Satgas: Penerapan prokes kunci agar kasus COVID-19 tetap rendah

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 mengingatkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan merupakan kunci utama agar jumlah kasus COVID-19 di Tanah Air tetap rendah.

"Masyarakat perlu tetap menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memakai masker, menjaga jarak, serta rajin mencuci tangan sebagai kunci untuk menekan kasus agar tetap rendah," kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Indonesia yang diakses secara daring dari Jakarta, Kamis.

Ia menegaskan bahwa pandemi belum selesai, sehingga masyarakat perlu menerapkan tanggung jawab pribadi serta kolektif dalam menjaga kesehatan.

"Tanggung jawab pribadi yaitu contohnya taat pada protokol kesehatan, tidur dan istirahat yang cukup, aktif melakukan olahraga, mengonsumsi makanan sehat, dan tetap bahagia," katanya.

Tanggung jawab kolektif, kata dia, melengkapi diri dengan vaksinasi guna menciptakan kekebalan kelompok, taat pada kebijakan pemerintah, dan mengedepankan semangat gotong royong.

"Disiplin menerapkan tanggung jawab pribadi serta kolektif akan menghasilkan lapisan perlindungan yang kuat dan tidak tertembus sehingga dapat mempercepat langkah Indonesia menuju endemi," katanya.

Baca juga: Kemenkes: 24 negara sudah laporkan kasus COVID-19 dengan varian XBB

Wiku mengatakan bahwa per tanggal 23 Oktober 2022, jumlah penambahan kasus positif dalam satu minggu di tingkat dunia mencapai 2,98 juta orang.

"Kemunculan COVID-19 subvarian XBB di beberapa negara di dunia diprediksi akan menjadi subvarian penyebab kembalinya lonjakan kasus," katanya.

Subvarian XBB, kata dia, telah meningkat jumlahnya secara signifikan di Kanada, Inggris, Amerika Serikat, Australia dan Denmark, serta beberapa negara di Asia, seperti Singapura, Bangladesh, India, dan Jepang.

"Berbagai ahli di Amerika Serikat maupun WHO menyebutkan bahwa subvarian XBB bisa memicu lonjakan kasus di akhir tahun dan puncaknya di bulan Januari 2023, namun belum ada bukti bahwa subvarian ini lebih berbahaya secara klinis dari varian atau subvarian sebelumnya," katanya.

Di beberapa negara, katanya, kasus varian XBB juga dilaporkan bergejala ringan dan lebih cepat untuk pulih.

Di Indonesia, kata dia, Kementerian Kesehatan sudah mengumumkan terdapat empat kasus subvarian XBB.

"Kenaikan kasus belum dapat ditentukan apakah merupakan akibat dari subvarian XBB namun ancaman varian baru tetap ada di tengah kasus yang relatif rendah sehingga penerapan prokes dan vaksinasi perlu terus diperkuat," demikian Wiku Adisasmito.

Baca juga: Epidemiolog: Sadari tingkat risiko infeksi COVID-19 pada diri sendiri
Baca juga: Pakar ingatkan RI untuk tak remehkan XBB akibat kematian yang rendah
Baca juga: Reisa: Varian XBB lebih cepat menular dibanding BA.5 dan BA.2