Satgas Tinombala Dinilai Belum Berdaya Mengatasi Kelompok Teroris MIT

Mohammad Arief Hidayat, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Operasi Tinombala telah tiga kali diperpanjang tahun ini dengan target menyelesaikan kelompok teroris MIT di Sulawesi Tengah.

Masa tugas satgas ini seharusnya berakhir pada 30 September lalu, tapi diperpanjang hingga 31 Desember karena masih ada 13 orang kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora yang menjadi DPO (Daftar Pencarian Orang)

Dari antara DPO itulah yang diklaim polisi sebagai pelaku dalam kejadian Jumat (27/11) yang menewaskan empat orang dalam satu keluarga di Dusun Tokelemo, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Hingga Sabtu (28/11) malam warga di lokasi kejadian masih mengungsi di masjid dan gereja dan aparat kepolisian masih berjaga. Aparat yang tergabung dalam Operasi Tinombala disebut tengah mengejar terduga pelaku.

Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdul Rakhman Baso kepada Eddy Djunaedi, wartawan di Sulawesi Tengah yang melaporkan untuk BBC Indonesia menjelaskan dalam kejadian itu empat orang yang terdiri dari pasangan suami istri, anak, dan menantunya tewas dalam kondisi mengenaskan.

Jenazah korban telah dimakamkan di desa tempat mereka tinggal.

Berdasarkan keterangan saksi yang dikumpulkan polisi, pada hari Jumat (27/11) sekitar pukul 09.00 WITA datang delapan orang tidak dikenal di lokasi transmigrasi itu. Mereka langsung memasuki rumah korban dan menganiaya, menyebabkan keempat orang korban meninggal. Selain itu ada enam rumah yang dibakar. Terdapat sembilan KK atau sekitar 50 orang dari berbagai suku yang tinggal di lokasi itu.

"Saya luruskan tidak ada gereja yang dibakar. Bukan gereja. Hanya ada satu rumah yang kadang dipakai untuk melayani umat," kata Kapolda.

Orang tak dikenal ini, disebut Rakhman, mengambil 40 kg beras dan membakar kendaraan bermotor.

Kepada para saksi, polisi kemudian memperlihatkan foto para DPO teroris MIT, salah satunya Ali Kalora yang disebut sebagai pimpinan MIT. Menurut Rakhman, saksi kemudian membenarkan. "Sehingga kita menjustifikasi, bahwa pelaku adalah benar kelompok Ali Kalora," katanya

Apa motifnya?

Dalam wawancara melalui hubungan telepon, Rakhman menjelaskan keluarga yang menjadi korban tidak memiliki perselisihan apa pun dengan kelompok MIT sebelumnya. Saat terjadi penganiayaan yang akhirnya menewaskan mereka juga tidak ada kata-kata apapun.

Rakhman mengatakan,"Prediksi kita kejadian ini merupakan balas dendam karena pada 17 November lalu kami melumpuhkan dua orang dari kelompok mereka yang selama ini masuk dalam daftar DPO."

Operasi Tinombala telah tiga kali diperpanjang tahun ini dengan target menyelesaikan kelompok teroris MIT. Masa tugas satgas ini seharusnya berakhir pada 30 September lalu, tapi diperpanjang hingga 31 Desember karena masih ada 13 orang kelompok Ali Kalora yang menjadi DPO.

Ali Kalora adalah `petinggi` yang tersisa dari kelompok militan Islam yang berbasis di Poso, Sulawesi Tengah, semenjak Santoso alias Abu Wardah tewas dalam penyergapan aparat keamanan pada 2016.

ali kalora, teroris, poso
Ali Kalora alias Ali Ahmad, sebelah kiri adalah foto lamanya, dan sebelah kanan adalah foto barunya

Dia juga ditunjuk sebagai pemimpin kelompok itu menyusul diringkusnya pentolan kelompok Muhajidin Indonesia Timur (MIT) Basri alias Bagong, di tahun yang sama.

Mantan deklarator Perdamaian Malino, Pendeta Rinaldy Damanik, dalam keterangan tertulisnya pada Sabtu (28/11) mengatakan jika benar pelaku adalah kelompok MIT, ia menyimpulkan Satuan Tugas (Satgas) Tinombala belum berdaya untuk mengatasi kelompok tersebut.

Dalam rilisnya Pendeta Damanik meminta agar Satgas Tinombala bekerja lebih berani dan profesional. Karena keamanan, kedamaian, kesejahteraan, hubungan harmonis antarumat beragama dan kesatuan bangsa harus menjadi yang utama.

Pada Sabtu (28/11) Pimpinan Pusat Gereja Bala Keselamatan menggelar jumpa pers dan menyebar rilis, meminta jemaatnya tetap tenang serta waspada. Masyarakat diharap tidak menyebarkan informasi ataupun gambar yang tidak benar/tidak layak agar tidak menimbulkan keresahan. atas kejadian yang menewaskan satu keluarga itu.

Terkait kejadian ini, ormas Islam Sulawesi Tengah PB Alkhairaat dalam rilis tertulisnya juga mengimbau masyarakat tidak tersulut emosi dan tidak mudah terprovokasi.