Satu Dosis Vaksin Johnson & Johnson, Antibodinya Tahan 8 Bulan

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Vaksin Covid-19 Johnson & Johnson sedang ramai dibahas lagi karena kekuatannya hanya dalam satu dosis atau sekali suntikan. Apalagi vaksin Covid-19 yang berasal dari Amerika Serikat itu segera masuk Indonesia bulan September 2021.

Melansir dari Liputan6.com, data tersebut diterbitkan J&J di New England Journal of Medicine pada Juli 2021. Yang menunjukkan antibodi penetral yang dihasilkan vaksinnya tetap stabil dalam delapan bulan setelah imunisasi dengan dosis tunggal.

Terbaru, Johnson & Johnson menyebutkan jika suntikan booster atau dosis ke-2 vaksinnya dapat meningkatkan kadar antibodi secara drastis. Berdasarkan data sementara dari dua uji coba tahap awal, diperoleh bukti jika dosis ke-2 vaksin Covid-19 Johnson & Johnson memberikan antibodi sembilan kali lebih tinggi dalam 28 hari setelah menerima dosis pertama.

Perusahaan Johnson & Johnson lewat keterangan persnya juga, menjelaskan, tidak seperti antibodi penawar yang menghancurkan virus, antibodi pengikat menempel pada virus tetapi tidak menghancurkannya atau mencegah infeksi. Sebaliknya, mereka bertugas memeringatkan sistem kekebalan akan kehadirannya sehingga sel darah putih dapat dikirim untuk menghancurkannya.

Sebelumnya Tidak Ada Bukti tentang Efek Dosis Booster Vaksin Johnson & Johnson

Penasihat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), telah menunggu kabar tentang bagaimana individu dengan gangguan kekebalan yang menerima suntikan vaksin Johnson & Johnson.

Menurut perusahaan Johnson & Johnson, penelitian menunjukkan bahwa peningkatan signifikan dalam respons antibodi pengikatan pada peserta berusia 18 hingga 55 dan pada individu berusia 65 ke atas yang menerima dosis booster yang lebih rendah.

Ringkasan studi tersebut, seperti dikutip dari situs Al-Jazeera pada Jumat, 27 Agustus 2021, sedang dikirimkan ke server pracetak MedRxiv sebelum tahap peer review.

Menurut Juru Bicara Perusahaan Johnson & Johnson, hasil tersebut akan tersedia dalam beberapa minggu ke depan.

“Dengan data baru ini, kami juga melihat bahwa dosis booster vaksin Johnson & Johnson semakin meningkatkan respons antibodi di antara peserta penelitian yang sebelumnya telah menerima vaksin kami,” kata Kepala Penelitian dan Pengembangan di Divisi Farmasi Janssen J&J, Mathai Mammen, dalam sebuah pernyataan.

“Kami berharap dapat berdiskusi dengan pejabat kesehatan masyarakat tentang strategi potensial untuk vaksin Johnson & Johnson kami, meningkat delapan bulan atau lebih setelah vaksinasi dosis tunggal utama," lanjutnya.

Kekhawatiran dari Para Peneliti

Beberapa ilmuwan telah mengemukakan kekhawatiran bahwa individu yang mendapatkan suntikan Johnson & Johnson akan membutuhkan booster.

Satu studi tim dari Universitas New York menemukan 'fraksi signifikan' sampel darah dari penerima yang mendapat suntikan J&J memiliki antibodi penetral rendah terhadap varian Delta dan beberapa varian virus Corona lainnya.

J&J mengatakan bahwa perusahaan bekerja sama dengan CDC, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, Badan Obat Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia, dan otoritas kesehatan lainnya untuk memberikan suntikan booster.

#Elevate Women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel