Satroni SD, Empat Pencuri di Ciamis Bawa Kabur Buku-Buku

Merdeka.com - Merdeka.com - Empat pencuri satroni sejumlah sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Mereka mencuri buku yang tersimpan di sekolah tersebut. Keempat pelaku akhirnya ditangkap. Dari empat orang yang ditangkap, salah satunya diketahui masih di bawah umur.

Kapolres Ciamis AKBP Tony Prasetyo Yudhangkoro menjelaskan, ditangkapnya keempat pelaku berawal dari masuknya empat laporan kasus pencurian di beberapa sekolah di wilayah hukumnya.

Keempat orang pelaku pencurian yang ditangkap berinisial TT (35), AH (22), R (19) dan satu lagi anak di bawah umur.

"Tersangka ada empat, di mana salah satunya masih berusia anak," jelas Tony.

Untuk pelaku anak di bawah umur, sudah dititipkan di salah satu yayasan sosial di Kabupaten Pangandaran. Sedangkan tiga lainnya, saat ini sudah ditahan di Polres Ciamis untuk diproses lebih lanjut.

Adapun hasil penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan, diungkapkan Tony ada empat sekolah yang menjadi sasaran para pelaku. pertama, aksi pencurian dilakukan di SDN 01 Rawa, Kecamatan Lumbung, Kabupaten Ciamis pada 31 Oktober 2022.

Setelah merasa aksinya berhasil di lokasi tersebut, mereka kemudian mengulang aksinya di SDN 1 Bojonggedang, Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis pada 9 November 2022, dilanjut lagi aksinya pada 14 November 2022, dan terakhir di MI Hegarmanah, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, pada 15 November 2022.

"Kejahatan ini sudah dilakukan di empat sekolah di Panjalu, Lumbung dan Rancah. Para tersangka itu melakukan pencurian dengan cara merusak gerbang sekolah dan masuk melalui pintu perpustakaan. Aksi dilakukan pada malam hari," ungkap Tony.

Para pelaku mengambil buku-buku hingga satu set kendang rampak. Dari seluruh aksi para pelaku, jumlah kerugian diperkirakan mencapai Rp100 juta.

Polisi menyita barang bukti berupa enam karung buku dan satu set kendak rampak. Barang bukti lainnya adalah satu unit mobil berikut STNK, gunting dan tang yang digunakan dalam aksi empat pelaku. Para pelaku dijerat pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman kurungan penjara maksimal 7 tahun.

"Yang jelas, dari hasil kejahatan berupa buku hampir tujuh kwintal sudah berhasil dijual (secara) kiloan," pungkasnya. [cob]