Satu Keluarga Positif COVID-19, Awalnya Istri Radang Tenggorokan

Lutfi Dwi Puji Astuti, Isra Berlian
·Bacaan 4 menit

VIVA – Penyitas virus corona, Stevanus Grandy Budiawan menceritakan pengalamannya ketika satu keluarga dinyatakan positif COVID-19. Stefanus dan keluarga diketahui dinyatakan positif COVID-19 sehari setelah sang istri dinyatakan positif.

Dijelaskannya, kejadian itu terjadi pada akhir Juni 2020 lalu. Selang beberapa hari kembali menjalani pekerjaan di kantor, sang istri menunjukkan gejala demam dan radang tenggorokan. Melihat hal tersebut dia membawa sang istri ke dokter, dan awalnya didiagnosa radang tenggorokan.

"Setelah beberapa minggu kerja lagi usai PSBB, istri saya menunjukkan gejala radang tenggorokan, dan demam suhu 38,5 derajat. Esok hari ke dokter langganan diperiksa di sana, awal diagnosa radang di minta istirahat," kata dia dalam Dialog Produktif Vaksin: Intervensi Kesehatan Masyarakat yang Efektif dan Aman yang disiarkan secara streaming di YoTube Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Selasa 3 November 2020.

Lebih lanjut, usai menjalani istirahat yang cukup. Sang istri kembali bekerja, namun karena sempat menunjukkan gejala demam dan radang, pihak perusahaan tempat bekerja istrinya meminta hasil swab test.

"Diminta swab sebelum kembali ke kantor, Sabtu pagi swab dan hasilnya keluar keesokan harinya dan positif. Minggu saya dan dua anak swab hasilnya Senin, kami dinyatakan positif," jelas Stevanus.

Dijelaskannya, dia sekeluarga sudah mengantisipasi kemungkinan akan dinyatakan positif. Mengingat saat itu dia menemukan gejala pada sang istri yang dicurigai COVID-19.

"Satu gejala yang buat kami kelihatan COVID-19 adalah hilangnya indra penciuman. Kesaharian (indra penciumannya kuat). Kami ngerasa setidaknya sudah mengantisipasi dan siap mental. Meski kaget sih kaget dengernya, tapi sudah diantisipasi," jelas dia.

Ketika dirinya dan sekeluarga terkonfirmasi positif COVID-19 sekelurga, dia kemudian menghubungi pihak RT dan RW serta petugas kesehatan puskesmas di lingkungan rumahnya. Dia juga selalu menerapkan sikap positif dalam menghadapi situasi tersebut.

"Dan yang penting bersikap positif, buat saya ada pertanyaan kemarin-kemarin enggak saya jawab. Kena dimana? Kok bisa? Itu enggak perlu dijawab tapi kita fokus ke depannya harus gimana," kata dia.

Sempat didatangi oleh pihak pusekesmas setempat untuk dirawat di rumah sakit, lantaran memiliki penyakit komorbid gangguan jantung dan darah tinggi. Namun, dia memilih untuk melakukan isolasi mandiri di rumah bersama istri dan kedua anaknya.

"Tapi saya bilang saya ngerasa sehat jadi milih isolasi mandiri di rumah. Selain itu juga, kita bisa take care satu sama lain dan lebih tenang tau istri anak di sekeliling," jelas dia.

Selama menjalani isolasi mandiri selama dua pekan di rumah Stevanus dan keluarga juga merasa bersyukur. Lantaran seluruh tetangga di sekitar rumahnya sangat supportif membantunya. Dia sekeluarga mendapatkan pasokan sayur dari tetangga sekitarnya.

"Kemarin kebetulan tetangga di sini luar biasa. Saya pasien pertama di komplek kami. Yang disyukuri dukungan tetangga luar biasa, bahan makanan kita tidak kekurangan meski gak ke luar rumah. Susu kaleng buah, telur termasuk sayur dapat suplai dan kita masak sendiri," jelas dia.

Selama menjalani isolasi mandiri Stevanus sekeluarga juga melakukan konsultasi dengan sejumlah dokter.

"Sepanjang 14 hari sekitar 4-5 kali konsultasi termasuk dengan pihak puskesmas. Saya akan konsul spesifik kalau ada keluhan tambahan yang dirasakan," jelas dia.

Selama 14 hari masa isolasi tersebut, Stevanus dan keluarga mengonsumsi sejumlah makanan yang bergizi dan seimbang, mengonsumsi vitamin dan rajin berjemur di bawah sinar matahari. Dan yang terpenting kata dia, harus memiliki mindset yang positif.

"Penting, positif mindset, kita jalani sama-sama. Bukan hanya kita saja yang kena tapi seluruh dunia, dan banyak yang care jadi kita jalani sama-sama saja," jelas dia.

Usai menjalani 14 hari masa isolasi mandiri, dia bersama keluarganya kemudian menjalani swab test kembali. Dari tes tersebut diketahui dia dan keluarga dinyatakan negatif COVID-19. Meski begitu, diakuinya usai dinyatakan negatif dia bersama istri dan kedua anaknya menjalani dua pekan isolasi untuk memastikan keamanan semua pihak.

"Dari 14 hari swab kami negatif, kami perpanjang selama 2 minggu recovery. Setelah itu kembali ke kegiatan semula," jelas dia.

Meski sudah dinyatakan negatif, diakui Stevanus merasa bersyukur. Dia bersama dengan keluarganya juga selalu saling mengingatkan untuk menaati protokol kesehatan dengan ketat.

"Buat kami yang sudah punya pengalaman kami sudah tahu apa yang terjadi. Jadi, jangan sampai ini terjadi kembali. Prinsipnya kehati-hatian tidak boleh gak jaga protokol kesehatan. Anggap semua orang termasuk kita OTG," jelas dia.

Seperti diketahui saat ini jumlah kasus COVID-19 masih tinggi. Untuk itu, patuhi selalu protokol kesehatan dan selalu jalani 3M: Memakai masker, Menjaga Jarak, serta Mencuci tangan pakai sabun.

#satgascovid19
#pakaimasker
#jagajarak
#ingatpesanibu
#cucitanganpakaisabun