Satgas IDI: Risiko penularan COVID-19 di Indonesia sangat rendah

Ketua Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan risiko penularan COVID-19 di Indonesia saat ini sudah sangat rendah jika dibandingkan dengan situasi di beberapa negara lain.

"Jadi data Indonesia dibandingkan dengan data luar negeri, Indonesia amat sangat bagus. Indonesia rangking dunia nomor 40 lebih, rumah sakitnya sepi, positivity rate rendah banget di bawah 3 persen, yang divaksinasi semakin banyak," kata Zubairi Djoerban yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan situasi itu, Zubairi menyebut bahwa risiko penularan COVID-19 di Indonesia saat ini sudah rendah sekali. Tapi masyarakat diimbau untuk tidak jumawa dan tetap berhati-hati.

Ia mengatakan per 5 Juni 2022 jumlah kasus baru Indonesia mencapai 388 orang dengan lima orang meninggal. "Artinya, setiap hari pada bulan Juni itu jumlah kasus di atas 300 tapi di bawah 400. Jadi memang relatif agak naik sedikit dari dari bulan Mei 2022. Kemudian Indonesia juga pernah 100 kasus baru," katanya.

Jika dibandingkan dengan situasi di luar negeri, kata Zubairi, Korea Utara bisa menembus 600.000 kasus dalam sepekan atau setara rata-rata 90.000 kasus baru sehari. Amerika Serikat di atas 70.000 kasus baru per hari.

Baca juga: 12 provinsi tanpa kasus baru COVID-19 pada Selasa

Baca juga: Provinsi Riau Level 1 kasus COVID-19

Secara terpisah, Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengemukakan sejumlah alasan mengapa dunia masih berstatus pandemi hingga saat ini.

"Perlu ketahui bahwa sampai sekarang dunia masih dalam status pandemi, sebagaimana juga disampaikan Direktur Jenderal WHO pada acara pembukaan World Health Assembly 22 Mei 2022 di Jenewa," katanya.

Pertama, sampai akhir Mei 2022 masih ada sekitar 70 negara di dunia yang kasusnya masih meningkat. "Padahal kita tahu prinsip dasarnya, no one is safe until everyone is safe, dan 70 negara adalah sekitar sepertiga dari jumlah negara di dunia," katanya.

Kedua, jumlah tes di dunia jauh menurun, sehingga sulit untuk melihat gambaran epidemiologi yang sebenarnya, kata Tjandra.

Situasi itu perlu jadi perhatian di Indonesia, sebab jumlah tes tetap harus terjaga. "Saya lihat di New York di mana-mana ada tenda tempat orang bisa test COVID-19 tanpa bayar," katanya.

Baca juga: Epidemiolog: Tahun ketiga pandemi, pelacakan COVID-19 dunia turun

Baca juga: Dunia semakin rawan akan wabah dan virus

Ketiga, menurut Tjandra, dari pengalaman pandemi selama dua tahun lebih maka virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 terkadang tidak bisa diduga. "Kita belum dapat mengetahui secara pasti bagaimana perkembangannya di masa datang," ujarnya.

Keempat, kata Tjandra, sampai Mei 2022 baru ada 57 negara yang sudah memvaksinasi 70 persen populasi penduduk, bahkan ada yang lebih. Semua adalah negara dengan penghasilan tinggi.

"Angka 70 persen dihitung berdasar jumlah total penduduk, bukan berdasar target, sehingga Indonesia pun kalau jumlah yang divaksin dibagi jumlah penduduk, maka angkanya masih di bawah 70 persen, walau kalau dibagi dengan angka target maka memang sudah di atas 70 persen," ujarnya.

Penjelasan kelima tentang pandemi masih ada, kata Tjandra, adalah faktor transmisi yang masih meningkat. "Artinya, jumlah kematian masih tetap ada dan potensi varian baru dapat saja terbentuk," katanya.

Baca juga: Reisa minta masyarakat tak salah artikan kebijakan pelonggaran masker

Baca juga: Reisa: Ajang internasional jadi pembuktian RI hadapi pandemi COVID-19

Baca juga: Reisa: Perlindungan anak dari wabah tergantung lingkungan dan vaksin

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel