Satgas Yogya Sebut Sumber Penularan COVID-19 Kian Sulit Ditelusuri

·Bacaan 2 menit

VIVA – Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta menyebut meningkatnya jumlah kasus yang signifikan selama tiga pekan terakhir menyebabkan sumber penularan kasus di kota itu makin sulit ditelusuri.

“Orang tidak lagi dapat memastikan terpapar dari mana atau saat apa. Pekerja di kantor menularkan di rumah atau dari rumah menularkan ke kantor. Itu artinya, tingkat paparannya cukup tinggi dan harus diwaspadai,” kata Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Jumat, 2 Juli 2021.

Karena itu, menurutnya, diperlukan upaya untuk memastikan agar penularan dapat dikendalikan termasuk memastikan agar tidak terjadi penularan ke kelompok masyarakat berisiko tinggi seperti lansia dan anak-anak.

Pemerintah memutuskan untuk melaksanakan PPKM Darurat di Jawa dan Bali pada 3-20 Juli 2021 sebagai upaya pengendalian penularan COVID-19.

Heroe, yang juga menjabat Wakil Wali Kota Yogyakarta, memastikan daerah setempat siap menjalankan ketentuan itu. Bagi Pemerintah Kota Yogyakarta, pelaksanaan PPKM Darurat yang akan berlangsung selama 17 hari adalah bagian dari operasi kemanusiaan untuk menyelamatkan seluruh warga.

“Prioritas kami saat ini adalah pada kesehatan warga. Dan harapannya setelah 17 hari melakukan pengetatan dan pembatasan, maka kasus bisa diturunkan,” katanya.

Heroe berharap, seluruh masyarakat di Kota Yogyakarta mendukung pelaksanaan PPKM Darurat secara disiplin sehingga tujuan untuk peningkatan kondisi kesehatan bisa diwujudkan untuk kemudian secara perlahan-lahan bisa memulihkan kondisi ekonomi.

Pengampu kepentingan di wilayah, baik kelurahan dan kecamatan juga diminta untuk memastikan PPKM Darurat bisa berjalan dengan baik di wilayah masing-masing.

Meluasnya penularan COVID-19 di Kota Yogyakarta juga bisa dilihat dari status zona risiko di tiap Rukun Tetangga (RT) sesuai aturan PPKM Mikro.

RT yang masuk zona hijau atau bebas COVID-19 di Yogyakarta bisa mencapai sekitar 95 persen tetapi saat ini berkurang menjadi 77 persen, sedangkan secara epidemiologi Kota Yogyakarta masuk dalam kategori zona merah atau risiko penularan tinggi.

Mengenai dukungan anggaran dalam penanganan COVID-19, Heroe memastikan bahwa APBD Kota Yogyakarta sudah didesain agar bisa menyesuaikan dinamika atau perkembangan pandemi di Kota Yogyakarta.

“Kondisi penularan saat ini memang meningkat sangat cepat dan di luar perkiraan kami. Tetapi, APBD tetap bisa mendukung karena sudah diskenariokan untuk mengatasi pandemi. Misalnya dengan realokasi untuk kebutuhan mendesak,” katanya.

Hingga Kamis (1/7) kasus aktif COVID-19 di Yogyakarta tercatat sebanyak 2.306 kasus dengan 2.301 pasien menjalani isolasi dan lima menjalani rawat inap di rumah sakit. (ant)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel