Satu Miliar Tahun Lagi Oksigen akan Lenyap dari Bumi

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Studi baru Nature Geoscience melaporkan jika Bumi, yang kaya oksigen di atmosfer, hanya mampu bertahan dan menopang kehidupan sekitar satu miliar tahun lagi. Seiring bertambahnya usia Matahari yang membuatnya lebih bercahaya membuat Bumi akan menerima lebih banyak energi di masa depan.

Nah, peningkatan energi ini akan mempercepat pelapukan batuan silikat seperti basal dan granit di permukaan planet satu-satunya yang bisa dihuni manusia. Ketika batuan ini mengalami perubahan iklim, maka gas rumah kaca karbondioksida ditarik keluar dari atmosfer melalui reaksi kimia yang terkunci dalam mineral karbonat.

Baca: Ada yang Lebih Dalam dari Inti Bumi

Secara teori, Bumi seharusnya mulai mendingin saat tingkat karbondioksida turun. Akan tetapi, dalam kurun waktu dua miliar tahun efek ini akan terganti oleh peristiwa Matahari yang terus-menerus memancarkan sinarnya, seperti dikutip dari situs Space, Senin, 8 Maret 2021.

Air dan karbondioksida merupakan salah satu bahan utama yang dibutuhkan tanaman untuk melakukan fotosintesis. Tapi, kemungkinan fotosintesis tidak akan sukses di banyak tanaman, dan bahkan bisa membuatnya mati pada saat itu.

Meski begitu, lebih sedikit fotosintesis akan menyebabkan lebih sedikit pula produksi oksigen, sehingga secara bertahap konsentrasi oksigen di atmosfer akan turun dan menciptakan krisis untuk kehidupan lainnya di masa depan.

Para peneliti Jepang dan Amerika Serikat (AS) menggunakan simulasi komputer untuk memodelkan evolusi masa depan dari siklus karbon, oksigen, fosfor, dan belerang di permukaan Bumi. Mereka juga mempertimbangkan evolusi iklim dan bagaimana permukaan Bumi berinteraksi dengan interior planet atau mantel Bumi.

Mereka memodelkan dua skenario, yakni planet mirip Bumi dengan biosfer aktif dan planet tanpa biosfer aktif. Menariknya lagi, kedua skenario tersebut menghasilkan hasil yang sangat mirip, di mana kadar oksigen akan turun drastis pada satu miliar tahun mendatang.

Penemuan ini menunjukkan bahwa meskipun penurunan tingkat karbondioksida dan fotosintesis tanaman mempengaruhi tingkat oksigen tetapi efek proses ini menjadi yang kedua dari interaksi jangka panjang antara mantel dan lingkungan permukaan Bumi.

Keseimbangan antara geokimia yang memasuki mantel Bumi selama subduksi dan gas mana yang dipancarkan dari mantel melalui gunung berapi tampaknya akam mempengaruhi berapa lama atmosfer Bumi akan tetap kaya oksigen.