Satu Tahun Kondisi Wuhan Saat Virus Pertama COVID-19 Ditemukan

Rochimawati, Isra Berlian
·Bacaan 3 menit

VIVA – Tepat satu tahun wabah COVID-19 melanda dunia, wabah ini diyakini bermula dari China. Kasus pertama COVID-19 selama ini dikaitkan dengan pasar basah di Wuhan dan virus corona diduga berpindah dari hewan liar ke manusia.

Lalu bagaimana kondisi Wuhan saat ini pasca penemuan kasus pertama pada 2020 lalu? Duta Besar Indonesia untuk RRT dan Mongolia, Djauhari Oratmangun menjelaskan bahwa kondisi di Wuhan jauh lebih baik.

"Kondisi Wuhan jauh lebih kondusif dibanding Januari sampai April karena lockdown 2020. Kedisiplinan tetap diminta dipertahankan," kata dia, seperti dalam virtual conference yang ditayangkan di BNPB TV, Selasa 5 Januari 2021.

Dijelaskan Djauhari pemerintah di Wuhan baru merilis emergency materials untuk masyarakat yang terbagi menjadi tiga kategori.

Pertama kategori kebutuhan pokok sehari-hari harus terpenuhi, kedua produk pertolongan pertama dan perlengkapan darurat medis harus disimpan keluarga dan mengimbau penduduk buat persiapan jika ada wabah serius. Selain itu juga, masyarakat di sana disarankan untuk menyiapkan persediaan obat-obatan dan lain-lain.

Lebih lanjut Djauhari menjelaskan data hingga Senin malam 4 Januari 2021 waktu setempat total kasus COVID-19 di Tiongkok mencapai 96.972 Untuk kasus aktif positif COVID-19 di sana tercatat ada sebanyak 1.330 kasus, kasus meninggal mencapai 4.791 dan kasus sembuh tercatat mencapai 90.851.

"Per minggu 3 januari 2021 33 positif baru 1 di Beijing, 12 provinsi lain sudah terbebas dari pandemi," ujar dia.

Karena adanya kasus baru, kata dia pemerintah Tiongkok tingkat kedisiplinan di masyarakat ditingkatkan. Misalnya jika sebelumnya untuk Warga Negara Asing yang masuk ke Beijing harus menjalani karantina selama 14 hari, kini mereka harus menjalani karantina selama 28 hari. Selain itu, beberapa kegiatan atau event besar dianjurkan untuk ditunda sementara waktu.

"Karena ini menjelang libur tahun baru China diminta membatasi perjalanan terkait libur di Beijing karena ada kasus baru sebanyak 14 kasus sejak Desember di 2 distrik di Beijing. Sehingga ada pembatasan di sejumlah titik tapi tidak di lockdown, hanya saja tingkat kedisiplinan diminta lagi. Semua orang di jalan kembali memakai masker, pertemuan besar sementara ditunda," jelas dia.

WNI positif

Dalam kesempatan itu, Djauhari menjelaskan, adanya seorang WNI dinyatakan positif COVID-19. Kasus ini diketahui merupakan imported case.

"Khusus WNI di sini baru 1 yang terkena COVID-19 tapi WNI imported case dari Indonesia, jadi setelah melalui proses karantina di Fucho kemudian ke Beijing karena bekerja lalu terdeteksi ada beberapa yang terkena karena itu yang bersangkutan hubungi KBRI dan kita komunikasi dan dia statusnya OTG tidak merasa sakit ternyata positif," kata dia.

Saat ini, WNI tersebut sudah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit khusus penanganan COVID-19 terbaik di China. Sedangkan untuk WNI lainnya yang ada di sana khususnya di Beijing dalam keadaan sehat-sehat. Untuk kasus WNI yang meninggal akibat COVID-19 di Tiongkok hingga saat ini tercatat masih 0 kasus.

"WNI baik-baik dan sehat kita komunikasi terus setelah sebagian besar pulang ke Indonesia, sebagian besar mahasiswa mereka melanjutkan studi dengan online dari kota berada belum diizinkan untuk masuk kembali ke China untuk offline masih berproses khususnya untuk mereka yang akan berpraktik seperti Kedokteran, inovatif teknologi dan lain-lain," tuturnya.