"Jadi lebih ke pola pikir kepemimpinan dan manajemen kelembagaannya," ujar dia.

Ia pun mengkritik Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dianggap kurang berperan dalam keamanan siber hingga bocornya data-data masyarakat.

"Badan pesawatnya ada tapi instrumen pesawat dan awaknya tidak siap menerbangkan pesawatnya. Masa dalam kurun 6 tahun perkembangannya seperti jalan di tempat? Sementara masalah-masalah siber itu kan muncul bak air bah dan bertubi dengan komplikasi yang beragam. Dan saya bilang bukan masalah di anggaran namun kemampuan manajerial mengelola sebuah organisasi yang agile," ungkap Ardi.

Sebelumnya, Menkominfo Johnny G. Plate mengungkapkan akan ada Emergency Response Team untuk menjaga tata kelola data yang baik di Indonesia, serta menjaga kepercayaan publik. Tim tersebut juga akan terdiri dari empat lembaga yang sudah disebutkan sebelumnya, di mana mereka akan melakukan assessment berikutnya. [faz]