Satu Tewas Bersimbah Darah Akibat Tawuran di Surabaya, 5 ABG Ditangkap

Aries Setiawan, Nur Faishal (Surabaya)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Aparat Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menangkap lima anak baru gede (ABG), tersangka penganiayaan yang menewaskan MR (16 tahun), warga Gembong, Kecamatan Simokerto. Kelima tersangka adalah bagian dari kelompok Team Gukgukguk, sementara korban dari kelompok All Star yang terlibat tawuran.

Kasus itu bermula ketika MR ditemukan tergeletak bersimbah darah di Jalan Tembaan, Kecamatan Bubutan, pada Jumat Subuh, 27 November 2020. Setelah diusut, ternyata MR adalah korban tawuran dua kelompok berbeda. Polisi pun mendalami hingga kemudian ditangkap lima tersangka dari kelompok Team Gukgukguk.

Kelima tersangka yang diamankan itu ialah AYH (21), LRA (18), RDC (18), dan dua tersangka lainnya masih di bawah umur, yakni R dan I. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa 15 motor, 2 pedang, 2 gergaji, batu paving, dua handphone, 2 celurit, 1 samurai, 4 potong kayu, 2 molotov dan 2 buah keris.

"Ada dua kelompok pemuda yang memang sudah ada konflik dan saling memberikan tantangan di medsos untuk tawuran. TKP-nya di Jalan Tembaan kawasan PGS (Pusat Grosir Surabaya). Dari tawuran itu satu kelompok ada yang terluka dan meninggal dunia," kata Wakil Kepala Polrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo, di Markas Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu, 2 Desember 2020.

Team Gukgukguk dan anggota geng Jawara kemudian berkumpul di markasnya geng Jawara di Lapangan Magersari. Sekira pukul 05.00 WIB, kelompok All Star yang berjumlah sekira 40 orang datang sambil membunyikan klakson sebagai tanda tawuran dimulai. "Geng TGGG dan Jawara langsung menyerbu geng All Star. Keduanya saling menyerbu," ujar Hartoyo.

Kelompok All Star terpukul mundur. Mereka mengegas sepeda motor yang ditunggangi. Celakanya, korban tak mampu mengendalikan laju motornya lalu terjatuh. Korban pun langsung diserbu oleh para tersangka dengan senjata tajam dan kayu hingga meninggal dunia. "Korban menderita 17 tusukan," tandas Hartoyo.

Ia mengatakan, tawuran di sekitar lokasi kejadian kerap terjadi. Polisi pun kerap melakukan patroli sebagai langkah antisipatif. Namun, kelompok-kelompok yang sering terlibat tawuran itu teramat licin sehingga luput dari pantauan aparat. "Mereka sering mengelabui petugas. Ini jam lima pagi kejadiannya, mereka menunggu petugas lengah," kata Hartoyo.