Satgas Pangan Polri Belum Temukan Penimbunan Kedelai

Agus Rahmat, Ahmad Farhan Faris
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menyusul harga kedelai yang melambung dan berimbas pada produk turunannya seperti tempe, Satgas Pangan diterjunkan untuk menyelidiki dugaan penimbunan. Mengingat harga di pasaran tinggi lantaran kedelai langka.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan Satgas Pangan belum menemukan adanya pelanggaran terkait penimbunan kedelai setelah terjadi kenaikan harga kedelai nasional.

“Mungkin ada kecurigaan dari masyarakat atau ada penimbunan segala macam. Satgas Pangan belum menemukan pelanggaran terkait itu,” kata Ramadhan di Mabes Polri pada Rabu, 6 Januari 2021.

Baca juga: Konsep AKHLAK, Cara Erick Thohir Dorong BUMN Mendunia

Menurut dia, hasil pengecekan di 3 lokasi didapati fakta kenapa harga naik. Kenaikan harga kedelai disebabkan harga beli dari negara asal juga mengalami kenaikan, yaitu sebelumnya Rp6.800 menjadi Rp8.300.

Selain itu, kata Argo, penyebabnya juga adanya hambatan dalam distribusi. Sejak pertengahan Oktober-Desember 2020, kapal yang langsung tujuan Indonesia sangat jarang sehingga menggunakan angkutan tujuan Singapura. Itu saja sering terjadi keterlambatan karena menunggu waktu dalam konekting ke Indonesia.

“Hal ini yang menyebabkan keterlambatan antara 2 sampai 3 minggu untuk sampai ke Indonesia,” ujarnya.

Makanya, Argo mengatakan Polri merespon fenomena melonjaknya harga kedelai yang berimbas pada meningkatnya harga jual tempe dan tahu di pasaran. Caranya, Satgas Pangan melakukan sidak ke gudang importir pada 5 Januari 2021.

Yakni gudang yang berada di Bekasi PT. Segitiga Agro Mandiri, kemudian, PT. FKS Mitra Agro di Jalan otonomi Pasar Kemis Pasir Jaya, Cikupa Tangerang, dan PT. Sungai Budi di Jalan Daan Mogot KM 18,5 Poris Gaga Kecamatan Batu Ceper, Kota Tangerang, Banten.

Sementara, Ramadhan mengatakan total kebutuhan kedelai secara nasional sebanyak 3.130.495 ton. Jumlah tersebut digunakan untuk pemenuhan industri sebanyak 3.092.351 ton; konsumsi tahu dan tempe sebanyak 13.480 ton; benih sebanyak 9.858 ton; dan kemungkinan hilang/tercecer sebanyak 14.806 ton.

Kemudian, pemenuhan kacang kedelai dari dalam negeri atau lokal sebanyak 296.124 ton. Jumlah itu dinilai tidak dapat mencukupi kebutuhan nasional, maka perlu dukungan pemenuhan kedelai melalui impor sebanyak 3.180.916 ton.

"Situasi saat ini diperkirakan ketersediaan kedelai yang ada sebanyak 411.975 ton, sedangkan stok yang ada di importir sebanyak 200 ribu dan 250 ribu posisi masih berada di Singapura menunggu keberangkatan," tandasnya.